
Amanah tersebut bukan sekadar penempatan dalam struktur organisasi, tetapi menjadi bagian dari perjalanan khidmat dan pengabdian yang membawa semangat Ranah Minang ke panggung nasional.
Prof. Ganefri dikenal sebagai tokoh pendidikan dan akademisi yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan serta organisasi. Kiprahnya di Sumatera Barat, termasuk dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan dunia akademik, keumatan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Membawa Nilai Ranah Minang dalam Khidmat Kebangsaan
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) menjadi salah satu identitas penting masyarakat Minangkabau. Nilai tersebut menempatkan adat dan ajaran Islam dalam hubungan yang saling menguatkan sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat.
Semangat itu pula yang diharapkan terus mewarnai kiprah Prof. Ganefri dalam menjalankan amanah di tingkat nasional.
Kepemimpinan yang berakar pada kearifan lokal tidak berarti berhenti pada kepentingan daerah.
Sebaliknya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan kebangsaan yang menjunjung musyawarah, keseimbangan, penghormatan terhadap perbedaan, serta kemaslahatan bersama.
Dalam tradisi Minangkabau dikenal ungkapan “rasa dibawok naik, pareso dibawok turun”, sebuah pesan tentang pentingnya menjaga perasaan, kehati-hatian, pertimbangan, dan keadilan dalam mengambil sikap.
Nilai tersebut relevan dengan semangat khidmat organisasi yang mengedepankan kebersamaan dan kemaslahatan umat.
Menjadi Jembatan Aspirasi dari Ranah Minang
Kehadiran tokoh dari Sumatera Barat di jajaran PBNU juga membuka ruang yang lebih luas bagi penguatan silaturahmi antara warga NU di Ranah Minang dengan jaringan Nahdlatul Ulama di tingkat nasional.
Para ulama, kiai, santri, akademisi, serta warga Nahdliyin di Sumatera Barat tentu berharap amanah tersebut dapat menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan gagasan dari pelosok nagari ke tingkat nasional.
Lebih dari sekadar keterwakilan daerah, amanah ini diharapkan menjadi jembatan pengabdian yang mempertemukan kekayaan kearifan lokal dengan semangat kebangsaan.
Nilai tasamuh (toleransi), tawassuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), dan i‘tidal (keadilan) yang menjadi bagian dari nilai-nilai yang dikembangkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama dapat terus bersinergi dengan kearifan masyarakat Minangkabau.
Amanah Besar, Doa yang Mengiringi
Amanah di tingkat nasional tentu membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Dibutuhkan keteguhan, keluasan pandangan, serta kesediaan untuk terus mendengar aspirasi berbagai lapisan masyarakat.
Bagi warga Nahdliyin Sumatera Barat, amanah yang diemban Prof. Ganefri menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi sekaligus memperluas kontribusi Ranah Minang dalam perjalanan Nahdlatul Ulama dan kehidupan kebangsaan.
Doa dan harapan pun mengalir agar amanah tersebut dapat dijalankan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
(QS. An-Nisa: 58)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap amanah merupakan tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Selamat berkhidmat di tingkat nasional, Prof. H. Ganefri, Ph.D. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, petunjuk, dan keteguhan hati dalam menjalankan amanah.
Semoga khidmat dari Ranah Minang untuk Nahdlatul Ulama dan Indonesia terus membawa kemaslahatan, mempererat persaudaraan, serta menjaga marwah agama dan bangsa.
Dari Ranah Minang untuk Nahdlatul Ulama.
Dari kearifan lokal untuk kemaslahatan nasional.
Berkhidmat untuk umat, mengabdi untuk bangsa.
Oleh:
DR. H. Afrizen, S.Ag., M.Pd.
Bendahara DMI Sumbar
NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI
Pimpinan Redaksi Warta Global Jatim


.jpg)