DI BALIK AIR MATA MENUJU BAITULLAH, NEGARA HADIR MENJAGA MIMPI JEMAAH - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

DI BALIK AIR MATA MENUJU BAITULLAH, NEGARA HADIR MENJAGA MIMPI JEMAAH

Tuesday, 8 September 2026
. H. Afrizen, S.Ag., M.Pd.
Kepala Asrama Haji Kelas I Padang
PADANG – WARTA GLOBAL JATIM.ID
Oleh: Dr. H. Afrizen, S.Ag., M.Pd.
Kepala Asrama Haji Kelas I Padang
Ada mimpi yang dibangun bukan dalam sehari. Ada doa yang dipanjatkan bertahun-tahun. Ada rupiah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil berjualan, bertani, berdagang, atau menyisihkan sebagian penghasilan keluarga.

Bagi seorang ibu di pelosok desa, misalnya, menabung rupiah demi rupiah bukan sekadar aktivitas ekonomi. Di dalamnya tersimpan sebuah ikhtiar suci: suatu hari dapat mengenakan pakaian ihram, menginjakkan kaki di Tanah Suci, memandang Ka'bah, dan bersimpuh di hadapan Allah SWT.

Itulah haji. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati yang telah lama dinantikan.
Selama bertahun-tahun, penyelenggaraan haji dan umrah di Indonesia terus mengalami pembenahan. Persoalan antrean, kepastian keberangkatan, pelayanan, kesehatan, akomodasi hingga perlindungan jemaah menjadi perhatian yang tidak pernah berhenti.

Kini, hadirnya Kementerian Haji dan Umrah membuka babak baru dalam tata kelola perhajian Indonesia. Perubahan kelembagaan ini bukan sekadar pergantian nama atau struktur birokrasi. Lebih dari itu, ia membawa harapan agar negara semakin dekat dengan kebutuhan jemaah dan semakin kuat dalam memberikan perlindungan kepada para tamu Allah.

Bukan Sekadar Layanan, Tetapi Amanah
Di bawah kepemimpinan Mochammad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah serta Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Menteri Haji dan Umrah, harapan terhadap tata kelola haji dan umrah yang semakin baik terus diletakkan sebagai bagian penting dari pelayanan kepada masyarakat.

Sebab, mengurus haji bukan semata-mata mengurus administrasi.
Di balik setiap nomor porsi terdapat manusia.
Di balik setiap paspor terdapat keluarga.
Di balik setiap koper terdapat doa.
Dan di balik setiap keberangkatan terdapat impian yang mungkin telah ditunggu puluhan tahun.
Karena itu, pelayanan kepada jemaah harus selalu diletakkan dalam semangat amanah, profesionalitas, transparansi, perlindungan, dan kemanusiaan.

Dari Asrama Haji, Kita Melihat Air Mata Itu
Asrama haji menjadi salah satu tempat di mana berbagai kisah jemaah bertemu.
Ada seorang ayah yang berkali-kali memeluk keluarganya sebelum berangkat.
Ada seorang ibu yang menangis ketika menerima koper dan paspor.

Ada pasangan lanjut usia yang saling menggenggam tangan karena akhirnya doa panjang mereka untuk sampai ke Baitullah terwujud.
Dan ada pula anak-anak yang mengantar orang tuanya dengan doa serta harapan agar mereka kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan membawa predikat haji mabrur.
Di situlah kita memahami bahwa pelayanan haji sesungguhnya adalah pelayanan terhadap manusia dan cita-cita sucinya.

Petugas tidak hanya memberikan informasi.
Petugas sedang menemani kecemasan.
Petugas tidak hanya mengatur keberangkatan.
Petugas sedang menjaga sebuah perjalanan yang sangat berharga.
Petugas tidak hanya melayani jemaah.
Petugas sedang mengantarkan tamu-tamu Allah menuju rumah-Nya.

Negara Harus Hadir di Setiap Tahap Perjalanan
Kehadiran negara dalam penyelenggaraan haji harus dirasakan sejak jemaah mempersiapkan keberangkatan, memasuki asrama haji, terbang menuju Tanah Suci, menjalankan seluruh rangkaian ibadah, hingga kembali ke Tanah Air.
Karena itu, pembenahan layanan harus terus dilakukan.

Mulai dari kepastian informasi, pelayanan administrasi, akomodasi, konsumsi, transportasi, kesehatan, pembinaan ibadah, perhatian kepada jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas, hingga perlindungan selama berada di Tanah Suci.

