
SURABAYA – WARTA GLOBAL JATIM —
Diksi “kemenangan” ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih luas daripada sekadar siapa yang menjadi juara atau siapa yang memperoleh penghargaan.
Ada kemenangan-kemenangan lain yang sering luput dari sorotan: kemenangan karena mampu bertahan, kemenangan karena tetap berjuang, kemenangan karena berani mencoba kembali, dan kemenangan karena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan sesuatu yang selama ini diimpikan.
Makna itulah yang terasa dalam rangkaian Pekan Raya Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam menyambut mahasiswa baru tahun 2026. Di balik kemeriahan kegiatan, tersimpan banyak cerita perjuangan mahasiswa semester lima yang berhasil memenangkan kompetisi tingkat universitas.
Dari ribuan proposal yang masuk, sebanyak 70 proposal terpilih sebagai pemenang dan mendapatkan pendanaan. Pada hari terakhir expo, para mahasiswa tersebut memamerkan sekaligus memperkenalkan hasil pengembangan usaha dan gagasan mereka kepada pengunjung.
Dari luar, yang terlihat mungkin hanya booth, produk, poster, dan mahasiswa yang sibuk menjelaskan karya mereka.
Namun ketika kisahnya digali lebih dalam, ternyata ada begitu banyak mutiara yang tersembunyi.

Ada proses panjang di balik sebuah produk. Ada diskusi, percobaan, kegagalan, revisi, keterbatasan modal, hingga keberanian untuk kembali mencoba.
Dari Rumus Matematika Menjadi Peluang Usaha
Salah satu yang menarik terlihat dari mahasiswa Jurusan Matematika di Booth B.
Mereka mengembangkan media pembelajaran matematika untuk tingkat SD, SMP hingga SMA dalam bentuk kartu rumus yang dapat digunakan sekaligus sebagai gantungan kunci.
Sebuah gagasan sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
Media pembelajaran tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas, diproduksi dalam jumlah lebih banyak, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.
Yang menarik, mahasiswa mampu memanfaatkan ilmu yang mereka pelajari di program studi untuk dikembangkan menjadi sebuah produk kewirausahaan.
Di titik itu, muncul kembali sebuah pertanyaan penting dalam dunia pendidikan: bagaimana menghadirkan ide-ide brilian mahasiswa dari ruang kelas agar tidak berhenti sebagai teori?
Sebab ide yang baik tidak selalu lahir dari sesuatu yang rumit.
Kadang ide besar justru lahir dari kemampuan melihat sesuatu yang selama ini dianggap biasa, lalu bertanya:
“Bagaimana kalau ini kita kembangkan?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang.
Ketika Ilmu Menjadi Jalan Pengabdian
Kisah lain datang dari mahasiswa Jurusan Sosiologi di Booth 12A.
Mereka memilih jalur yang berbeda melalui kerajinan resin yang dihiasi cangkang telur.
Cangkang telur tersebut mereka dapatkan dari UMKM pembuat kue. Bahan yang selama ini mungkin dianggap limbah justru mereka olah menjadi produk bernilai, seperti tatakan gelas dan gelas kecil berbahan resin.
Yang lebih menarik, karya tersebut kemudian mereka kolaborasikan dengan Dinas Sosial (Dinsos) untuk melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam proses penghiasan produk.
Di sinilah kewirausahaan mahasiswa menemukan dimensi yang lebih luas. Mereka tidak sekadar membuat produk untuk dijual.
Mereka membawa gagasan filosofis bahwa mata kuliah yang dipelajari di ruang kelas harus mampu menjadi alat berpikir kritis untuk membaca persoalan masyarakat dan mencari bentuk implementasi yang nyata.
Ada satu kalimat dari mahasiswa yang terasa begitu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam:
“Perlu ada hal konkret yang bisa kami sumbangkan untuk masyarakat.”
Kalimat itu datang dari anak-anak muda yang masih berusia belasan tahun. Namun dari sana terlihat bahwa pendidikan tidak berhenti pada nilai akademik.
Ada kepedulian. Ada empati. Ada keinginan untuk hadir dan memberikan manfaat.
Dari Bambu Ponorogo, Menjadi Karya Bernilai
Cerita menarik lainnya datang dari Booth 11A.
Seorang mahasiswa semester lima yang tinggal di asrama dan berasal dari Ponorogo memamerkan souvenir plakat berbahan bambu.
Alasannya sederhana.
Di desanya banyak tersedia kayu dan bahan alam. Ia kemudian berpikir, bagaimana bahan tersebut bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi ketika dibawa dan dikembangkan di Surabaya?
Dana yang diperoleh dari kampus digunakan untuk membeli potongan bambu berbagai ukuran yang telah melalui proses finishing.
Setelah itu, bahan tersebut dirakit sendiri di asrama. Sederhana, tetapi memiliki potensi besar.
Jika keterampilan itu terus diasah, kemudian mendapatkan sentuhan desain, penguatan pemasaran digital, pengemasan, branding, serta jejaring pasar, bukan tidak mungkin karya tersebut berkembang menjadi sebuah usaha yang berkelanjutan.
Di titik inilah pendidikan kewirausahaan menemukan maknanya. Mahasiswa tidak hanya diajarkan untuk mencari pekerjaan.
