Ketua Salam Lima Jari Nganjuk "Ngamuk" ,Keracunan MBG "Disengaja" Akibat Markup Gila, SPPG Harus Jadi Tersangka - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Ketua Salam Lima Jari Nganjuk "Ngamuk" ,Keracunan MBG "Disengaja" Akibat Markup Gila, SPPG Harus Jadi Tersangka

Wednesday, 2 September 2026

 
NGANJUK, Warta Global Jatim.id 
Suasana haru, cemas, sekaligus amarah meledak di depan IGD rumah sakit saat puluhan siswa SMAN 3 Nganjuk berjuang melawan keracunan usai menyantap makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah duka para orang tua yang mematung menyaksikan anak-anak mereka bertaruh nyawa, Ketua Umum Salam Lima Jari Nganjuk, John Wadoe, meledakkan kemarahan luar biasa kepada Kepala SPPG yang justru terlihat tertawa dan bercanda (cengengesan) di lokasi  sebuah sikap yang dinilai tak punya hati nurani.

Di saat para orang tua gemetar dan menangis melihat anak-anak mereka jatuh tak berdaya, sikap Kepala SPPG justru menjadi bara api yang membakar kesabaran semua pihak. "Di luar sana anak-anak kita bertaruh nyawa, orang tua hancur hatinya — tapi Kepala SPPG malah tertawa-tawa, cengengesan seolah tidak terjadi apa-apa! Apakah ini makanan yang mereka buat dengan niat baik? Atau justru mereka menebar bahala?" seru John Wadoe dengan nada menggelegar.

Kemarahan John Wadoe bukan tanpa alasan. Ia melontarkan dugaan keras adanya markup anggaran yang berlebihan di pihak SPPG  dan buktinya terlihat dari menu yang disajikan.
 
"Siapa yang tidak tahu? Nasi goreng itu masuk dalam daftar menu yang DILARANG oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk disajikan! Tapi kenapa justru nasi goreng yang disodorkan ke siswa SMAN 3 Nganjuk? Jawabannya jelas: karena murah, biaya ditekan semurah-murahnya, selisihnya dikantongi! Inilah akibatnya  makanan sembarangan, bahan tak layak, penyajian asal-asalan, lalu ratusan siswa jadi korban!" tegas John.
Pernyataan John Wadoe menyentak seluruh pihak: ia menegaskan peristiwa ini bukan kecelakaan biasa, melainkan keracunan yang DISEMPURNAKAN secara sengaja akibat nafsu mengambil keuntungan di atas piring anak-anak.
 
"Kalau tidak ada markup gila-gilaan, mereka pasti menyajikan makanan yang layak dan bergizi. Tapi karena ingin untung sebesar besarnya, bahan murah, kadaluwarsa, atau tak layak pakai dipakai! Ini bukan kelalaian  ini perbuatan yang disengaja! Mereka tahu risikonya, tapi tetap melakukannya karena uang lebih penting bagi mereka daripada nyawa siswa!"John Wadoe tak berhenti di tuduhan. Ia secara tegas menuntut penegak hukum untuk segera turun tangan:
 -  Jadikan penanggung jawab SPPG sebagai TERSANGKA atas dugaan perbuatan melawan hukum yang menimbulkan bahaya bagi nyawa dan kesehatan orang lain secara sengaja
-  Pemkab Nganjuk, DPRD, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera menjatuhkan sanksi SUSPEND dan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja SPPG
- Seluruh dokumen anggaran, harga beli bahan, dan perhitungan porsi wajib dibuka secara terbuka untuk umum.

John Wadoe juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat  media, LSM, dan aktivis  untuk mengawal kasus ini sampai tuntas, sampai ada yang ditahan dan diadili.
 
"Jangan biarkan ini sekadar lewat begitu saja. Kalau hari ini kita diam, besok bisa jadi anak-anak kita yang lain menjadi korban. SPPG harus belajar: tidak boleh main-main dengan makanan anak-anak, tidak boleh mencuri dari gizi mereka, dan tidak boleh tertawa saat orang lain menderita! Hanya dengan sanksi tegas, mereka akan berhati-hati dan profesional di masa depan."Insiden keracunan massal di SMAN 3 Nganjuk kini bukan lagi sekadar masalah kesehatan   melainkan masalah kepercayaan, moralitas, dan kemungkinan besar korupsi yang mengancam nyawa. Seluruh mata tertuju pada penyelidikan pihak berwenang. Apakah dugaan markup dan pelanggaran menu BGN ini terbukti? Siapa yang bertanggung jawab penuh? Dan kapan nama-nama itu ditetapkan sebagai tersangka?(Tomo)