
NGANJUK, Warta Global Jatim.id
22 September 2026
Suasana haru dan khidmat menyelimuti Makam Mbah Ngliman, lokasi yang disakralkan oleh masyarakat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Selasa (22/9). Para sesepuh, tokoh agama, gabungan LSM, Aktifis Lingkungan Hidup Nganjuk, Budayawan dan warga berkumpul untuk melaksanakan munajat bersama sekaligus menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pembangunan wisata dan penginapan di kawasan Watu Lawang yang diinisiasi oleh PT Dan Home and Property.

Makam Mbah Ngliman bukan sekadar situs sejarah. Bagi masyarakat setempat dan warga Nganjuk pada umumnya, tempat ini adalah tanah keramat bumi aji dan bumi wali. Siapa pun yang menuju puncak Gunung Wilis, melewati Watu Lawang hingga Air Terjun Sedudo, diwajibkan berniat suci dan menanggalkan segala kesombongan.

Acara munajat dipimpin langsung oleh para tokoh yang dituakan di antaranya Mbah Manyar, salah satu juru kunci Makam Mbah Ngliman, dan Kiai Ali Masduki, tokoh agama terkemuka dari Ngliman. Hadir pula perwakilan gabungan LSM dan masyarakat luas yang peduli kelestarian warisan leluhur.
Dengan suara bergetar penuh keprihatinan, Mbah Manyar menegaskan:
"Pembangunan yang direncanakan berada di atas kawasan Makam Mbah Ngliman. Ini sama sekali kurang menjunjung adab dan tata krama leluhur. Apalagi di sana akan dibangun tempat wisata dan penginapan yang dapat mengundang kemaksiatan. Bagaimana mungkin kita membiarkan tempat yang disucikan menjadi tempat yang tidak sopan?"
Penolakan ini bukan sekadar soal lahan, melainkan soal menghormati tanah yang dijaga para wali.Pernyataan Mbah Manyar dikuatkan oleh Kiai Ali Masduki dengan tegas:
"Saya juga tidak setuju. Sejak dulu Ngliman adalah bumi aji, bumi wali. Di sini banyak tokoh waliyullah yang dimakamkan. Watu Lawang, Sedudo, Watu Macan, dan Makam Mbah Ngliman semuanya satu wilayah kesakralan yang tidak boleh dipisahkan."
Kiai Masduki mengingatkan pesan leluhur yang hingga kini tetap dijaga warga:
"Kalau masuk Ngliman, sepandai apa pun, sesakti apa pun jangan sampai kau menyombongkan diri di bumi Ngliman. Pasti tidak akan selamat."
Watu Lawang bukan sekadar nama batu. Secara turun-temurun, tempat ini dipercaya sebagai gerbang spiritual tempat para leluhur bermunajat dan bersholawat sebelum naik ke Air Terjun Sedudo. Di sini, siapa pun wajib menundukkan kepala, berserah diri, dan menanggalkan segala kesombongan.
"Watu Lawang adalah pintu hati sebelum masuk ke kesucian Sedudo. Jika pintunya sudah dirusak dan diubah menjadi tempat bisnis, maka kesucian di dalamnya pun akan luntur," ujar salah satu perwakilan LSM yang hadir.
Melalui munajat ini, para sesepuh, alim ulama, LSM, dan masyarakat menyampaikan seruan bersama:
1. Hentikan segera segala aktivitas pembangunan di kawasan Watu Lawang dan sekitar Makam Mbah Ngliman.
2. Hormati kesakralan tanah leluhur bukan sekadar soal izin di atas kertas, melainkan soal adab kepada wali dan alam.
3. Kembalikan fungsi Watu Lawang sebagai tempat munajat dan pelestarian alam, bukan tempat komersial yang merusak tatanan spiritual masyarakat.
"Kekayaan alam boleh dinikmati, tapi tidak boleh dirusak. Wisata boleh dibuka, tapi tidak boleh menginjak kesucian bumi wali. Ingat, pembangunan tanpa adab akan berbuah kerusakan." Ujar Kiai Ali Masduki.(Tomo)


.jpg)