UNESA Gelar FGD Mahasiswa, Perkuat Budaya Kritis Dialogis Tanpa Anarkis - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

UNESA Gelar FGD Mahasiswa, Perkuat Budaya Kritis Dialogis Tanpa Anarkis

Saturday, 16 May 2026
Mahasiswa Unesa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya

SURABAYA, Warta Global Jatim.id — Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang sehat, kritis, dan berintegritas melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” yang digelar di Auditorium Fakultas Hukum Unesa, Sabtu (16/5/2026).


Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai tersebut menjadi ruang intelektual bagi mahasiswa untuk memperkuat nalar kritis sekaligus menjaga etika dan nurani dalam menyampaikan aspirasi di tengah dinamika demokrasi kampus maupun kehidupan berbangsa.

FGD menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan akademisi, yakni Rizal Wahid, Mufti Makarim, Drs. Imam Syafi’i, S.H., M.H., serta Hikam Hulwanullah, S.H., M.H., LL.M. Diskusi dipandu moderator Jauhar Wahyuni, M.I.Kom., dengan suasana dialog yang interaktif, dinamis, dan penuh gagasan konstruktif.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM UNESA tersebut dihadiri perwakilan BEM fakultas, organisasi kemahasiswaan, serta para aktivis mahasiswa yang aktif dalam berbagai gerakan sosial dan kemahasiswaan.
Kasubdit Ormawa UNESA Tutur Jatmiko diantara para peserta FGD

FGD dibuka langsung oleh Kasubdit Ormawa UNESA, Tutur Jatmiko, di hadapan ratusan peserta dari berbagai fakultas. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjadikan kampus sebagai ruang dialog yang sehat, kritis, dan tetap menjunjung tinggi nilai persaudaraan serta etika akademik.


“Kita tidak hanya berproses untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga semoga menjadi amal kebaikan untuk semuanya. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” ujarnya.

Ia berharap forum tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, namun mampu melahirkan ide dan gagasan yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial, hukum, dan kebangsaan.

“Saya berharap acara ini banyak diskusi yang tentunya bisa membawa banyak perubahan. Permasalahan hukum dan sosial harus menjadi perhatian bersama. Harapannya ada ide-ide yang bisa dibawa ke level lebih tinggi untuk menjadikan Indonesia lebih baik,” katanya.

Menurutnya, dinamika perbedaan pendapat di kalangan mahasiswa merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Namun, ia mengingatkan agar setiap perbedaan tetap disampaikan secara santun tanpa berujung pada tindakan anarkis.

“Kalau persinggungan ide mungkin sering terjadi dan itu positif. Tapi kalau persinggungan fisik, alhamdulillah di UNESA masih nyaman. Setelah debat biasanya tetap ngopi bareng,” ungkapnya.
FGD ini juga menjadi momentum penguatan budaya akademik yang sehat di lingkungan kampus. Para peserta diajak memahami bahwa kritik dan perbedaan pandangan merupakan bagian penting dalam demokrasi, namun harus disampaikan secara intelektual, dialogis, dan bermartabat.

Selain menjadi forum diskusi ilmiah, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat sinergi antara civitas akademika, mahasiswa, dan elemen masyarakat dalam menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan beradab.

Dengan hadirnya berbagai narasumber dari latar belakang akademik, hukum, dan komunikasi, FGD ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya gerakan intelektual yang damai, kritis, solutif, dan tetap mengedepankan nilai persatuan demi kemajuan bangsa.red—cholis