RAMBUT GONDRONG, MUSIK METAL, JADI DOSEN: DI BALIKNYA ADA PERJUANGAN IBU PENJUAL KERUPUK - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

RAMBUT GONDRONG, MUSIK METAL, JADI DOSEN: DI BALIKNYA ADA PERJUANGAN IBU PENJUAL KERUPUK

Monday, 7 September 2026
Wiyanto Hidayatullah, M.I.Kom, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta. Berpenampilan gondrong dan mencintai musik metal, ia membuktikan bahwa kesuksesan akademik tidak harus menghilangkan identitas diri. Di balik pencapaiannya, ada perjuangan sang ayah, Sutrisno, dan ibu, Dewi Fatimah, yang berjualan kerupuk demi masa depan anaknya.
WARTA GLOBAL JATIM.ID — JAKARTA
Media Cepat, Akurat & Terpercaya
Tidak semua kesuksesan lahir dari keluarga berada. Sebagian justru tumbuh dari kesederhanaan, perjuangan orang tua, serta keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan.

Kisah tersebut tercermin dalam perjalanan Wiyanto Hidayatullah, M.I.Kom, yang kini mengabdikan diri sebagai Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.
Di tengah dunia akademik yang identik dengan penampilan formal, Wiyanto memiliki ciri khas tersendiri. Rambut gondrong dan kecintaannya terhadap musik metal menjadi bagian dari identitas dirinya.

Namun, penampilan tersebut tidak menghalanginya untuk menekuni dunia pendidikan dan menjalankan profesinya sebagai seorang akademisi.

Justru kisah hidupnya menjadi pesan bahwa seseorang tidak harus kehilangan jati dirinya untuk meraih keberhasilan.

Dari Kesederhanaan Menuju Dunia Akademik
Wiyanto merupakan putra dari Sutrisno dan Dewi Fatimah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memberikan kesempatan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Sang ibu, Dewi Fatimah, menjalani usaha sebagai penjual kerupuk. Dari pekerjaan sederhana tersebut, tersimpan perjuangan besar seorang ibu untuk membantu menopang kehidupan keluarga dan masa depan anak.

Sementara sang ayah, Sutrisno, juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan pendidikan Wiyanto.
Tidak ada kisah tentang kemewahan. Yang ada adalah kerja keras, keterbatasan, kesabaran, dan doa orang tua.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya mengantarkan Wiyanto hingga meraih gelar Magister Ilmu Komunikasi (M.I.Kom) dan kemudian berkiprah sebagai dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta.

Identitas Tidak Harus Hilang Karena Prestasi
Rambut gondrong dan musik metal mungkin bagi sebagian orang identik dengan gaya hidup tertentu. Namun bagi Wiyanto, hal tersebut merupakan bagian dari ekspresi dan identitas dirinya.

Prestasi akademik tidak membuatnya harus meninggalkan apa yang menjadi kecintaannya.
Pesan yang dapat dipetik sederhana: penampilan bukan ukuran kecerdasan, latar belakang keluarga bukan batas masa depan, dan kesederhanaan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Wiyanto membuktikan bahwa seseorang dapat tetap menjadi dirinya sendiri sekaligus memberikan kontribusi di dunia akademik.
Di Balik Gelar, Ada Doa Orang Tua
Di balik keberhasilan seorang anak, sering kali ada cerita orang tua yang tidak pernah masuk dalam lembar ijazah.

Ada keringat seorang ayah.
Ada perjuangan seorang ibu.
Ada doa yang dipanjatkan dalam diam.
Begitu pula dengan perjalanan Wiyanto Hidayatullah. Gelar M.I.Kom dan profesinya sebagai dosen bukan semata-mata pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang kedua orang tuanya, Sutrisno dan Dewi Fatimah.

Sang ibu mungkin hanya dikenal sebagai penjual kerupuk. Namun dari tangan seorang ibu sederhana itulah, lahir seorang anak yang kini berdiri di ruang-ruang akademik dan berbagi ilmu kepada generasi muda.

Kisah Wiyanto menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari keadaan yang sempurna. Kadang, ia justru dimulai dari rumah sederhana, pekerjaan sederhana, dan orang tua yang tidak pernah menyerah memperjuangkan masa depan anaknya.

Rambut boleh gondrong. Musik boleh metal. Jalan hidup boleh berbeda. Tetapi semangat belajar, kerja keras, dan penghormatan kepada orang tua adalah nilai yang tetap harus dijaga.
Karena pada akhirnya, gelar seorang anak adalah kebanggaan, tetapi perjuangan orang tua adalah cerita yang tidak ternilai harganya.
Wiyanto Hidayatullah, M.I.Kom — dari keluarga sederhana, tumbuh dengan perjuangan, dan kini mengabdi sebagai akademisi.

Redaksi Jawatimur NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI
WARTA GLOBAL JATIM.ID
Media Cepat, Akurat & Terpercaya