Insiden murid Keracunan Program MBG di SDN Mojokendil ,Menuai Protes keras Puguh Santoso (Aktivis Peduli Nganjuk) - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Insiden murid Keracunan Program MBG di SDN Mojokendil ,Menuai Protes keras Puguh Santoso (Aktivis Peduli Nganjuk)

Tuesday, 7 April 2026


Puguh Santoso Aktivis Peduli Nganjuk 

NGANJUK Warta Global Jatim.id

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya memberikan manfaat bagi kesehatan siswa justru memicu kepanikan di SDN Mojokendil, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, pada Selasa (7/4/2026). Puluhan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan diduga akibat mengonsumsi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.

Dari pantauan di lokasi, ditemukan kondisi sayur dalam paket makan siang tersebut sudah berlendir dan tidak segar. Akibat kejadian ini, salah seorang siswa harus dilarikan ke Puskesmas Mojokendil setelah mengalami gejala mual, muntah, dan lemas.

“Yang jelas ada satu anak tadi yang dibawa ke Puskesmas Mojokendil karena mengalami mual, muntah, dan lemas,” ujar Hendri Dwi Prastya, selaku Operator Sekolah SDN Mojokendil.

Insiden bermula ketika paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Cengkok didistribusikan ke ruang kelas. Namun, saat dilakukan pengecekan oleh petugas sekolah, ditemukan kondisi sayur yang sudah tidak memenuhi syarat keamanan pangan.Dilansir dari media SRTV.CO.id.

Kejadian ini menuai kritik pedas dari Puguh Santoso atau yang akrab disapa Bujel, seorang Aktivis Peduli Nganjuk. Menurutnya, SPPG memegang peran sentral dan bertanggung jawab penuh dalam seluruh rantai pelayanan program MBG.

"Dengan adanya kejadian ada salah seorang murid di Mojokendil yang keracunan, SPPG harus bertanggung jawab penuh atas makanan yang didistribusikan," tegas Bujel.

Tanggung jawab ini dinilai mencakup pengawasan total mulai dari aspek cita rasa, kecukupan nilai gizi, keamanan pangan, hingga kelancaran proses distribusi.

Sebagai garda terdepan, SPPG seharusnya memastikan setiap hidangan tidak hanya memenuhi standar kesehatan, tetapi juga aman dikonsumsi, terjaga kebersihannya, dan bebas dari bahan-bahan yang berbahaya. Selain itu, mekanisme pendistribusian juga harus berjalan tepat waktu agar kualitas makanan tetap terjaga prima, hangat, dan higienis saat sampai di tangan siswa.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap program ini dapat kembali terbangun, sehingga tujuan utama peningkatan status gizi anak-anak dapat tercapai dengan maksimal tanpa mengorbankan aspek keselamatan.(TimRed)