NGANJUK, Warta Global Jatim.id
17 Mei 2026 ,Sebuah monumen bersejarah yang mengabadikan perjuangan hak asasi manusia dan hak-hak kaum pekerja kini berdiri kokoh di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kompleks Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, yang baru saja diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Sabtu (16/5/2026) kemarin, ternyata dibangun atas dasar semangat persatuan dan gotong royong murni dari keluarga besar serikat pekerja di Indonesia. Terungkap bahwa pembangunan fasilitas bersejarah ini menelan biaya sekitar Rp 3,8 miliar rupiah, yang seluruhnya bersumber dari dana mandiri dan swadaya masyarakat pekerja, tanpa sepeser pun menggunakan uang negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fakta mengenai sumber pendanaan ini disampaikan secara tegas oleh jajaran pimpinan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), organisasi yang menjadi motor utama berdirinya bangunan peringatan ini. Di bawah kepemimpinan Andi Gani Nena Wea, KSPSI bertekad kuat mewujudkan mimpi memiliki ruang pengingat sejarah yang khusus didedikasikan untuk mengenang sosok Marsinah, seorang buruh perempuan yang gugur di tengah perjuangannya membela keadilan dan hak-hak rekan kerjanya, yang kini namanya tercatat abadi sebagai simbol perlawanan dan keberanian rakyat kecil.
Pembangunan kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 938 meter persegi ini memakan waktu pengerjaan cukup lama dan melibatkan partisipasi luas dari berbagai elemen serikat pekerja di seluruh Indonesia. Dana sebesar Rp 3,8 miliar yang terkumpul bukanlah bantuan hibah atau alokasi program pemerintah, melainkan hasil sumbangan sukarela, iuran anggota, serta dukungan berbagai pihak yang peduli akan nilai sejarah dan perjuangan buruh. Uang tersebut digunakan sepenuhnya untuk pembangunan dua bangunan utama, yaitu gedung museum memorial yang berisi koleksi peninggalan dan sejarah hidup Marsinah, serta bangunan rumah singgah yang nantinya berfungsi sebagai ruang edukasi, pertemuan, dan refleksi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda dan kaum pekerja.
“Kami tegaskan dengan lantang dan jelas: pembangunan Museum dan Rumah Singgah Marsinah ini 100 persen murni berasal dari swadaya dan gotong royong keluarga besar KSPSI, dari ujung Sabang sampai Merauke. Tidak ada satu rupiah pun yang kami ambil atau gunakan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maupun bantuan langsung dari kementerian atau lembaga pemerintahan mana pun. Ini adalah bukti cinta, rasa hormat, dan tanggung jawab kami sebagai keluarga besar pekerja untuk mengabdi pada sejarah dan mengenang jasa salah satu putri terbaik bangsa, Marsinah,” tegas Andi Gani Nena Wea dalam keterangannya menjelang peresmian kemarin.
Keputusan untuk membangun tempat ini atas kekuatan sendiri merupakan bentuk ketegasan KSPSI agar nilai-nilai yang diperjuangkan Marsinah tetap murni, mandiri, dan menjadi milik sepenuhnya kaum pekerja. Bagi KSPSI, keberadaan museum ini adalah bukti nyata bahwa perjuangan Marsinah tidak berhenti saat ia tiada, melainkan terus hidup dan dibawa ke masa depan. Bangunan ini didirikan bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan sebagai tonggak semangat agar hak-hak buruh, rasa keadilan, dan penghormatan terhadap manusia terus diperjuangkan di Indonesia.
Momen puncak dari seluruh kerja keras dan pengumpulan dana tersebut terjadi kemarin, Sabtu 16 Mei 2026, saat Presiden Prabowo Subianto hadir langsung di lokasi untuk meresmikan kompleks ini secara nasional. Kehadiran Kepala Negara menjadi penegas bahwa meskipun dibangun atas dana swadaya serikat pekerja, penghormatan terhadap sosok Marsinah adalah penghormatan seluruh bangsa Indonesia. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo bahkan menyebut keberadaan museum ini sebagai peristiwa langka dan mungkin satu-satunya di dunia, di mana ada bangunan khusus yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan seorang buruh.
“Museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol, dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang muda, seorang perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh dan hak-hak rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan,” ujar Presiden Prabowo di hadapan ribuan massa yang hadir.
Peresmian ini sekaligus menjawab segala kerja keras KSPSI selama proses pembangunan. Fakta bahwa dana miliaran rupiah terkumpul secara sukarela menunjukkan betapa besar pengaruh dan makna sosok Marsinah di hati para pekerja. Bagi masyarakat Kabupaten Nganjuk, keberadaan fasilitas ini menjadi kebanggaan tersendiri. Kini, daerah mereka tidak hanya dikenal sebagai wilayah agraris, tetapi juga sebagai tempat lahirnya sejarah perjuangan hak asasi manusia yang diabadikan selamanya.
Setelah diresmikan, Museum dan Rumah Singgah Marsinah kini resmi menjadi aset sejarah bangsa dan destinasi wisata edukasi baru di Jawa Timur. Pengelolaan ke depannya pun akan tetap berjalan mandiri dengan dukungan keluarga besar KSPSI, agar pesan yang disampaikan Marsinah lewat perjuangannya senantiasa terdengar, dipelajari, dan dijadikan landasan dalam membangun hubungan industrial yang adil, beradab, dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.(Tom-red)


.jpg)