GUNUNG WILIS HULU KEHIDUPAN, PUSAT SPIRITUAL, DAN TITIPAN YANG WAJIB DIRAWAT - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

GUNUNG WILIS HULU KEHIDUPAN, PUSAT SPIRITUAL, DAN TITIPAN YANG WAJIB DIRAWAT

Monday, 14 September 2026

NGANJUK Warta Global Jatim.id
Gunung Wilis bukan sekadar gunung di peta Jawa Timur. Ia adalah gunung suci hulu kehidupan bagi enam kabupaten, pusat spiritual yang dikeramatkan leluhur, dan benteng alam yang menjaga keseimbangan bumi dan manusia. Menyentuhnya tanpa hormat bukan hanya melanggar aturan itu mengganggu keseimbangan yang telah dijaga ratusan tahun.

GUNUNG SUCI YANG MENJADI NAPAS HIDUP ENAM KABUPATEN

Gunung Wilis berdiri gagah di perbatasan enam kabupaten: Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek. Puncaknya yang bernama Puncak Trogati setinggi 2.563 mdpl bukan sekadar titik tertinggi ia adalah kepala dan hati dari seluruh wilayah di sekitarnya.

HULU KEHIDUPAN SUMBER AIR BAGI RIBUAN JIWA

Kawasan hutan lebat di Gunung Wilis bukan sekadar pepohonan ia adalah spons raksasa yang menyimpan dan menyalurkan air kehidupan. Air yang turun dari hutan ini mengalir ke sungai-sungai yang menghidupi sawah, ladang, dan sumur warga di enam kabupaten tersebut. Ketika hutan di Wilis dirusak, sumber air enam kabupaten ikut kering. Itu bukan kerugian satu daerah itu kerugian separuh Jawa Timur bagian barat.
"Jika hulu rusak, maka hilir pun tak akan tenang. Gunung Wilis adalah hulu kehidupan merusaknya sama dengan memutus urat nadi kemakmuran warga enam kabupaten."ujar Ki Sastro Kusumo spritualitas dan pemerhati Budaya Nganjuk 

PUSAT SPIRITUAL TEMPAT YANG TAK BOLEH DIINJAK SEMBARANGAN

Sejak zaman dahulu, Gunung Wilis dianggap sebagai gunung keramat. Pendaki dan peziarah yang datang wajib menjaga tata krama, sopan santun, dan menjaga ucapan. Penduduk setempat meyakini gunung ini dijaga oleh kekuatan gaib bukan untuk menakuti, melainkan untuk mengingatkan agar manusia tidak merasa paling berkuasa di atas bumi Tuhan.
"Tata krama kepada alam adalah cermin tata krama kepada Sang Pencipta. Gunung Wilis mengajarkan: semakin tinggi kita mendaki, semakin rendah hati kita harus berada."tandasnya 

PENJAGA KESTABILAN ALAM TANPA WILIS, TANPA PERLINDUNGAN

Hutan di lereng Wilis menahan tanah di kemiringan yang curam. Ketika pohon ditebang dan tebing dipotong seperti yang terjadi di kawasan Watu Lawang, Sedudo maka tanah itu tak lagi ditahan. Longsor dan banjir bandang bukan lagi ancaman itu kepastian yang tinggal menunggu waktu. Dan korban pertama bukan pengusaha atau pejabat korban pertama adalah warga di enam kabupaten yang menggantungkan hidup pada gunung ini

JIKA GUNUNG SUCI DIRUSAK KEMAKMURAN YANG HILANG BUKAN SEKADAR AIR

Aspek Makna Gunung Wilis Jika Dirusak 
Sumber Air Menghidupi enam kabupaten Debit air menyusut, kekeringan meluas 
Penahan Tanah Mencegah longsor dan banjir Bencana alam makin sering dan mematikan 
Nilai Spiritual Tempat kontemplasi dan penyucian Warisan leluhur hilang, identitas luntur 
Ekosistem Rumah ribuan flora & fauna Keanekaragaman hayati punah selamanya 
Membangun kemewahan di atas kerusakan gunung suci itu seperti membangun istana di atas kuburan ia takkan pernah damai, dan takkan pernah bertahan lama.

TANGGUNG JAWAB ENAM KABUPATEN KARENA WILIS MILIK SEMUA

Karena Gunung Wilis menjadi hulu bagi enam kabupaten, maka pelestariannya bukan tugas satu pemerintah daerah saja itu tanggung jawab bersama:
- Pemerintah Daerah menetapkan zona perlindungan ketat, tak boleh ada izin yang mengorbankan hutan
- Perhutani & Pengelola hutan lestari bukan slogan, itu kewajiban utama
- Masyarakat jaga tata krama, jangan merusak, ajarkan anak cucu untuk menghormati
- Pengusaha & Wisatawan datanglah untuk menghormati, bukan untuk menguasai dan mengubah
"Enam kabupaten mendapat berkah air dari Wilis maka enam kabupaten wajib menjaganya. Tak boleh ada satu daerah yang membiarkan kerusakan, karena enam daerah yang akan kehilangan."

GUNUNG INI BUKAN MILIK KITA , KITA YANG TITIPAN PADANYA

Gunung Wilis berdiri jauh sebelum kita lahir, dan ia akan tetap berdiri jauh setelah kita tiada. Ia adalah titipan leluhur dan warisan untuk anak cucu. Kita tidak berhak memotong tubuhnya, menebang jantungnya, atau mengubah wajahnya demi keuntungan sesaat.
"Hormati gunung, maka airnya akan mengalir jernih. Jaga kelestariannya, maka kemakmuran pun takkan pernah berhenti. Itulah perjanjian tak tertulis antara manusia dan Gunung Wilis gunung suci yang tak pernah berkhianat, selama manusia tak mengkhianatinya terlebih dahulu."
Semoga enam kabupaten di sekitar Wilis bersatu menjaganya bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan yang masih membutuhkan air, ketenangan, dan berkah dari gunung suci ini.
Salam rahayu kanggo sedayo mungguh. Njunjung dhuwur warisan leluhur, njaga lestari alam ibu Pertiwi,"Memayu Hayuning Bawono". Penulis Ki RM,Sutomo Sastro Kusumo🙏🌿🇮🇩