Tradisi Malam 1 Suro, Ritual Penolak Bala dan Benteng Keamanan Warga Dusun Bogo - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Tradisi Malam 1 Suro, Ritual Penolak Bala dan Benteng Keamanan Warga Dusun Bogo

Monday, 15 June 2026

NGANJUK, Warta Global Jatim.id

15 Juni 2026 – Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan modernisasi, warga Dusun Bogo, Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, tetap teguh memegang erat warisan leluhur. Setiap datangnya malam 1 Suro, seluruh warga berkumpul dan melaksanakan serangkaian ritual adat yang dipercaya sebagai sarana menolak bala, menangkal marabahaya, serta menghalau segala niat buruk dari pihak luar yang berniat merugikan wilayah dan masyarakat mereka.

Bagi warga setempat, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, melainkan identitas dan tanggung jawab bersama yang wajib dilestarikan. Kepala Dusun Bogo, Sunyoto, menegaskan bahwa nilai filosofis dan keyakinan di balik kegiatan ini telah mengakar kuat sejak generasi terdahulu.

“Ini adalah warisan yang dijalankan secara turun-temurun, dan kami meyakini sepenuhnya bahwa tradisi ini memiliki kekuatan untuk menolak segala musibah, serta menghalau niat jahat atau gangguan dari orang luar yang ingin berbuat buruk kepada dusun kami. Bagi kami, ini adalah cara menjaga keselamatan dan ketenteraman bersama,” ujar Sunyoto.

Rangkaian kegiatan adat dimulai sejak sore hari, di mana warga bersama-sama melaksanakan penyembelihan kambing kendit. Biaya pelaksanaan sepenuhnya bersumber dari urunan sukarela warga, sebagai wujud gotong royong dan kepedulian bersama. Segera setelah penyembelihan, daging kambing diolah dan disiapkan untuk dibagikan, sementara puncak acara berupa selamatan bersama digelar tepat setelah selesai sholat Maghrib. Seluruh warga, tua dan muda, hadir dalam acara tersebut untuk berdoa bersama dan mengungkapkan rasa syukur atas keamanan yang telah diperoleh sepanjang tahun.

Selain selamatan, ada bagian penting lain dari tradisi ini yang dijalankan dengan tata cara sangat khusus dan terperinci, yang menjadi inti dari ritual penolak bala tersebut. Bagian-bagian dari hewan yang disembelih diletakkan atau ditanam di titik-titik strategis di seluruh wilayah dusun, sesuai aturan baku yang diwariskan leluhur:

- Daging dibagikan secara merata ke setiap warga, tanpa terkecuali satu pun rumah tangga.

- Kepala dan kulit kambing ditanam tepat di tengah dusun, di titik perempatan jalan utama.
- Kaki depan kanan ditanam di sisi kanan pintu masuk dusun.
- Kaki depan kiri ditanam di sisi kiri pintu masuk dusun.
- Kaki belakang ditanam di dua titik sudut yang menjadi batas wilayah pemukiman Dusun Bogo.

Selain aturan letak, waktu pelaksanaan penanaman juga tidak boleh sembarangan dan memiliki ketentuan ketat. “Proses penanaman bagian-bagian hewan tersebut harus dimulai setelah pukul 22.00 WIB dan wajib selesai paling lambat sebelum pukul 00.00 WIB. Ketepatan waktu dan tata cara ini menjadi syarat mutlak agar harapan kami untuk senantiasa aman, sejahtera, dan dijauhkan dari bahaya dapat terwujud,” jelas Sunyoto.

Bagi masyarakat Dusun Bogo, tradisi Malam 1 Suro ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, kegiatan ini menjadi bukti nyata kelestarian budaya lokal yang tak tergerus zaman. Di sisi lain, momen ini menjadi sarana mempererat kebersamaan, persatuan, dan kerukunan antarwarga. Lebih dari sekadar ritual, tradisi ini berfungsi sebagai benteng keyakinan kolektif, yang menjamin wilayah Dusun Bogo senantiasa aman, tenteram, dan terlindung dari segala ancaman, baik yang datang dari alam maupun dari niat buruk manusia.(Tomo)