Watu Lawang Bukan Lahan Bisnis, Itu Warisan Leluhur Amanu, Tokoh Masyarakat Nganjuk - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Watu Lawang Bukan Lahan Bisnis, Itu Warisan Leluhur Amanu, Tokoh Masyarakat Nganjuk

Monday, 28 September 2026
Watu Lawang Bukan Lahan Bisnis, Itu Warisan Leluhur Amanu, Tokoh Masyarakat Nganjuk
 

JATIM Warta Global— Watu Lawang bagi warga Nganjuk bukan sekadar bukit berbatu di lereng Gunung Wilis. Di sana, jejak Mbah Ngliman tertanam dalam leluhur yang menempatkannya sebagai salah satu paku bumi yang menjaga keseimbangan alam dan masyarakat di wilayah ini. Kini, rencana pembangunan yang mengubah wajah kawasan itu memicu keprihatinan mendalam.
 
Dalam wawancara eksklusif dengan Warta Global, Amanu, tokoh masyarakat Nganjuk, menyampaikan perasaannya dengan tenang namun tegas.
 
 
Sejak dulu, Watu Lawang diuri-uri, dijaga, dan dihormati. Mbah Ngliman sendiri yang menjadikannya paku bumi Nganjuk. Sekarang? Atas nama kemajuan,jangan sampai dibangun kafe, tempat hiburan musik, penginapan semata-mata untuk menghasilkan uang. Dan siapa yang menikmati? Bukan rakyat banyak, tapi segelintir orang saja.
 
Apakah pantas tempat yang dulu dijadikan tempat bersemedi, tempat berdoa, dan dijaga kesuciannya oleh leluhur kita kini diubah menjadi tempat jualan, tempat musik, tempat hiburan? Di mana rasa hormat kita kepada mereka yang telah mendahului kita?"
 
Amanu menegaskan, penolakan warga bukan berarti menolak kemajuan.
 
"Kami tidak anti-pembangunan. Kami ingin Nganjuk maju. Tapi kemajuan itu tidak harus mengambil tempat yang sudah disakralkan oleh nenek moyang kita. Masih banyak lokasi lain, yang lebih cocok, yang tidak melanggar perasaan keagamaan dan kearifan lokal masyarakat.
 
Kekhawatirannya bertambah ketika membayangkan masa depan situs tersebut:
 
Bayangkan suatu hari nanti, kita warga Nganjuk sendiri yang ingin berziarah, mendoakan leluhur, sekadar menghormati tempat keramat itu harus membayar tiket masuk. Apakah itu yang kita sebut kemajuan? Menjual warisan leluhur dengan harga tiket?"
 
 
Di akhir perbincangan, Amanu menyampaikan pesan yang tulus:
 
Pembangunan itu mulia. Tapi membangun dengan cara menghancurkan warisan leluhur, itu bukan kemajuan itu kerugian yang tidak bisa dikembalikan. Hargai apa yang kita miliki. Karena suatu saat nanti, harta bisa habis, tapi kehormatan warisan leluhur itu yang abadi.(Iwantoro)