Semua itu bermuara pada satu tujuan:
Bagaimana jemaah dapat beribadah dengan tenang, aman, nyaman, dan khusyuk.
Sementara untuk perjalanan umrah, penguatan tata kelola juga menjadi penting agar masyarakat memperoleh perlindungan dan kepastian dalam menggunakan layanan perjalanan ibadah.

Satu Tahun, Sebuah Harapan Besar
Satu tahun mungkin masih terlalu singkat untuk menilai seluruh perjalanan sebuah kementerian.
Namun, satu tahun cukup untuk menanamkan harapan.
Harapan bahwa perubahan kelembagaan akan benar-benar bermuara pada peningkatan pelayanan.
Harapan agar tidak ada lagi jemaah yang merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.
Harapan agar setiap rupiah yang dikeluarkan masyarakat untuk memenuhi panggilan Allah mendapatkan pelayanan yang sepadan dengan amanah yang diemban negara.

Dan yang paling utama, harapan agar setiap air mata yang jatuh di Tanah Air berubah menjadi air mata kebahagiaan ketika seorang jemaah akhirnya melihat Ka'bah dengan mata kepala sendiri.

Sebab bagi mereka, perjalanan menuju Tanah Suci bukan perjalanan biasa.
Itu adalah perjalanan menuju doa yang telah lama dipanjatkan.

Menuju impian yang telah lama disimpan.
Menuju Baitullah yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam bayangan.
Maka, momentum satu tahun Kementerian Haji dan Umrah hendaknya menjadi pengingat bahwa melayani jemaah adalah amanah besar, dan menjaga perjalanan menuju Baitullah adalah bagian dari menjaga harapan jutaan umat.

Semoga Kementerian Haji dan Umrah semakin kuat, profesional, transparan, humanis, dan mampu menghadirkan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah Indonesia.
Karena pada akhirnya, keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya diukur dari berapa banyak jemaah yang diberangkatkan.

Tetapi dari seberapa tenang mereka berangkat, seberapa khusyuk mereka beribadah, seberapa terlindungi mereka selama perjalanan, dan seberapa bahagia mereka ketika kembali ke pangkuan keluarga.
Dari Indonesia untuk Baitullah.
Dari pelayanan menuju kemabruran.
Dari air mata penantian menuju senyum kepulangan.

NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI.
PIMPINAN REDAKSI WARTA GLOBAL JATIM.IDPADANG – WARTA GLOBAL JATIM.ID
Oleh: Dr. H. Afrizen, S.Ag., M.Pd.
Kepala Asrama Haji Kelas I Padang
Ada mimpi yang dibangun bukan dalam sehari. Ada doa yang dipanjatkan bertahun-tahun. Ada rupiah yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil berjualan, bertani, berdagang, atau menyisihkan sebagian penghasilan keluarga.

Bagi seorang ibu di pelosok desa, misalnya, menabung rupiah demi rupiah bukan sekadar aktivitas ekonomi. Di dalamnya tersimpan sebuah ikhtiar suci: suatu hari dapat mengenakan pakaian ihram, menginjakkan kaki di Tanah Suci, memandang Ka'bah, dan bersimpuh di hadapan Allah SWT.

Itulah haji. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati yang telah lama dinantikan.
Selama bertahun-tahun, penyelenggaraan haji dan umrah di Indonesia terus mengalami pembenahan. Persoalan antrean, kepastian keberangkatan, pelayanan, kesehatan, akomodasi hingga perlindungan jemaah menjadi perhatian yang tidak pernah berhenti.

Kini, hadirnya Kementerian Haji dan Umrah membuka babak baru dalam tata kelola perhajian Indonesia. Perubahan kelembagaan ini bukan sekadar pergantian nama atau struktur birokrasi. Lebih dari itu, ia membawa harapan agar negara semakin dekat dengan kebutuhan jemaah dan semakin kuat dalam memberikan perlindungan kepada para tamu Allah.

Bukan Sekadar Layanan, Tetapi Amanah
Di bawah kepemimpinan Mochammad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah serta Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Menteri Haji dan Umrah, harapan terhadap tata kelola haji dan umrah yang semakin baik terus diletakkan sebagai bagian penting dari pelayanan kepada masyarakat.

Sebab, mengurus haji bukan semata-mata mengurus administrasi.
Di balik setiap nomor porsi terdapat manusia.
Di balik setiap paspor terdapat keluarga.
Di balik setiap koper terdapat doa.
Dan di balik setiap keberangkatan terdapat impian yang mungkin telah ditunggu puluhan tahun.
Karena itu, pelayanan kepada jemaah harus selalu diletakkan dalam semangat amanah, profesionalitas, transparansi, perlindungan, dan kemanusiaan.

