Wartaglobal.id|ACEH UTARA, ACEH - Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kondisi lokasi terdampak bencana di Kabupaten Aceh Utara pada Kamis (22/1/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia mengunjungi Dusun Seulemak, Kecamatan Langkahan, di mana menyempatkan diri bersantap siang bersama para pengungsi dan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala BNPB Suharyanto, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, serta pejabat terkait lainnya.
Selain makan bersama pengungsi di dalam tenda dengan beragam menu makanan, Tito juga menyerahkan bantuan berupa bahan makanan dan perlengkapan tidur kepada warga terdampak. Kunjungan ke Aceh Utara ini merupakan bagian dari rangkaian agenda kerja Kasatgas ke daerah terdampak bencana di Aceh, setelah sebelumnya mengunjungi Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen pada hari sebelumnya.
Dusun Seulemak termasuk salah satu daerah yang terkena dampak cukup parah akibat banjir yang melanda Aceh pada akhir tahun 2025. Banyak rumah tinggal warga mengalami kerusakan berat bahkan hilang total setelah tersapu arus banjir yang menyertai lumpur tebal. Kondisi tersebut membuat sebagian besar masyarakat terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda yang disediakan oleh pihak berwenang.
Tito Karnavian menyebutkan bahwa telah terjadi kemajuan signifikan dalam penanganan pascabencana di wilayah tersebut sejak kunjungan pertamanya. Hal ini terlihat jelas dari kondisi akses jalan yang kini sudah bisa dilalui dengan lancar, berbeda dengan sebelumnya yang seluruhnya tertimbun lumpur tebal sehingga sulit ditembus. "Saya lihat ada kemajuan dibanding saya datang pertama, jalannya, jalan-jalan aksesnya sudah terbuka, tadinya lumpur semua," ujarnya.
Menurut Tito, prioritas utama percepatan penanganan yang perlu segera dilakukan adalah membangun hunian sementara (huntara) agar tidak ada lagi pengungsi yang tinggal di tenda. Bagi masyarakat yang tidak ingin tinggal di huntara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk membantu mereka menyewa rumah atau tinggal bersama keluarga.
Bantuan DTH akan diberikan sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan, dengan total nilai Rp1,8 juta per keluarga. Selain itu, bantuan tersebut juga dapat dikombinasikan dengan skema uang lauk-pauk dari Kementerian Sosial sebesar Rp15 ribu per individu setiap hari. "Kalau dia kontrak Rp1,8 juta tiga bulan, setiap hari juga dapat makan. Uang makan Rp15 ribu per orang per hari. Kalau 4 orang, berarti Rp60 ribu," jelas Tito menjelaskan perhitungan bantuan.
Tito menegaskan pentingnya melakukan pendataan yang lebih detail terhadap seluruh masyarakat terdampak, termasuk pemilikan rumah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat. "Saya minta kepada Bupati segera kumpulkan para keuchik (kepala desa) dan camat untuk [masyarakat terdampak] didata. Jangan sampai [bantuan tersebut] salah sasaran. Betul-betul kepada masyarakat yang terdampak. Ini uang negara," pungkasnya. Kunjungan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan kondisi masyarakat Aceh Utara pascabencana.
Sumber
Puspen Kemendagri


.jpg)