NGANJUK, Warta Global Jatim.id
Bagi warga setempat, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, melainkan identitas dan tanggung jawab bersama yang wajib dilestarikan. Kepala Dusun Bogo, Sunyoto, menegaskan bahwa nilai filosofis dan keyakinan di balik kegiatan ini telah mengakar kuat sejak generasi terdahulu.
“Ini adalah warisan yang dijalankan secara turun-temurun, dan kami meyakini sepenuhnya bahwa tradisi ini memiliki kekuatan untuk menolak segala musibah, serta menghalau niat jahat atau gangguan dari orang luar yang ingin berbuat buruk kepada dusun kami. Bagi kami, ini adalah cara menjaga keselamatan dan ketenteraman bersama,” ujar Sunyoto.
Rangkaian kegiatan adat dimulai sejak sore hari, di mana warga bersama-sama melaksanakan penyembelihan kambing kendit. Biaya pelaksanaan sepenuhnya bersumber dari urunan sukarela warga, sebagai wujud gotong royong dan kepedulian bersama. Segera setelah penyembelihan, daging kambing diolah dan disiapkan untuk dibagikan, sementara puncak acara berupa selamatan bersama digelar tepat setelah selesai sholat Maghrib. Seluruh warga, tua dan muda, hadir dalam acara tersebut untuk berdoa bersama dan mengungkapkan rasa syukur atas keamanan yang telah diperoleh sepanjang tahun.
Selain selamatan, ada bagian penting lain dari tradisi ini yang dijalankan dengan tata cara sangat khusus dan terperinci, yang menjadi inti dari ritual penolak bala tersebut. Bagian-bagian dari hewan yang disembelih diletakkan atau ditanam di titik-titik strategis di seluruh wilayah dusun, sesuai aturan baku yang diwariskan leluhur:
- Daging dibagikan secara merata ke setiap warga, tanpa terkecuali satu pun rumah tangga.


.jpg)