Jejak Cahaya di Bukit Putro Wali Sumbersono Lengkong - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Jejak Cahaya di Bukit Putro Wali Sumbersono Lengkong

Tuesday, 5 May 2026


Nganjuk Warta Global Jatim.id
Di lereng utara rangkaian pegunungan yang membentang di wilayah Nganjuk, tepatnya di Desa Sumbersono, Kecamatan Lengkong, berdiri sebuah bukit yang diselimuti kabut dan kesakralan. Penduduk setempat menyebutnya Gunung Putro Wali. Nama itu bukan sekadar nama, melainkan sebuah doa dan sejarah. "Putro" berarti anak, dan "Wali" berarti kekasih Allah SWT. Tempat ini menyimpan misteri religi yang kental, seolah-olah angin yang berhembus masih membawa bisikan dzikir dari masa lampau.
 
Di tengah rimbunnya hutan yang menaungi gunung itu, terdapat sebuah makam tua yang terawat namun terlihat sangat kuno. Konon, itu adalah makam Mbah Putro. Menurut tutur leluhur, Mbah Putro bukanlah orang sembarangan. Beliau dipercaya sebagai anak cucu, keturunan langsung dari seorang Waliyullah yang gigih menebarkan cahaya Islam di tanah Jawa: Sunan Geseng.
 
Siapakah Sunan Geseng?
 
Kisah penyebaran agama Islam di Jawa Timur, meliputi Nganjuk, Kediri, hingga Tuban, tidak bisa dilepaskan dari sosok Ki Cokrojoyo atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Geseng. Beliau adalah seorang murid kinasih (kesayangan) dari Sunan Kalijaga.
 
Ada kisah unik di balik nama "Geseng". Dulu, saat beliau mengasingkan diri dan bertapa di tengah hutan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebuah kebakaran besar melanda hutan tersebut. Api berkobar dengan ganas, namun tubuh beliau yang hangus terbakar itu tetap hidup dan terus bertapa atas izin-Nya. Maka, Sunan Kalijaga memberikan gelar "Geseng" yang berarti hangus atau gosong, sebagai tanda karomah dan kesabaran yang luar biasa.
 
Sunan Geseng berdakwah bukan dengan pedang, melainkan dengan budaya, kesederhanaan, dan hati yang lembut. Beliau dulunya adalah seorang petani dan penderes nira kelapa. Saat bekerja menyadap nira, beliau sering melantunkan tembang "Lilo, lilo, lilo" yang berarti ikhlas dan sabar menerima segala ketentuan Tuhan.
 
Ajaran dzikir yang beliau bawa pun unik. Beliau mengajarkan "Ya Hayyu Ya Qayyum" (Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri). Namun karena lidah orang Jawa saat itu sulit melafalkan huruf Hijaiyah dengan fasih, dzikir itu terdengar seperti "Yo kayuku, yo kayumu", yang maknanya tetap sama: penyembahan total hanya kepada Allah SWT.
 
Dakwah yang Menyebar ke Nganjuk
 
Meskipun makam utama Sunan Geseng banyak dikenal di wilayah Tuban dan jejaknya kuat di Kediri, pengaruh dakwahnya merambat hingga ke Nganjuk. Wilayah Nganjuk yang berada di antara Kediri dan Tuban menjadi jalur penting penyebaran ajaran Islam melalui jaringan pesantren dan petilasan kuno.
 
Dari sanalah lahir generasi penerus, para ulama dan pemimpin yang menjaga api iman di daerah ini. Salah satu keturunannyalah yang kemudian dikenal sebagai "Mbah Putro", yang memilih mengabdi dan menetap di bukit yang kini disebut Gunung Putro Wali.
 
Mbah Putro meneruskan jejak kakek buyutnya. Beliau hidup menyatu dengan alam, mengajarkan masyarakat tentang ketakwaan, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ketika beliau wafat, beliau dimakamkan di tempat yang paling ia cintai, di puncak bukit yang menghadap ke hamparan sawah dan desa.
 
Misteri dan Kesakralan Hingga Kini
 
Hingga saat ini, Gunung Putro Wali tetap dijaga kesakralannya. Penduduk percaya bahwa tempat ini adalah tanah yang diberkahi, tempat di mana doa-doa lebih cepat dikabulkan dan hati lebih mudah tenang. Aura mistis yang terasa bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan rasa hormat dan kedamaian yang mendalam.
 
Makam "Mbah Putro" di  diatas bukit sekelilingi hutan, menjadi saksi bisu. Bahwa Islam masuk ke tanah Nganjuk bukan dengan kekerasan, melainkan dengan keteladanan, kesabaran, dan cinta yang tulus kepada Allah dan sesama manusia. Gunung Putro Wali pun kini bukan hanya sekadar gundukan tanah dan bebatuan, melainkan monumen hidup bahwa "Anak" dari kekasih Allah telah menanamkan akar iman yang kokoh di bumi Lengkong, Nganjuk.Legenda dan Budaya Ngajuk (Tomo)