Nganjuk Warta Global Jatim.id
19 Juni 2026 , Malam 1 Suro tahun ini jatuh pada 15 Juni 2026, bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah. Dalam pandangan budaya dan kajian alam menurut Ki RM Sutomo Sastro Kusumo, pertemuan tanggal Jawa dan Hijriah ini bukan sekadar perhitungan waktu, melainkan penanda peralihan tenaga alam yang sangat kuat.
Berikut adalah uraian prediksi, makna, dan opini beliau terkait serangkaian peristiwa alam yang terjadi pasca Malam 1 Suro, hingga letusan Gunung Semeru pagi ini:
1. Makna Malam 1 Suro 2026: "Langit dan Bumi Saling Berbisik"
Menurut Ki Sutomo, Malam 1 Suro adalah momen di mana keseimbangan alam sedang berubah. Tahun ini jatuh pada pertengahan Juni, yang dalam kalender pertanian dan cuaca adalah masa transisi antara musim hujan menuju kemarau."Ketika 1 Suro bertemu pertengahan bulan keenam, maka tanda alam akan tampak nyata. Apa yang tersembunyi di dalam perut bumi dan di ujung awan akan keluar ke permukaan. Ini bukan kemurkaan alam, melainkan peringatan agar manusia kembali waspada dan merenung."
Beliau menegaskan bahwa rentang waktu mulai tanggal 15 Juni ke atas adalah masa kritis, di mana tenaga alam sedang mencari jalan keluar. Itulah sebabnya, tak lama setelah malam peralihan itu, serangkaian peristiwa besar mulai terjadi berturut-turut.
2. Menafsirkan Jejak Bencana: Gempa, Banjir, Angin, dan Api,Melihat catatan kejadian mulai 16 Juni hingga hari ini, Ki Sutomo memandang setiap peristiwa memiliki pesan tersendiri:
✅ Gempa Tektonik Sulawesi Tengah, 16 Juni
Gempa berkekuatan 6,7 SR yang mengguncang Palu dan Sigi adalah bukti bahwa "tanah yang kita pijak tidak selamanya diam"."Gempa ini terjadi di wilayah yang dulu pernah tercatat sejarah besarnya. Ini pesan tentang kestabilan. Baik stabilitas alam maupun stabilitas pemerintahan dan sosial. Ketika ada yang goyah di dalam, maka getarannya akan terasa ke luar. Kerusakan rumah dan fasilitas adalah cerminan bahwa 'rumah besar' kita sebagai bangsa masih ada bagian yang rapuh dan perlu diperbaiki."
✅ Banjir Aceh Barat & Angin Puting Beliung Deli Serdang, 16 Juni
Hujan deras yang tak kenal waktu dan angin yang berubah arah tiba-tiba menandakan "aliran yang tidak teratur".
"Air membawa rezeki, tapi jika meluap membawa kerusakan, berarti ada gangguan pada tata kelola baik tata kelola air, lingkungan, maupun kebijakan. Angin puting beliung adalah peringatan agar tidak ada lagi keputusan yang diambil secara sembarangan, yang bisa merugikan banyak pihak seperti atap rumah yang terbang dibawa angin."
✅ Potensi Karhutla Menjelang Akhir Juni
Ancaman kebakaran hutan yang mulai mengintai Riau dan sekitarnya saat musim beralih, beliau sebut sebagai "api yang menunggu waktu"."Ini adalah ujian kesiapan. Alam memberikan tanda: kelembapan akan berkurang, tanah akan kering. Jika manusia lengah, api kecil bisa menjadi besar. Ini mengingatkan kita bahwa kerusakan alam tidak hanya datang dari langit, tapi juga bisa dipicu oleh kelalaian tangan manusia sendiri."
3. Letusan Gunung Semeru Hari Ini: Tanda Paling Nyata,Peristiwa paling baru dan menjadi sorotan utama adalah letusan Gunung Semeru pagi ini, Jumat 19 Juni 2026, yang melontarkan awan panas sejauh 4,5 km ke Besuk Kobokan dengan kolom abu setinggi 1.000 meter.
Sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa dan dianggap sebagai puncak spiritual tanah Jawa, Ki Sutomo memberikan pandangan mendalam:"Semeru adalah Mahameru, pusat dari segala tenaga di tanah Jawa. Ketika ia meletus tepat di masa-masa pasca 1 Suro ini, pesannya sangat jelas: Tenaga besar sedang bergerak, dan seluruh isi Jawa harus siaga."
Beliau menafsirkan:
- Awan Panas Guguran sejauh 4,5 km: Menandakan bahwa dampak atau pengaruh kejadian ini tidak hanya dirasakan di sekitar lereng, tapi akan berimbas ke wilayah yang lebih luas, baik secara fisik maupun suasana hati masyarakat.
- Kolom Abu ke arah Utara dan Barat Laut: Arah ini melintasi wilayah-wilayah strategis Jawa Timur. Ini menjadi isyarat agar daerah-daerah di jalur tersebut lebih waspada terhadap debu vulkanik, gangguan kesehatan, hingga dampak pada pertanian.
- Status Tetap Siaga Level III: Ini adalah pesan kuncinya. "Belum selesai." Alam belum tenang sepenuhnya. Semeru melepaskan tenaga, namun bisa saja masih ada tenaga yang tersisa.
"Pemerintah dan warga tidak boleh lengah hanya karena belum ada korban jiwa. Semeru mengingatkan: betapa pun tingginya peradaban manusia, kita tetap kecil di hadapan kuasa alam. Hidup berdampingan dengan gunung berapi berarti harus selalu hidup dalam kewaspadaan dan kehormatan pada alam."
4. Prediksi Sisa Bulan Juni
Berdasarkan pola yang terbentuk sejak 1 Suro, Ki RM Sutomo Sastro Kusumo memprediksi:
1. Hingga akhir Juni 2026, pergerakan vulkanik di jalur pegunungan Jawa masih berpotensi aktif, tidak hanya Semeru namun juga gunung-gunung lain di sepanjang jalur serupa.
2. Cuaca akan sangat ekstrim: Peralihan dari hujan ke kemarau bisa terjadi mendadak. Ada hari yang sangat panas, disusul hujan lebat yang tiba-tiba, berisiko memicu longsor di daerah lereng.
3. Kondisi Sosial: Getaran alam ini sejalan dengan situasi bangsa yang sedang dalam masa peralihan. Beliau berharap, bencana alam ini menjadi momen persatuan, bukan momen saling menyalahkan.
"Malem 1 Suro mengajarkan kita untuk mengosongkan hati, membersihkan niat. Alam memberikan pelajaran tambahan lewat gempa, angin, air, dan api. Semua ini adalah cara alam berkata: Jagalah dirimu, jagalah lingkunganmu, dan bersiaplah membantu sesama. Bencana tidak bisa dihindari sepenuhnya, tapi dampaknya bisa diringankan dengan kesiapan dan persaudaraan. Semoga Jawa dan seluruh Nusantara senantiasa dilindungi." (Red)


.jpg)