BREAKING NEWS | KARTANU SEUMUR HIDUP DITERIMA PRABOWO, SINYAL KUAT SINERGI GUS KIKIN DAN PEMERINTAH UNTUK KEMAJUAN NAHDLIYIN Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd. - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

BREAKING NEWS | KARTANU SEUMUR HIDUP DITERIMA PRABOWO, SINYAL KUAT SINERGI GUS KIKIN DAN PEMERINTAH UNTUK KEMAJUAN NAHDLIYIN Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd.

Thursday, 3 September 2026
Dari Muktamar NU Jombang, Kolaborasi PBNU–Pemerintah Didorong Berbuah Manfaat Nyata bagi Warga Nahdliyin
SURABAYA – WARTA GLOBAL JATIM.ID — Momentum Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kembali menyita perhatian. Setelah sebelumnya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sempat menagih Kartu Tanda Anggota (KTA) NU dalam pembukaan Muktamar, kini kartu tersebut secara resmi diterima Presiden Prabowo.


Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) seumur hidup diserahkan oleh Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dalam rangkaian Muktamar Ke-35 NU.

Bagi warga Nahdliyin, momentum ini bukan sekadar seremoni. Di balik penyerahan Kartanu tersebut terdapat pesan yang jauh lebih besar: membuka ruang sinergi antara PBNU dan pemerintah untuk mendorong kemajuan serta kesejahteraan masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Gus Kikin periode 2026–2031, PBNU menghadapi tantangan untuk menerjemahkan besarnya kekuatan Jam'iyah dan Jamaah NU menjadi kekuatan nyata dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, hubungan konstruktif antara PBNU dan pemerintahan Presiden Prabowo diharapkan tidak berhenti pada simbol kedekatan, tetapi mampu melahirkan program konkret yang menyentuh langsung kehidupan warga Nahdliyin.

EKONOMI WARGA JADI SALAH SATU KUNCI
Pesantren dan warga Nahdliyin memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Mulai dari UMKM, koperasi, pertanian, peternakan hingga berbagai usaha berbasis pesantren.

Jika kekuatan tersebut dipadukan dengan program strategis pemerintah, bukan tidak mungkin pesantren dan komunitas Nahdliyin menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan

Kemandirian ekonomi harus menjadi salah satu wajah baru NU ke depan.
Bukan hanya menjadi objek program, warga Nahdliyin harus mampu menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi di daerahnya masing-masing.

PESANTREN HARUS NAIK KELAS
Pesantren juga memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi bangsa.
Modernisasi sarana pendidikan, peningkatan kualitas SDM santri, akses beasiswa, penguasaan teknologi dan penguatan kewirausahaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Namun modernisasi tersebut tidak boleh menghilangkan identitas pesantren.
Tradisi keilmuan turats tetap menjadi akar, sementara teknologi menjadi salah satu sarana untuk membawa pesantren menghadapi masa depan.

LAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL DIPERKUAT
Jaringan NU yang sangat luas juga dapat menjadi kekuatan dalam pelayanan kesehatan dan sosial.
Lembaga kesehatan, lembaga amil zakat, badan sosial, pesantren, hingga organisasi masyarakat di bawah ekosistem NU memiliki jaringan yang dekat dengan masyarakat.

Kolaborasi dengan pemerintah diharapkan mampu memperluas jangkauan pelayanan sehingga masyarakat di pelosok tidak merasa jauh dari akses kesehatan dan bantuan sosial.

BUKAN SOAL KEDERKATAN, TAPI KEMASLAHATAN
Sinergi PBNU dengan pemerintah idealnya tidak dimaknai sebagai upaya mencari keistimewaan politik.
Justru sebaliknya, hubungan antara ulama dan umara harus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.

Ukuran keberhasilannya sederhana: apakah warga semakin sejahtera?
Apakah pesantren semakin mandiri?
Apakah santri semakin berkualitas?
Apakah UMKM warga semakin berkembang?
Apakah masyarakat semakin mudah memperoleh pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial?
Jika jawaban atas pertanyaan tersebut adalah iya, maka sinergi PBNU dan pemerintah benar-benar telah memberikan arti.

DARI MUKTAMAR JOMBANG MENUJU GERAKAN NYATA
Kepemimpinan Gus Kikin bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar untuk masa khidmah 2026–2031 membawa harapan baru bagi perjalanan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.
Sementara komitmen pemerintahan Presiden Prabowo membuka ruang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembangunan masyarakat.

Kini tantangannya adalah bagaimana momentum Muktamar Ke-35 NU tidak berhenti sebagai sejarah dan seremoni.
Kartanu yang diterima Presiden Prabowo jangan hanya menjadi simbol.

Momentum tersebut harus menjadi pintu bagi lahirnya kerja sama nyata, program nyata, dan manfaat nyata bagi warga Nahdliyin.

Sebab NU tidak hanya membutuhkan kebesaran jumlah, tetapi juga membutuhkan kemandirian ekonomi, kualitas pendidikan, kekuatan sosial, dan kebermanfaatan yang benar-benar terasa sampai ke akar rumput.

Dari Jombang, harapan itu digantungkan. Dari sinergi Gus Kikin dan Presiden Prabowo, warga Nahdliyin menunggu bukti nyata.

WARTA GLOBAL JATIM.ID
Media Cepat, Akurat & Terpercaya
Pimpinan Redaksi
Nur Cholis