Nganjuk Warta Global Jatim.id
(Sebuah Opini Sejarah Mengungkap Akulturasi Budaya di Ujung Timur Nganjuk)
Di ujung timur Kabupaten Nganjuk, di tepian aliran Sungai Brantas yang tenang, terdapat sebuah desa kecil bernama Banjarsari. Bagi banyak orang, desa ini mungkin hanya satu dari sekian banyak perkampungan di pinggir sungai Jawa Timur. Namun, jika kita menelusuri jejak sejarahnya, menyimak cerita turun-temurun, dan melihat bukti peninggalan yang tersembunyi di tanahnya, Banjarsari sesungguhnya adalah sebuah buku sejarah hidup. Di sinilah kita bisa membaca kisah agung bagaimana Islam disebarkan bukan dengan pedang, melainkan dengan seni, kebijaksanaan, dan penghormatan tinggi terhadap budaya yang sudah ada sebelumnya lewat tangan dingin Sunan Kalijaga dan kesenian agung Wayang Klithik.
Kisah ini bermula jauh sebelum Islam menginjakkan kaki di tanah ini. Berdasarkan temuan arkeologis yang sempat dikaji oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), di wilayah ini pernah ditemukan tiga buah arca kuno, salah satunya adalah perwujudan Dewi Durga Mahesa Sura Mardhini. Menurut penjelasan Ichwan, peneliti dari BPCB, arca ini adalah ciri khas candi bercorak Hindu aliran Syiwa. ini adalah bukti mutlak bahwa pada abad ke-16 ke belakang, jauh sebelum pengaruh Islam masuk, Banjarsari bukanlah desa yang tertinggal. Sebaliknya, ini adalah pusat peradaban yang maju, berpenduduk padat, dan memiliki tatanan sosial serta kepercayaan yang sudah sangat mapan. Masyarakatnya hidup rukun dalam ajaran Hindu, berbudaya tinggi, dan memiliki ikatan batin yang kuat dengan tanah leluhurnya.
Di tengah masyarakat yang sudah berbudaya tinggi inilah, angin perubahan mulai bertiup. Pedagang datang dan pergi, ulama-ulama besar berkelana, hingga akhirnya nama Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Kalijaga tercatat dalam ingatan sejarah pergerakan Islam era abad 26-20. Namun, ada satu nama lagi yang tak bisa dipisahkan dari babat dan pembentukan wilayah Banjarsari, yaitu "Mbah Taliwongso."sosok nama yang melekat turun tumurun sebagai seorang yang berjuang Babat desa Banjarsari .
Menurut kajian budayawan Ki Sutomo Sastro Kusumo, Mbah Taliwongso adalah sosok kesatria yang memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Demak, pusat penyebaran Islam saat itu. Nama beliau sendiri menyimpan filosofi yang sangat dalam dari bahasa Jawa Kuno: Tali berarti ikatan, dan Wongso berarti keturunan atau bangsawan. Secara makna, nama itu berarti "Ikatan Keturunan" atau "Jalinan Keluarga Besar". Sangat menarik untuk dicermati di sini terlihat jelas strategi awal dakwah di Banjarsari. Para ulama dan pendatang baru tidak datang sebagai pihak asing yang ingin menguasai, melainkan datang untuk mengikat, menyatukan, dan merajut hubungan baru dengan masyarakat yang sudah ada. Mbah Taliwongso menjadi jembatan awal itu, sosok yang menghubungkan nilai-nilai baru dengan akar budaya yang sudah tertanam kuat.
Di sinilah letak kejeniusan Sunan Kalijaga yang sangat kami kagumi. Beliau datang ke wilayah-wilayah seperti Banjarsari, yang jelas-jelas sudah memiliki tradisi seni dan cerita yang kaya dari masa Hindu-Buddha. Beliau sadar betul jika ajaran baru dipaksakan dengan menghapus apa yang sudah dicintai masyarakat, maka akan lahir perlawanan. Namun jika dibiarkan begitu saja, nilai kebenaran belum tersampaikan. Maka lahirlah gagasan brilian itu Wayang Klithik atau Wayang Krucil.
Berbeda dengan wayang yang sudah ada, Wayang Klithik dibuat dari kayu pipih, berukuran mungil sekitar 30 sentimeter itulah asal namanya, Klithik yang bermakna kecil. Bentuknya sengaja berbeda tak pakai kelir, tak ditancap di batang pisang, melainkan pada batang kayu berlubang. Ini adalah penanda zaman baru, namun tetap dibungkus dengan bahasa seni yang sudah sangat dipahami oleh rakyat Jawa, termasuk masyarakat Banjarsari.
Secara isi cerita, inilah kunci damainya. Sunan Kalijaga tidak membuang kisah-kisah legendaris seperti Cerita Panji yang sudah menjadi darah daging budaya Jawa. Beliau tetap mementaskannya, namun di dalamnya disisipkan nilai tauhid, ajaran moral, dan petunjuk hidup yang sesuai Islam. Lebih dari itu, beliau memperkenalkan kisah baru yang hebat: Serat Menak, kisah kepahlawanan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Lewat kisah keberanian, kesetiaan, dan perjuangan Amir Hamzah membela kebenaran, ajaran Islam masuk ke hati penonton tanpa rasa dipaksa. Diiringi tembang macapat yang penuh nasihat, pertunjukan ini menjadi sekolah agama yang indah dan menghibur.
Strategi ini sukses besar. Di Banjarsari, jejak itu tak pernah hilang. Hingga hari ini, berabad-abad setelah masa Sunan Kalijaga, adat Nyadran atau Bersih Desa yang dulunya mungkin berakar tradisi penghormatan leluhur masa Hindu kini berjalan beriringan dengan ajaran Islam, dan selalu dimeriahkan dengan pagelaran Wayang Klithik.
Dan di sinilah kita bertemu dengan sosok bukti hidup sejarah itu: Ki Tukiran, dalang berusia 105 tahun, diyakini yang tertua se-Nganjuk. Renta secara fisik, namun semangatnya membara seperti api muda. Selama beberapa generasi warga Banjarsari hidup, hanya dialah dalang yang selalu tampil di setiap Nyadran. Beliau belum punya pengganti, belum ada regenerasi, namun keberadaannya adalah bukti nyata bahwa apa yang ditanamkan Sunan Kalijaga berabad lalu masih tumbuh subur.
Ki Tukiran memainkan wayang kayu mungil itu, menceritakan kisah yang dulu disusun oleh Wali Songo, di tanah yang dulunya berdiri arca Dewi Durga, di tengah masyarakat yang kini taat menjalankan syariat Islam. Ini bukan sekadar pertunjukan, ini adalah simbol harmoni.
Banjarsari mengajarkan kita satu kebenaran sejarah yang sering kita lupakan: Islam datang ke Jawa tidak untuk mematikan budaya, melainkan menyempurnakannya. Wayang Klithik adalah bukti bahwa akulturasi bukan sekadar percampuran, melainkan sebuah kemajuan peradaban. Di tangan Sunan Kalijaga, seni menjadi jembatan, masa lalu menjadi jembatan menuju masa depan, dan Desa Banjarsari di tepi Brantas ini menjadi saksi abadi betapa indahnya sejarah ketika agama dan budaya berjalan beriringan, damai, dan saling menguatkan.(Red)


.jpg)