ANGGARAN PENDIDIKAN 2025-2026, "LANGKAH MENJADI PILAR KEMAJUAN ATAU HARAPAN YANG BELUM TERWUJUD?"... - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

ANGGARAN PENDIDIKAN 2025-2026, "LANGKAH MENJADI PILAR KEMAJUAN ATAU HARAPAN YANG BELUM TERWUJUD?"...

Friday, 27 February 2026


Siti Bidayah Minarsih S.pd Pengamat pendidikan Nganjuk 

Nganjuk Warta Global Jatim.id

Pendidikan sebagai pondasi kemajuan bangsa mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Indonesia, tercermin dalam pertumbuhan anggaran yang signifikan pada tahun 2025 dan rencana yang ambisius untuk 2026. Namun, tantangan yang ada membutuhkan pemantauan ketat agar setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi siswa, guru, dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Anggaran 2025: Langkah Maju dengan Fokus pada Akses dan Kesejahteraan.

Anggaran pendidikan tahun 2025 mencapai Rp 724,3 triliun, naik dari Rp 665 triliun pada tahun sebelumnya dan tetap memenuhi target 20% dari total APBN sesuai UUD 1945. Alokasi dana ini difokuskan pada beberapa program kunci,Pembangunan infrastruktur: Membangun dan merehabilitasi 22 ribu sekolah untuk memperbaiki fasilitas pembelajaran.

Bantuan keuangan: Program Kartu Indonesia Pintar (KIP), Indonesia Pintar (PIP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan beasiswa LPDP untuk memastikan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

-Kesejahteraan guru: Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk 477,7 ribu guru non PNS, serta dukungan untuk digitalisasi pembelajaran dan program makan bergizi gratis.
Meskipun peningkatan anggaran ini patut diapresiasi, tantangan utama terletak pada implementasi yang efektif. Masih ada kekhawatiran tentang distribusi dana yang tidak merata antar daerah, terutama di wilayah terpencil, serta potensi penyalahgunaan yang dapat mengurangi manfaat program.

Anggaran 2026: Target Ambisius dengan Fokus pada Kualitas dan Transparansi.

Untuk tahun 2026, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengajukan anggaran sebesar Rp 928,52 triliun atau setara dengan 4% dari PDB negara, yang merupakan angka rekorsetuplah1. Alokasi ini bertujuan untuk mengatasi masalah krusial dalam pendidikan:
Infrastruktur kelas: Rp 13,2 triliun untuk membangun hampir 4.900 kelas baru, dengan target menambah hingga 40.000 kelas pada tahun 2028 melalui kerja sama dengan sektor swasta dan pemerintah daerah.
Nutrisi siswa: Rp 11,8 triliun untuk melanjutkan program makan bergizi di sekolah bagi siswa taman kanak-kanak dan SD yang kekurangan gizi.
Digitalisasi: Rp 16 triliun untuk membeli laptop bagi guru dan menghubungkan sekolah yang belum memiliki akses internet.
Karier guru: Rp 6 triliun untuk program kenaikan pangkat dan promosi bagi 113.00 guru serta kepala sekolah, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme mereka.

Untuk memastikan akuntabilitas, pemerintah akan menggunakan dasbor publik dan platform pemerintahan terbuka agar masyarakat dapat memantau pelaksanaan program secara real-time. Ini adalah langkah penting untuk membangun kepercayaan dan memastikan bahwa anggaran digunakan dengan tepat.

Tantangan yang Perlu Dihadapi

Meskipun rencana anggaran terlihat komprehensif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:Penyebaran yangq merata: Perlu dipastikan bahwa program dan dana dapat menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia, termasuk di Jawa Timur khususnya Kabupaten Nganjuk, agar tidak ada siswa yang terlewatkan.

Pencegahan pungutan liar: Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, seperti  yang lagi viral di Kab Nganjuk,perlu ada tindakan yang displioner,pengawasan ketat untuk mencegah praktik pungli yang dapat menjegal akses pendidikan bagi siswa dari keluarga tidak mampu.Efisiensi penggunaan dana: Meskipun anggaran besar dialokasikan, perlu ada upaya untuk meningkatkan efisiensi agar setiap rupiah memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat.

Anggaran pendidikan tahun 2025 dan 2026 menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Namun, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada jumlah dana yang dialokasikan, tetapi juga pada implementasi yang baik dari Mental oknum oknum pelaku Pendidikan yang bersih jujur ,dan juga pengawasan yang ketat dari pemangku kewenangan.

Opini .

oleh : Siti Bidayah Minarsih S.Pd