Cekcok Singkat dengan Siswa, Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal Dunia Akibat Hipertensi Melonjak Drastis - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Cekcok Singkat dengan Siswa, Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal Dunia Akibat Hipertensi Melonjak Drastis

Monday, 7 September 2026

Cekcok Singkat dengan Siswa, Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal Dunia Akibat Hipertensi Melonjak Drastis
NGANJUK, Warta Global Jatim.id .
Sebuah peristiwa menyayat hati mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Nganjuk. Seorang guru Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Prambon, Suaidi, S.Pd., meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di RS Muhammadiyah Kediri, setelah berjuang melawan tekanan darah yang melonjak tajam pasca-terlibat adu mulut dengan salah satu muridnya.

Semua bermula pada Selasa (1/9/2026), saat jam pembelajaran sedang berlangsung. Almarhum berada di dalam toilet siswa, ketika beberapa siswa  yang mengira di dalam adalah teman sebaya, dan menganggap toilet itu khusus untuk siswa mereka menggedor pintu secara bergantian. Kebingungan dan kesalahpahaman pun terjadi,dan yang terakhir menggedor adalah salah seorang siswa kelas XI

Waka Humas MAN 3 Prambon, Muhammad Ikhwanus Shofa, S.E., menjelaskan kronologi tersebut,"Sebenarnya yang menggedor pintu tidak hanya satu anak, bahkan lebih, secara bergantian dengan selang waktu berbeda. Mungkin mereka mengira itu temannya yang di dalam. Padahal itu toilet untuk siswa, bukan untuk guru."ujarnya 
 
Saat keluar, almarhum merasa terganggu dan menegur siswa tersebut. Terjadilah adu mulut yang memanas. Suaidi sempat refleks hendak menjewer sebagai peringatan, namun dihalau oleh siswa , tidak ada kontak fisik maupun perkelahian. Namun saat itulah, Suaidi tiba-tiba terhuyung-huyung dan hampir jatuh, segera ditolong oleh guru dan murid di tempat kejadian.

Usai kejadian, almarhum duduk di teras gazebo sekolah untuk menenangkan diri, tampak lemas. Namun saat hendak menaiki tangga menuju ruang kelas untuk mengajar, kondisinya jatuh drastis  ia muntah-muntah dan tak sanggup melanjutkan aktivitas.
 
Saat itu juga dibawa ke Puskesmas Prambon, kondisinya terus menurun. Almarhum kemudian dirujuk ke RS Muhammadiyah Kediri dengan hasil pemeriksaan yang mengerikan: tekanan darah mencapai 240/130 mmHg. Angka yang nyaris mustahil bagi tubuh manusia untuk bertahan.
 
Padahal, dari hasil pemeriksaan kesehatan rutin di Puskesmas pada Agustus lalu, tensi almarhum sudah tercatat tinggi  180 mmHg. Ia memang memiliki riwayat hipertensi dan stroke yang kronis.Selama empat hari, tim medis berupaya keras menstabilkan kondisi Suaidi. Namun pada Sabtu sore, takdir berkata lain. Pendidik yang telah mengabdi itu menghembuskan napas terakhir, meninggalkan keluarga, rekan sejawat, dan ratusan murid yang kehilangan sosok pendidiknya.
 
Meski pihak keluarga mengikhlaskan kepergian almarhum sebagai musibah yang tak terelakkan  murni akibat kambuhnya penyakit hipertensi  aparat kepolisian tetap melakukan penyelidikan secara profesional untuk memastikan seluruh kronologi terungkap jelas.

Kematian Suaidi menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Sebuah kesalahpahaman sederhana, seharusnya bisa diselesaikan dengan tenang, justru berujung pada kehilangan nyawa.

"Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua  guru, siswa, maupun orang tua. Kesabaran dan pengendalian emosi adalah kunci. Satu kata yang terucap tanpa kendali, bisa berakibat fatal,namun juga tidak dapat kita menyalahkan siapapun karena sudah ada riwayat Hyper tensi" ujar ihkwan tampak berduka."Semoga kepergian Bapak Suaidi menjadi pengingat, kesehatan dan ketenangan jiwa adalah hal yang paling berharga. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan yang luas."tutupnya (Tomo)