
SPPG Sekuro 1 menghentikan sementara Distribusi MBG di Mlonggo Jepara Gelombang Diare dan Mual pada Siswa usai santap MBG
JEPARA, WARTAGLOBAL.id --
Kasus gangguan pencernaan yang dialami sejumlah siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Mlonggo menjadi peringatan serius bagi seluruh penyelenggara layanan pangan sekolah. Keluhan berupa mual, sakit perut, dan diare yang muncul setelah konsumsi MBG membuat operasional SPPG Sekuro 1 Mlonggo dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Langkah penghentian dilakukan langsung oleh Kepala SPPG Sekuro 1, Saifuddin Amin, bahkan sebelum ada instruksi dari pemerintah pusat. Keputusan itu diambil setelah laporan keluhan kesehatan muncul dari sejumlah sekolah penerima manfaat.
"Kami langsung berkoordinasi dengan puskesmas dan sekolah untuk melakukan penelusuran begitu menerima laporan siswa mengalami sakit perut, mual, dan diare," kata Saifuddin Amin.
Keluhan Muncul Setelah MBG Dikonsumsi
Berdasarkan keterangan sekolah, paket MBG didistribusikan pada Senin pagi dan langsung dikonsumsi siswa. Gejala tidak muncul bersamaan. Sebagian siswa mulai merasakan gangguan pada malam hari, sementara lainnya mengeluh pada keesokan harinya saat mengikuti pelajaran.
Pada hari Selasa, jumlah siswa yang mengalami gangguan pencernaan dilaporkan bertambah. Sekolah kemudian melakukan penanganan awal, memantau kondisi siswa, serta menghubungi orang tua untuk memastikan perkembangan kesehatan anak-anak mereka.
Meski sebagian besar siswa berangsur membaik, sejumlah laporan menunjukkan masih ada siswa yang mengalami diare berulang hingga beberapa hari setelah kejadian.
Kesaksian Orang Tua Menguatkan Dugaan Gangguan Pencernaan
Sejumlah orang tua mengungkapkan bahwa anak mereka mengalami sakit perut dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG.
Salah satunya adalah Hafid, siswa SDN 1 Srobyong. Menurut keluarganya, keluhan muncul sejak Senin usai makan di sekolah dan berlanjut hingga beberapa hari kemudian.
"Masih mules dan masih bolak-balik ke kamar mandi. Sampai siang tadi masih diare," ungkap keluarga.
Kesaksian lain datang dari seorang ibu yang mengaku mengonsumsi makanan yang dibawa pulang anaknya dari sekolah. Setelah itu, ia mengalami gangguan pencernaan. Balita berusia hampir dua tahun yang masih menyusu juga dilaporkan mengalami peningkatan frekuensi buang air besar.

Walaupun kesaksian tersebut belum dapat dijadikan dasar kesimpulan medis, informasi itu menjadi bagian penting dalam proses penelusuran epidemiologi yang sedang berlangsung.
Puskesmas Bergerak Cepat, Sampel Langsung Diamankan
Menindaklanjuti laporan masyarakat, Puskesmas Mlonggo segera turun ke lapangan dan melakukan pemeriksaan di tiga sekolah yang melaporkan adanya keluhan, yakni:
1. SD Negeri 1 Srobyong.
2. MA Nawakartika
3. SMK Nawakartika
Petugas memberikan penanganan sesuai kondisi siswa dan mengambil sampel makanan untuk diuji lebih lanjut di laboratorium.
Menurut keterangan Puskesmas Mlonggo, hingga saat pemeriksaan dilakukan tidak ditemukan siswa yang memerlukan rawat inap maupun rawat jalan, namun pemantauan kesehatan tetap dilanjutkan sebagai langkah antisipasi.
SPPG Pilih Berhenti daripada Mengambil Risiko
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat, langkah yang diambil pengelola SPPG Sekuro 1 mendapat sorotan tersendiri. Alih-alih menunggu instruksi resmi, distribusi MBG dihentikan sementara untuk evaluasi menyeluruh.
"Kami tidak ingin menutup mata terhadap laporan yang muncul. Karena itu kami memilih menghentikan sementara operasional sampai penyebabnya benar-benar diketahui," tegas Saifuddin Amin.
SPPG Sekuro 1 diketahui melayani sekitar 11 sekolah di wilayah Kecamatan Mlonggo. Namun laporan gangguan kesehatan saat ini hanya berasal dari beberapa sekolah penerima manfaat.
Pelajaran Penting: Gizi Harus Berjalan Bersama Keamanan Pangan
Kasus di Mlonggo menjadi pengingat bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak cukup diukur dari terpenuhinya kebutuhan gizi semata. Aspek keamanan pangan, kebersihan proses produksi, kualitas bahan baku, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan sanitasi harus berjalan dalam satu sistem yang ketat.
Sampai hasil laboratorium keluar, penyebab pasti gangguan pencernaan yang dialami para siswa belum dapat disimpulkan. Karena itu, seluruh pihak diminta mengedepankan fakta dan tidak berspekulasi.
Yang terpenting saat ini adalah memastikan kesehatan siswa, menuntaskan investigasi secara transparan, serta menjadikan peristiwa ini sebagai momentum memperkuat standar keamanan pangan dalam setiap layanan makan untuk anak-anak sekolah. (Petrus)


.jpg)