Dari Asrama Haji, Kita Melihat Air Mata Itu
Asrama haji menjadi salah satu tempat di mana berbagai kisah jemaah bertemu.
Ada seorang ayah yang berkali-kali memeluk keluarganya sebelum berangkat.
Ada seorang ibu yang menangis ketika menerima koper dan paspor.

Ada pasangan lanjut usia yang saling menggenggam tangan karena akhirnya doa panjang mereka untuk sampai ke Baitullah terwujud.
Dan ada pula anak-anak yang mengantar orang tuanya dengan doa serta harapan agar mereka kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan membawa predikat haji mabrur.
Di situlah kita memahami bahwa pelayanan haji sesungguhnya adalah pelayanan terhadap manusia dan cita-cita sucinya.

Petugas tidak hanya memberikan informasi.
Petugas sedang menemani kecemasan.
Petugas tidak hanya mengatur keberangkatan.
Petugas sedang menjaga sebuah perjalanan yang sangat berharga.
Petugas tidak hanya melayani jemaah.
Petugas sedang mengantarkan tamu-tamu Allah menuju rumah-Nya.

Negara Harus Hadir di Setiap Tahap Perjalanan
Kehadiran negara dalam penyelenggaraan haji harus dirasakan sejak jemaah mempersiapkan keberangkatan, memasuki asrama haji, terbang menuju Tanah Suci, menjalankan seluruh rangkaian ibadah, hingga kembali ke Tanah Air.
Karena itu, pembenahan layanan harus terus dilakukan.

Mulai dari kepastian informasi, pelayanan administrasi, akomodasi, konsumsi, transportasi, kesehatan, pembinaan ibadah, perhatian kepada jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas, hingga perlindungan selama berada di Tanah Suci.

Semua itu bermuara pada satu tujuan:
Bagaimana jemaah dapat beribadah dengan tenang, aman, nyaman, dan khusyuk.
Sementara untuk perjalanan umrah, penguatan tata kelola juga menjadi penting agar masyarakat memperoleh perlindungan dan kepastian dalam menggunakan layanan perjalanan ibadah.

Satu Tahun, Sebuah Harapan Besar
Satu tahun mungkin masih terlalu singkat untuk menilai seluruh perjalanan sebuah kementerian.
Namun, satu tahun cukup untuk menanamkan harapan.
Harapan bahwa perubahan kelembagaan akan benar-benar bermuara pada peningkatan pelayanan.
Harapan agar tidak ada lagi jemaah yang merasa sendirian ketika menghadapi persoalan.
Harapan agar setiap rupiah yang dikeluarkan masyarakat untuk memenuhi panggilan Allah mendapatkan pelayanan yang sepadan dengan amanah yang diemban negara.

Dan yang paling utama, harapan agar setiap air mata yang jatuh di Tanah Air berubah menjadi air mata kebahagiaan ketika seorang jemaah akhirnya melihat Ka'bah dengan mata kepala sendiri.

Sebab bagi mereka, perjalanan menuju Tanah Suci bukan perjalanan biasa.
Itu adalah perjalanan menuju doa yang telah lama dipanjatkan.

Menuju impian yang telah lama disimpan.
Menuju Baitullah yang selama puluhan tahun hanya hadir dalam bayangan.
Maka, momentum satu tahun Kementerian Haji dan Umrah hendaknya menjadi pengingat bahwa melayani jemaah adalah amanah besar, dan menjaga perjalanan menuju Baitullah adalah bagian dari menjaga harapan jutaan umat.

Semoga Kementerian Haji dan Umrah semakin kuat, profesional, transparan, humanis, dan mampu menghadirkan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah Indonesia.
Karena pada akhirnya, keberhasilan penyelenggaraan haji bukan hanya diukur dari berapa banyak jemaah yang diberangkatkan.

Tetapi dari seberapa tenang mereka berangkat, seberapa khusyuk mereka beribadah, seberapa terlindungi mereka selama perjalanan, dan seberapa bahagia mereka ketika kembali ke pangkuan keluarga.
Dari Indonesia untuk Baitullah.
Dari pelayanan menuju kemabruran.
Dari air mata penantian menuju senyum kepulangan.

NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI.
PIMPINAN REDAKSI WARTA GLOBAL JATIM.ID