Sang Maestro Wayang Klitik Banjarsari, Penjaga Warisan Wali Songo yang Hampir Punah
By
REDAKSI PUSAT
-
Saturday, 20 June 2026
Nganjuk Warta Global Jatim.id
Di aliran tenang tepian Sungai Brantas, di sudut wilayah Kab Nganjuk tepatnya Desa Banjarsari, Kecamatan Ngronggot, Di saat sang Surya mulai tenggelam,membawa aroma sejarah yang kental. Di tanah yang dikenal sebagai kawasan santri yang taat ini, ada satu suara yang tak pernah diam selama lmberabat abad, suara kayu yang beradu, irama tembang macapat, dan cerita yang mengalir dari bibir seorang lelaki berusia 100 tahun lebih. Ia adalah sosok Maestro Wayang Klitik, dan Mbah Tukiran, sebutan akrabnya adalah penjaga tradisi adat budaya sebagai Dalang Wayang Klitik dan mungkin dalang ini adalah Dalang tertua di wilayah Kab Nganjuk.Wayang Klithik atau sering disebut Wayang Krucil/Timplong warisan budaya yang lahir dari gagasan agung para Wali Songo, kini tinggal menyisakan napas tipis namun tak mau padam.
Kesenian ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah jejak langkah Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus yang cerdas dan bijak, sekitar abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Saat itu, masyarakat Jawa sudah hidup rukun dengan cerita-cerita dari ajaran Hindu Buddha. Para Wali tak ingin menghapus apa yang sudah dicintai rakyatnya, melainkan menyulamkan nilai baru ke dalamnya. Maka terciptalah Wayang Klithik: wayang dari kayu pipih setinggi 30 sentimeter, mungil sederhana, tak butuh kelir atau layar, tak ditancapkan di batang pisang, melainkan di batang kayu berlubang. Bentuk baru, pesan baru, namun tetap di dalam selimut budaya Jawa yang akrab.
Di balik gerakan sosok kayu itu, tersimpan pesan damai. Masih ada kisah legendaris Cerita Panji dan sejarah kesultanan, namun kini bersanding dengan kisah kepahlawanan Amir Hamzah dari Serat Menak – kisah keberanian, ketakwaan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Diiringi tembang macapat yang setiap baitnya sarat nasihat hidup, wayang ini menjadi sekolah berjalan: mengajarkan tauhid, moral, dan cinta tanah air tanpa harus meninggalkan jati diri leluhur.
Dulu, di masa kejayaannya abad ke-16 hingga ke-19, nama Wayang Klithik bergema di sepanjang aliran sungai Brantas hingga Bengawan Solo. Karena sungai adalah jalan utama masa itu, kesenian ini menyebar luas menjadi kebanggaan Jawa Timur dari Nganjuk, Kediri, Jombang, hingga masuk ke sebagian Jawa Tengah. Di setiap acara Ruwatan, di setiap perayaan hari besar, nyadran atau bersih desa,wayang kayu mungil ini selalu hadir, mempersatukan rasa keberagamaan dan kebudayaan dalam satu harmoni yang indah.
Namun, zaman berganti. Memasuki awal abad ke-20, cahaya keemasan itu perlahan memudar. Muncul hiburan-hiburan baru, dan wayang kulit yang lebih megah mulai mendominasi hati masyarakat. Tantangan lain datang: membuat Wayang Klithik butuh keterampilan memahat kayu yang istimewa, bahan sulit dicari, dan yang paling menyakitkan , jumlah orang yang mau mewarisi ilmu ini makin menipis. Regenerasi terhenti, banyak cerita hilang, gaya pementasan lenyap.
Saat acara nyadran Sabtu 20/06 di Balai Desa Banjarsari"Saya sangat khawatir. Kalau budaya ini sampai hilang ditelan zaman, rasanya seperti kehilangan separuh diri kita. Sekarang sudah sangat langka orang yang mau mendalami dan meneruskannya," ujar Modin Banjarsari M.Soim, dengan suara bergetar menahan kekhawatiran. Baginya, ini bukan sekadar kesenian, tapi akar sejarah yang menancap kuat di desanya.
Di tengah ancaman kepunahan itu, Desa Banjarsari berdiri tegak, tak bergeming. Di sinilah tradisi ini masih berdenyut kuat, berkat janji setia para leluhur yang dijaga hingga kini. Setiap tahun, saat acara adat Nyadran atau Bersih Desa tetap dirawat di jaga, biasanya Pagelaran Wayang Klithik dimulai dari halaman makam umum, bergerak perlahan menuju Balai Desa, mengulang ritme yang sama persis seperti yang dilakukan kakek moyang mereka ratusan tahun lalu.
Yang membuat mata siapa saja yang melihatnya berkaca-kaca: dari tahun ke tahun, dalangnya selalu orang yang sama. Mbah Tukiran, lelaki asli Banjarsari, kini usianya menembus 105 tahun, diyakini sebagai dalang tertua se-Kabupaten Nganjuk. Tubuhnya mungkin menua, tapi suaranya masih lantang, tangannya masih cekatan menggerakkan wayang kayu, semangatnya masih membara seperti pemuda.
"Dari saya masih kecil, dalangnya ya Mbah Tukiran juga. Tidak pernah berganti. Ini adat yang turun-temurun, tak pernah kami tinggalkan," kenang Rokim, Sekretaris Desa Banjarsari, menguatkan cerita Soim. Bagi warga sini, Mbah Tukiran bukan sekadar dalang, melainkan penjaga pintu masa lalu yang terus mengundang kita masuk untuk belajar. Ia dalang ruwatan, ia penguasa cerita, ia adalah bukti hidup bahwa cinta pada budaya bisa membuat usia seratus tahun terasa muda.
Kini, berbagai pihak mulai bergerak: seniman, budayawan, pemerintah, hingga masyarakat yang peduli berusaha mengangkat kembali nama Wayang Klithik agar tak hilang dari peta kebudayaan nasional. Meski tak semeriah masa lalu, di Nganjuk dan Kediri, jejak itu masih ada.
Wayang Klithik di Banjarsari mengajarkan kita satu kebenaran menyentuh hati: sejarah dan adat bukan sekadar tulisan di buku atau benda di museum. Ia bernyawa selama masih ada yang mementaskannya, masih ada yang mendengarkannya, dan masih ada yang merawatnya.
Di tepian Brantas itu, Mbah Tukiran yang berusia lebih satu abad masih berdiri di panggung kecil, bercerita dengan kayu-kayu mungilnya. Ia mengingatkan kita agar tidak pernah lupa: dari mana kita berasal, siapa nenek moyang kita, dan betapa indahnya ketika agama dan budaya berjalan beriringan, damai dan saling menguatkan.
Selama Mbah Tukiran masih bernapas, selama warga Banjarsari masih setia pada adat warisan leluhur, Warisan Wali Songo ini akan terus bercerita, agar generasi esok hari tahu , bahwa di tanah Jawa, pernah ada dan masih ada keindahan mutiara Budaya yang tak ternilai harganya.(Tomo)