Nganjuk Warta Global Jatim.id
Malam 1 Suro selalu menjadi momen istimewa dan sarat makna bagi masyarakat Jawa, tidak sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, melainkan waktu yang dianggap paling sakral, penuh energi, dan menjadi titik temu antara alam nyata dengan alam gaib. Tahun ini, jatuh pada Rabu Kliwon, pertemuan hari dan pasaran yang dalam tradisi dikenal memiliki getaran spiritual paling kuat, sebab Kliwon sendiri dipercaya sebagai pasaran yang "berat", dalam arti membawa pengaruh energi yang besar, baik positif maupun tantangan yang harus dihadapi.
Keterangan bahwa tahun ini memuat energi spiritual yang sangat tinggi, menurut pandangan primbon dan kepercayaan turun-temurun, sangat masuk akal. Kombinasi 1 Suro dengan pasaran Kliwon menciptakan resonansi energi yang sangat pekat. Pada malam seperti ini, batas antara dunia nyata dan alam halus dianggap menjadi sangat tipis. Segala niat, doa, hingga hal-hal yang tersembunyi dipercaya akan lebih mudah terhubung atau terasa dampaknya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang akan memperbanyak ibadah, zikir, atau merenung untuk menyerap energi positif sekaligus menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Peringatan khusus bagi pemilik Weton Tulang Wangi — seperti Sabtu Wage, Minggu Kliwon, atau Senin Pon — juga sangat wajar disampaikan. Dalam tafsir primbon, kelompok weton ini memang dikenal memiliki kepekaan batin yang lebih tajam, lebih mudah merasakan suasana, getaran, atau kehadiran energi di sekitarnya. Sifat sensitif ini adalah kelebihan, namun di waktu-waktu sakral seperti Malam 1 Suro, kepekaan itu bisa menjadi tantangan tersendiri. Mereka cenderung lebih mudah gelisah, merasakan suasana yang tidak nyaman, atau bahkan lebih rentan terpengaruh jika kurang menjaga hati dan pikiran.
Karena itulah, saran untuk lebih waspada dan memperbanyak introspeksi diri adalah langkah paling tepat dan bijak. Bagi pemilik weton ini, malam ini bukanlah waktu untuk merasa takut, melainkan momen emas untuk membersihkan hati. Introspeksi diri, memperbaiki perilaku, memperbanyak rasa syukur, dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah cara terbaik menyeimbangkan kepekaan tersebut. Justru karena sensitif, mereka lebih mudah merasakan perubahan energi, sehingga bisa lebih cepat menyesuaikan diri dengan menjaga ketenangan batin.
Secara keseluruhan, peringatan ini bukanlah pertanda buruk, melainkan pesan kearifan lokal agar kita semua, terlebih mereka yang memiliki kepekaan lebih, menyadari bahwa alam semesta sedang bergetar dengan energi yang besar. Malam 1 Suro adalah momen "berhenti sejenak", melihat ke dalam diri, membersihkan niat, dan memohon perlindungan agar memasuki tahun baru Jawa dengan hati yang bersih, damai, dan dilindungi dari segala keburukan. Ini adalah bentuk kearifan untuk hidup selaras dengan alam dan keyakinan yang dipegang.
Oleh ; RM.Sutomo Sastro Kusumo.


.jpg)