ASN Kabupaten Malang Gagas Kerja Sama Malang Raya–Bali: Peluang Baru Kembangkan Potensi Wisata Melalui Kolaborasi Pentahelix - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

ASN Kabupaten Malang Gagas Kerja Sama Malang Raya–Bali: Peluang Baru Kembangkan Potensi Wisata Melalui Kolaborasi Pentahelix

Thursday, 29 October 2026
 
 WARTAGLOBAL.ID
  • MALANG — Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Malang mengusulkan terobosan baru untuk mengangkat daya saing pariwisata daerah. Melalui penelitian tesisnya, Fifi Indayati menawarkan konsep kerja sama Sister City antara Malang Raya dan Bali, guna menjembatani keunggulan alam daerah dengan pengelolaan profesional yang telah dimiliki pulau dewata. Sidang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (28/10/2026).
 
 
Selasa, 28 Oktober 2026, menjadi momen penting bagi Fifi Indayati, seorang ASN di Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang. Hari itu, ia menjalani sidang tesis program Magister Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan mengangkat gagasan strategis: kerja sama pengembangan pariwisata antara kawasan Malang Raya dan Provinsi Bali. Usulan ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap potensi sekaligus tantangan yang dihadapi destinasi wisata di daerahnya.
 

Dalam sidang yang berlangsung di kampus UMM tersebut, Fifi menjelaskan bahwa banyak objek wisata di Malang Raya sebenarnya memiliki daya tarik luar biasa. Namun, keindahan tersebut belum disertai pengelolaan yang maksimal. Hambatan utamanya bukan terletak pada kurangnya keindahan alam atau budaya, melainkan pada terbatasnya jaringan promosi dan kurangnya kolaborasi antar-pemangku kepentingan.
 

"Kondisi ini membuat destinasi wisata kita tidak bisa berkembang secara berkelanjutan," ujar Fifi seusai sidang tesisnya. Ia menekankan bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk menarik pengunjung dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat setempat. Diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan melibatkan berbagai pihak.
 

Oleh karena itu, dalam penelitiannya Fifi mengangkat model kolaborasi Pentahelix sebagai kerangka kerja pengembangan pariwisata. Model ini melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, dunia akademik, komunitas atau masyarakat, media, serta pelaku bisnis dan investor. Kelima pihak tersebut diharapkan dapat duduk bersama merumuskan strategi yang terpadu.
 

"Kalau hanya pemerintah saja yang bergerak, akan lambat. Kalau hanya komunitas saja, akan terbatas modal dan jaringan. Harus duduk bersama," tegas Fifi. Pendekatan ini diyakini dapat menutupi kelemahan masing-masing pihak dan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bagi seluruh pemangku kepentingan.
 

Salah satu gagasan utama yang ditawarkannya adalah menjajaki kerja sama kemitraan strategis antara kawasan Malang Raya dengan Provinsi Bali melalui konsep Sister City atau Sister Province. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang pertukaran pengalaman dan pengetahuan di bidang pengelolaan pariwisata.
 

Menurut Fifi, Bali memiliki keunggulan yang telah diakui dunia, terutama dalam manajemen desa wisata, layanan keramahtamahan, serta jaringan promosi internasional. Sementara itu, Malang Raya menyimpan kekayaan alam, budaya, dan desa wisata yang sangat otentik namun belum tergarap secara optimal. Kedua kekuatan ini saling melengkapi.
 

"Jika Malang Raya dan Bali bisa bersister city, maka akan terjadi transfer pengetahuan, promosi bersama, dan penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kita," jelas Fifi. Ia membayangkan pertukaran pengelola wisata, pelatihan bersama, hingga paket kunjungan wisata terpadu yang mempertemukan destinasi kedua wilayah.
 

Lebih dari sekadar kerja sama promosi, Fifi berharap hasil penelitiannya dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pariwisata. Pengembangan destinasi tidak boleh hanya berfokus pada keindahan alam semata, tetapi harus disertai tata kelola yang profesional dan strategi promosi yang efektif.
 

"Harapan saya, hasil tesis ini tidak hanya berhenti di perpustakaan kampus, tetapi bisa menjadi masukan kebijakan bagi pemerintah daerah untuk berani membuka kerja sama lintas provinsi," pungkasnya. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah adalah kunci agar pariwisata benar-benar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
 

Saat ini, gagasan kerja sama Malang Raya–Bali tersebut masih berupa usulan akademik. Realisasinya memerlukan pembahasan lebih lanjut serta penjajakan resmi dengan pemerintah daerah terkait, termasuk Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kota/kabupaten di kawasan Malang Raya. Langkah kecil namun bermakna besar telah dimulai dari sebuah tesis yang lahir di kampus UMM.
 
 
 Red/fer