
NGANJUK, Warta Global Jatim.id
29 September 2026 — Jejak peradaban masa lalu kembali terungkap di tanah Nganjuk. Dua struktur sumur kuno berbahan jobong terakota ditemukan warga di area galian tambang tradisional, tepian Sungai Brantas, Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Temuan ini diduga kuat merupakan peninggalan permukiman masa Kerajaan Majapahit.

Sumur-sumur kuno ini ditemukan berjarak sekitar 15 meter dari bibir Sungai Brantas, dengan jarak antar kedua sumur hanya sekitar 2,5 meter. Salah satu sumur masih berisi sumber air, sementara yang lain tertutup material tanah. Di lokasi tersebut juga terindikasi sedikitnya tiga jobong lain yang belum diangkat dari dalam tanah.

Warga telah mengangkat empat jobong ke permukaan: tiga di antaranya pecah, satu lainnya masih utuh. Struktur ini ditemukan pada kedalaman sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah.
Spesifikasi Jobong Terakota:
- Tinggi: 27 – 34 cm
- Diameter: ± 55 cm
- Ketebalan dinding: ± 3 cm
- Susunan,Diperkirakan mencapai 5 lapis berikut bibir atasnya
- Konteks: Ditemukan bersama fragmen bata kuno dan pecahan jobong lainnya
Amin Fuadi, Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk , menyatakan bentuk dan teknologi jobong ini mengarah pada dugaan peninggalan masa Majapahit, dengan rentang waktu abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.
"Dugaan sementara era Majapahit, yang memang memiliki teknologi jobong terakota. Mayoritas peninggalan seperti ini berasal dari periode abad ke-13 sampai ke-15." Ujar Amin
Temuan yang paling menarik perhatian adalah lapisan arang di dalam salah satu sumur yang terpendam. Arang tersebut diduga sengaja diletakkan sebagai media penyaring dan penjernih air bukti kecanggihan sistem pengelolaan air masyarakat kuno di tepian Brantas.
"Kita temukan arang yang bisa jadi sebagai media penjernih air."
Temuan ini memperkuat dugaan adanya jaringan permukiman kuno di sepanjang aliran Sungai Brantas. Jika dikaitkan dengan temuan di Banjarsari dan sekitarnya yang diduga merupakan perkampungan kaum elit, maka lokasi di Trayang ini kemungkinan besar adalah perkampungan di bagian pinggir yang turut mendukung kehidupan masyarakat masa Majapahit.
"Kalau dikaitkan dengan temuan-temuan lain di Banjarsari dan sekitarnya yang merupakan perkampungan kaum elit, lokasi ini bisa saja merupakan perkampungan di bagian pinggir."
Untuk mencegah kerusakan maupun hilangnya temuan berharga ini, tim bersama pemerintah desa telah menyusun langkah pengamanan:
1. Pengangkatan dan pendataan seluruh jobong yang masih tertanam
2. Penitipan sementara di Balai Desa Trayang dengan koordinasi perangkat desa
3. Pembuatan berita acara dan dokumentasi lengkap
4. Penyerahan ke museum untuk penelitian dan pelestarian jangka panjang
"Kita amankan dulu ke balai desa, koordinasi dengan perangkat desa setempat. Setelah itu kita buatkan berita acara, baru nanti dibawa ke museum." Tegasnya
Hingga Selasa sore (29/9), proses penggalian dan pendokumentasian masih berlangsung untuk menyelamatkan sisa temuan sekaligus merekam konteks arkeologis di lokasi tersebut.
Penemuan ini membuktikan bahwa Desa Trayang dan kawasan tepian Brantas Nganjuk bukanlah wilayah kosong pada masa lalu, melainkan bagian dari jaringan pemukiman Majapahit yang terorganisir dengan sistem pengelolaan air yang canggih lengkap dengan teknologi penjernihan air menggunakan arang. Ini bukan sekadar batu dan tanah, melainkan jejak kehidupan, kecerdasan, dan peradaban leluhur yang harus kita jaga.
"Tanah Nganjuk menyimpan banyak kisah yang belum terungkap. Setiap penemuan seperti ini adalah panggilan bagi kita untuk menghormati, menjaga, dan mempelajari warisan leluhur."tutup amin.(Tomo)


.jpg)