
Tradisi ini diisi sebagian masyarakat dengan berbagai amalan keagamaan, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, shalawat dan memperbanyak sedekah.
Dalam literatur keislaman, pembahasan mengenai Rebo Wekasan memang terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama. Salah satu sumber yang banyak dijadikan rujukan adalah kitab Kanzun Najah was-Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Makki. Di dalamnya disebutkan pandangan mengenai turunnya berbagai bala pada Rabu terakhir bulan Safar.
Namun, angka 320.000 bala tersebut bukanlah keterangan yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih, melainkan dinukil dari pandangan atau pengalaman spiritual sebagian ulama.
Bagaimana Dalil Amalan Rebo Wekasan?
Yang perlu dipahami, tidak terdapat nash Al-Qur'an maupun hadis sahih yang secara khusus memerintahkan shalat bernama “shalat Rebo Wekasan”. Karena itu, menurut penjelasan NU Online, apabila seseorang melaksanakan shalat pada momentum tersebut, sebagian ulama membolehkan dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan meniatkannya sebagai shalat khusus Rebo Wekasan.
Dengan demikian, masyarakat tetap dapat mengisi Rebo Wekasan dengan amalan-amalan yang memang memiliki dasar umum dalam syariat, seperti:
1. Memperbanyak doa dan dzikir
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
2. Melaksanakan shalat sunnah mutlak
Shalat sunnah pada dasarnya merupakan ibadah yang dianjurkan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam konteks Rebo Wekasan, terdapat ulama yang membolehkan pelaksanaannya dengan niat shalat sunnah mutlak.
3. Membaca Al-Qur'an
Membaca Surat Yasin maupun surat-surat Al-Qur'an lainnya dapat dilakukan sebagai bagian dari memperbanyak ibadah. Namun, hendaknya tidak diyakini sebagai kewajiban khusus yang ditetapkan syariat untuk Rebo Wekasan.
4. Memperbanyak sedekah
Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 195 agar kaum Muslimin membelanjakan harta di jalan Allah dan tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
Jangan Menjadikan Rebo Wekasan sebagai Keyakinan Bahwa Hari Sial
Rebo Wekasan hendaknya dijadikan momentum untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sebagai keyakinan bahwa hari tersebut pasti membawa kesialan.
Perbedaan pendapat mengenai Rebo Wekasan dan shalat yang dilakukan pada momentum tersebut merupakan persoalan yang telah dibahas oleh para ulama. Karena itu, masyarakat diharapkan tetap menjaga ukhuwah dan tidak saling mencela. NU Online juga menjelaskan bahwa perbedaan pandangan tersebut hendaknya tidak menjadi alasan untuk saling mempertentangkan atau melakukan perundungan.
Mari jadikan Rebo Wekasan sebagai momentum introspeksi diri. Perbanyak istighfar, dzikir, shalawat, membaca Al-Qur'an, shalat sunnah, berdoa dan bersedekah.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan serta perlindungan kepada kita, keluarga dan seluruh masyarakat dari segala bentuk musibah dan keburukan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Warta Global Jatim.id
*Mengabarkan Fakta, Menjaga Etika, Mengawal Informasi.*


.jpg)