jatim.wartaglobal.id - BATU. Pada tanggal 9 Juli 2024, di Songgoriti, digelar acara Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo yang mengusung tema "Mulih Mula Mulanira". Tema ini mengandung makna bahwa masa lalu, sekarang, dan masa depan adalah satu kesatuan yang harus dipahami secara utuh. Acara ini menjadi ajang untuk merenungkan tatanan dan tuntunan hidup yang berasal dari asal-usul, dengan prinsip bahwa kodrat kebebasan makhluk tetap memiliki batasan, dan keutamaan hakiki hanya dimiliki oleh Hyang Akaryo Jagad. Peserta diingatkan untuk tetap berada pada jalan kendalining diri, agar tidak melupakan jati diri dan nilai-nilai luhur.
Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo merupakan event tahunan yang telah memasuki tahun ke-16. Acara ini diikuti oleh ratusan kelompok Bantengan dari Kota Batu dan Malang Raya. Keunikan acara ini terletak pada kemampuannya untuk merangkul berbagai jenis kesenian, mulai dari seni teater, tari, musik, hingga seni lainnya. Tidak hanya itu, acara ini juga berhasil melibatkan seniman dan budayawan lokal hingga nasional, termasuk dari Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan beberapa wilayah Indonesia lainnya. Bahkan, beberapa artis nasional turut memberikan dukungan melalui media sosial untuk mendukung kesuksesan acara ini.
Konsep yang diusung dalam acara ini adalah "menembus batas", di mana semua kalangan dari berbagai usia, gender, latar belakang, suku, dan agama dapat bersatu untuk ikut serta dalam acara tersebut. Acara dimulai dengan prosesi ritual untuk memohon keselamatan, kelancaran, dan kesuksesan acara kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dilanjutkan dengan penampilan menarik dari berbagai sanggar dan kelompok seni yang turut hadir dalam acara tersebut.
Acara Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo juga menjadi momentum untuk meluncurkan batik khas Mpu Supo yang diberi nama 'Rwa Bhineda'. Batik ini merupakan hasil kolaborasi antara Ki Joko Laksono Putro dan Paguyuban Bantengan Empu Supo, yang mengangkat makna perbedaan sebagai simbol keseimbangan semesta. Tidak hanya itu, acara ini juga menandai penyerahan wayang kulit Dadung Awuk sebagai ikon Paguyuban Bantengan Empu Supo, sebagai wujud pelestarian dan pemajuan kebudayaan sebagai upaya menjaga identitas bangsa.
Dukungan luar biasa juga diberikan oleh berbagai instansi, seperti Dewan Kesenian Kota Batu, Dinas Pariwisata Kota Batu, Pramuwisata Songgoriti, Masyarakat Songgoriti, Paguyuban Villa Songgoriti, dan beberapa komunitas audio seperti Calista Sound System. Tidak lupa, keamanan acara juga mendapat dukungan dari Polsek, Polres, dan TNI yang bertugas di Kota Batu. Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah sebagai bentuk rasa syukur, pelestarian budaya, serta pemajuan kebudayaan sebagai upaya menjaga identitas bangsa.
Para penggerak dan humas Paguyuban Bantengan Empu Supo, Udik Arianto dan Ahmad Choirul Amirrudin, berharap agar acara ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan budaya lokal. Mereka mengungkapkan harapannya agar seni yang diusung dalam acara ini dapat terus dijunjung tinggi dan memberikan manfaat yang besar bagi ekonomi, sosial, seni, dan budaya. Dengan demikian, tercipta 'seni kejadian berdampak' yang memberikan nilai positif bagi masyarakat secara luas.
(fer/red**)


.jpg)