KETIKA POSKO SUARA AKTIFIS PEDULI LINGKUNGAN DIRUSAK ,SIAPA YANG TAKUT KEPADA KESAKRALAN? - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

KETIKA POSKO SUARA AKTIFIS PEDULI LINGKUNGAN DIRUSAK ,SIAPA YANG TAKUT KEPADA KESAKRALAN?

Friday, 18 September 2026

NGANJUK, Warta Global Jatim.id 
Rabu, 16 September 2026
 
Kabar mengejutkan sekaligus memilukan datang dari lereng Gunung Wilis, tepatnya di kawasan pintu gerbang Air Terjun Sedudo. Posko Peduli Watu Lawang,tempat berkumpulnya para aktivis, LSM, dan media yang peduli lingkungan serta warisan leluhur dirusak,di curi Spanduk ,Banner oleh sekelompok Orang Tak Dikenal (OTK). seolah-olah tidak pernah ada.
 
Peristiwa ini bukan sekadar soal Banner atau spanduk hilang. Ini adalah perusakan terhadap hak untuk bersuara. Perusakan terhadap hak warga untuk menolak apa yang merusak tanah air mereka. Siapa yang merasa terganggu hingga harus menghapus keberadaan posko damai ini? Siapa yang takut jika suara mereka yang peduli didengar?

Pihak yang menolak pembangunan di Watu Lawang bukan anti-pembangunan. Narasi yang mereka gaungkan sangat jelas dan kini menyebar luas,Watu Lawang adalah tempat sakral.
 
Bagi warga Desa Ngliman dan masyarakat adat lereng Gunung Wilis, Watu Lawang bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah punden berundak, petilasan leluhur, dan titik sunyi tempat para pendahulu bersemedi dan berziarah. Watu Lawang bukan sekadar batu ia adalah prasasti hidup yang berdiri tegak di tengah adat dan budaya masyarakat setempat.
 
Membangun gerbang wisata komersial, memotong tebing keramat, menebang pohon pelindung hutan, dan menghadirkan keramaian yang tidak menghormati tata krama tempat tersebut  bagi warga  adalah penodaan terhadap kesakralan.
 
Pemerhati sejarah sekaligus Budayawan Nganjuk, Ki Sastro Kusumo, menjelaskan makna mendalam tempat ini:
 
"Air adalah simbol penyucian jiwa sebelum menghadap Sang Pencipta. Keheningan dan kerendahan hati di tempat ini mampu membersihkan segala kotoran batin."
 
Dalam falsafah Memayu Hayuning Bawana, manusia dan alam adalah satu kesatuan. Ketika seorang penghayat Kejawen bermediasi atau manekung di dekat batu besar, pohon tua, atau sumber air suci, tujuannya adalah menyelaraskan jagat cilik (diri manusia) dengan jagat gedhe (alam semesta). Saat manusia, batu, kayu, dan air berada dalam satu frekuensi harmoni, di situlah terwujud kesadaran bahwa semuanya bersumber dari Sang Hyang Tunggal.
 
Perusakan posko ini justru memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: Siapa yang tidak ingin kebenaran diketahui? Siapa yang takut jika nilai-nilai luhur dan kesakralan tempat itu dipertahankan?
 
Menghancurkan tempat berkumpul tidak akan memadamkan semangat menjaga alam dan warisan leluhur. Justru sebaliknya  semakin ditekan, semakin menyala tekad untuk menjaga Gunung Wilis, Air Terjun Sedudo, dan Watu Lawang tetap suci, lestari, dan dihormati sebagaimana mestinya.
 
"Kesakralan bukan hal yang bisa dihapus dengan palu atau gergaji. Ia hidup di hati masyarakat. Dan suara rakyat tidak bisa dibungkam dengan perusakan." (Tomo)