NGANJUK Warta Global Jatim.id
Suasana haru dan sukacita menyelimuti wilayah Kabupaten Nganjuk, khususnya di Kecamatan Kertosono dan sekitarnya, saat ribuan warga bersama tokoh masyarakat dan pemerhati sejarah setempat menyambut kedatangan rombongan biksu Thudong dalam rangkaian acara Indonesia Walk for Peace 2026. Peristiwa ini menjadi momen bersejarah yang mempererat persaudaraan antarumat beragama dan keberagaman budaya di bumi Anjuk Ladang.
Kedatangan rombongan yang berjalan kaki ini disambut secara khusus oleh komunitas pemerhati sejarah Nganjuk yang dimotori oleh Sugiarto, atau yang akrab disapa Kang Ujang. Dalam penyambutan yang digelar, suasana semakin meriah dan kental nuansa budaya dengan kehadiran iring-iringan kesenian Barongsai dari Klenteng Kudu, Kertosono. Pertunjukan seni ini tidak hanya memukau mata para hadirin, namun juga menjadi simbol kehormatan, kegembiraan, dan doa keselamatan bagi para perjalanan suci para biksu.
Rombongan biksu Thudong ini diketahui bergerak melintasi wilayah Kecamatan Kertosono dan akan meneruskan perjalanan menuju Kecamatan Sukomoro, yang keduanya merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Nganjuk. Jalanan utama yang dilalui rombongan tampak dipadati warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, yang telah berkumpul sejak pagi hari untuk menanti dan memberi penghormatan.
Menurut keterangan yang dihimpun, kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 ini merupakan perjalanan suci yang memiliki tujuan mulia, yaitu menyebarkan pesan kedamaian, kasih sayang, dan persatuan, serta puncaknya akan dilaksanakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dalam rangka memperingati dan merayakan Hari Raya Waisak tahun 2026.
Secara rinci, rombongan yang berjalan kaki ini beranggotakan sekitar 58 orang Bhante atau biksu yang berasal dari berbagai negara sahabat dan wilayah Nusantara, meliputi Thailand, Malaysia, Laos, Singapura, serta perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia. Perjalanan panjang ini telah dimulai dari Pulau Bali, kemudian melintasi wilayah Provinsi Jawa Timur, termasuk Kabupaten Nganjuk, sebelum akhirnya akan menyeberang dan masuk ke wilayah Jawa Tengah menuju destinasi akhir di Candi Borobudur.
Sugiarto (Kang Ujang), selaku inisiator dan koordinator dari pemerhati sejarah Nganjuk, menyampaikan bahwa kehadiran rombongan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga penyebaran nilai-nilai luhur ajaran agama dan kearifan budaya. "Bagi kami masyarakat Nganjuk, kedatangan para Bhante ini adalah sebuah kehormatan besar. Kami menyambutnya dengan hati yang terbuka dan penuh sukacita, serta melibatkan unsur budaya lokal seperti Barongsai sebagai wujud keragaman yang bersatu dalam kedamaian," ujar Kang Ujang di sela-sela acara penyambutan.
Ia juga menambahkan bahwa perlintasan rombongan ini menjadi bukti sejarah akan kembali dilaluinya jalur-jalur penghubung peradaban yang dulu juga sering dilalui oleh para pendeta, biksu, dan pedagang di masa lampau. Nganjuk yang memiliki banyak peninggalan sejarah, menjadi saksi hidup dari harmoni lintas budaya dan agama yang terus terpelihara hingga kini.
Penyambutan yang dilakukan warga Nganjuk dinilai sangat tertib, khidmat, namun tetap meriah. Kehadiran kesenian Barongsai dari Klenteng Kudu turut memeriahkan suasana, menciptakan harmoni unik antara tradisi keagamaan dan seni budaya masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat toleransi dan kerukunan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Kabupaten Nganjuk.
Mengingat perjalanan rombongan Bhante Thudong ini masih akan terus melintas di berbagai wilayah Kabupaten Nganjuk dan daerah daerah lain di Jawa Timur, penting bagi masyarakat umum untuk mengetahui etika dan tata cara menyambut, memberikan penghormatan, serta berinteraksi dengan para biksu dengan cara yang sopan, santun, dan sesuai dengan aturan adat serta ajaran yang berlaku.
Kehadiran rombongan biksu Thudong dalam rangka Indonesia Walk for Peace 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa nilai kedamaian dan persatuan senantiasa hidup di Indonesia, dan Kabupaten Nganjuk bangga dapat menjadi bagian dari jejak sejarah perjalanan suci ini menuju Candi Borobudur. Masyarakat diimbau untuk terus menjaga semangat kerukunan dan menyambut perjalanan ini dengan hati yang tulus serta etika yang luhur.(Tomo)


.jpg)