
NGANJUK Warta Global Jatim.id | 17 September 2026
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kawasan Gunung Wilis, perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan pantauan resmi BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, terdeteksi sebanyak 46 titik panas (hotspot) akibat kebakaran yang sedang berkobar di kawasan puncak Gunung Wilis sejak Rabu malam, 16 September 2026.
Kodisi terkini dari pergerakan api terpantau melalui satelit BMKG
- 46 Titik Panas: Tersebar di kawasan puncak Gunung Wilis, terpantau jelas melalui citra satelit BMKG.
- Arah Pergerakan: Kobaran api bergerak ke timur dan barat, langsung mengarah ke wilayah Kabupaten Nganjuk — kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
- Cuaca: Ceria berawan, suhu sekitar 22°C, angin dari arah selatan 5 km/jam. Angin ini berpotensi memperluas penyebaran api.
- Jarak ke Pemukiman: Sekitar 15 km dari permukiman terdekat, berada jauh di atas kawasan Wisata Air Terjun Sedudo. Meski belum langsung mengancam, ancaman merembet sangat nyata.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui BPBD Nganjuk telah mengerahkan tim gabungan untuk bersiaga penuh di sekitar jalur dan area bawah gunung guna mencegah api merembet lebih luas:
- BPBD Kabupaten Nganjuk
- TNI & Polri
- Perum Perhutani
- Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)
- Relawan masyarakat
Gunung Wilis bukan sekadar hutan ia adalah hulu sumber air yang menyuplai Air Terjun Sedudo dan kebutuhan air ribuan warga di enam kabupaten sekitarnya. Kebakaran ini berisiko:
- Menurunkan debit air Sungai Sedudo dan sumber air bersih warga
- Meningkatkan risiko longsor dan banjir saat musim hujan
- Merusak ekosistem hutan lindung yang dijaga turun-temurun
"Masyarakat diminta tidak mendaki ke kawasan puncak Wilis untuk sementara waktu dan segera melaporkan jika melihat asap atau titik api di sekitar hutan."imbauan BPPD Nganjuk.(Landung)


.jpg)