Mereka juga diajak melihat kemungkinan untuk menciptakan pekerjaan, membuka peluang, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Expo Bukan Sekadar Pameran Produk
Bagi mahasiswa, expo seperti ini sesungguhnya adalah laboratorium kehidupan.
Mereka belajar bagaimana membuat produk, tetapi juga belajar menjelaskan gagasan, menerima pertanyaan, menghadapi kritik, menghitung biaya, membaca peluang pasar, bekerja dalam tim, serta mempertanggungjawabkan hasil kerja.
Kampus akhirnya bukan hanya tempat mahasiswa mempelajari teori. Kampus adalah tempat benih-benih kemungkinan tumbuh.
Ada yang kelak menjadi peneliti.
Ada yang menjadi pendidik.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang menjadi penggerak sosial.
Dan ada pula yang mungkin memilih jalan pengabdian dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Expo mahasiswa pada akhirnya bukan hanya ruang untuk memamerkan produk.
Ia adalah ruang untuk melihat masa depan.
Di balik setiap meja pameran, ada mahasiswa dengan cerita perjuangannya.
Ada dosen atau pendamping yang mengawal dari belakang.
Ada kegagalan yang tidak terlihat.
Ada proposal yang direvisi berkali-kali.
Ada desain kemasan yang harus diperbaiki.
Ada ide yang sempat diragukan.
Ada modal yang terbatas.
Ada rasa takut produknya tidak laku.
Ada kegelisahan apakah karya mereka akan diterima.
Namun mereka tetap datang.
Tetap memamerkan.
Tetap menjelaskan.
Tetap berharap.
Dan bukankah keberanian untuk tampil dan mencoba itu sendiri sudah merupakan sebuah kemenangan?
Tugas Pendamping Bukan Membuat Mahasiswa Tak Pernah Gagal
Dari pengalaman tersebut, semakin terasa bahwa tugas seorang pendamping bukanlah membuat mahasiswa selalu berhasil pada percobaan pertama.
Tugas kita justru membantu mereka agar tidak takut ketika gagal.
Mengajarkan bahwa produk yang belum laku bukan berarti gagasannya tidak bernilai.
Proposal yang belum diterima bukan berarti mereka tidak mampu.
Kritik dari pengunjung bukanlah penghukuman, melainkan bahan untuk memperbaiki diri.
Sebab dunia nyata memang tidak selalu memberikan tepuk tangan.
Kadang dunia memberikan pertanyaan.
Kadang keraguan.
Bahkan penolakan.
Namun justru dari sanalah mentalitas tumbuh.
Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah ide kecil akan membawa seseorang.
Karena masa depan memang tidak pernah ditulis sekaligus.
Ia dibangun dari keberanian-keberanian kecil yang dilakukan hari ini.
Kemenangan yang Paling Sunyi
Kemenangan bisa berupa mahasiswa yang berani mengubah ide menjadi karya.
Kemenangan bisa berupa anak-anak muda yang memilih mengabdikan ilmunya kepada kelompok yang membutuhkan.
Kemenangan bisa berupa seseorang yang berhasil mengubah limbah menjadi produk bernilai.
Kemenangan bisa berupa mahasiswa dari desa yang berani membawa potensi daerahnya untuk dikembangkan menjadi karya bernilai ekonomi.
Dan kemenangan bisa sesederhana:
Hari ini kita tidak menyerah.
Mungkin kelak, mereka tidak lagi mengingat secara detail sebuah expo.
Mereka mungkin lupa siapa yang berdiri di sebelahnya ketika menjelaskan produk.
Mereka mungkin lupa berapa kali harus memperbaiki proposal, desain kemasan, ataupun presentasi.
Tetapi semoga mereka mengingat satu hal:
Pernah ada orang-orang yang percaya kepada mereka.
Pernah ada seseorang yang mau mengawal mereka sampai larut.
Pernah ada seseorang yang rela menempuh perjalanan berkali-kali hanya untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika mereka telah berhasil, mereka akan melakukan hal yang sama kepada generasi setelahnya.
Karena begitulah inspirasi bekerja.
Ia berpindah dari satu hati ke hati yang lain.
Hari ini kita membersamai.
Esok mungkin kita yang akan dikenang.
Bukan karena seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi karena seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik setelah kita hadir di dalamnya.
Ada kemenangan di ruang kerja.
Ada kemenangan di ruang kelas.
Ada kemenangan di panggung expo mahasiswa.
Ada kemenangan dalam perjalanan menuju tempat bekerja.
Ada kemenangan di rumah ketika masih sempat menemani anak untuk berprestasi.
Dan ada pula kemenangan yang paling sunyi, ketika hati bergetar karena kedamaian dan rasa rindu kepada Rasulullah SAW kala lisan bershalawat.
Barangkali hidup memang bukan tentang menyelesaikan sebanyak mungkin urusan.
Hidup adalah tentang memastikan bahwa di antara banyak urusan yang kita jalani, masih ada ruang untuk memberi manfaat, mencintai, mendampingi, dan mengingat kepada siapa semua perjuangan ini pada akhirnya dipersembahkan.
Sebab mungkin, pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika dunia mengatakan kita berhasil.
Melainkan ketika hati kita sendiri berkata:
“Hari ini, kita telah berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi manusia yang bermanfaat.”
SURABAYA – WARTA GLOBAL JATIM


.jpg)