
SURABAYA, WARTA GLOBAL JATIM.ID – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Surabaya berlangsung khidmat, penuh semangat kebangsaan, dan sarat makna historis. Melalui Apel dan Doa Bersama yang digelar pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Surabaya menggelorakan kembali semangat perjuangan ulama, santri, dan arek-arek Suroboyo di kawasan Makam Pahlawan Bung Tomo, Jalan Bung Tomo Nomor 9, Pucang Sewu, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kota Surabaya, Satkorcab Banser Kota Surabaya, bersama Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Ngagelrejo tersebut mengusung tema:

“Merajut Juang Santri, Mewarisi Jiwa Pahlawan dari Makam Bung Tomo untuk Negeri.”
Apel yang diikuti pasukan Ansor-Banser serta dihadiri unsur TNI-Polri, instansi pemerintahan, BAZNAS Kota Surabaya, jajaran pengurus Nahdlatul Ulama, badan otonom (Banom) NU, dan tokoh masyarakat ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meneguhkan nasionalisme, serta menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan perjuangan para pendahulu bangsa.

Suasana khidmat semakin terasa karena kegiatan dilaksanakan di kawasan makam tokoh perjuangan yang lekat dengan sejarah heroik Kota Surabaya.
GUS ACNAF: JANGAN BIARKAN SEMANGAT PERJUANGAN PAHLAWAN MEMUDAR!
Dalam amanatnya sebagai pembina apel, Gus Acnaf mengajak seluruh kader Ansor-Banser untuk memahami secara mendalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati masyarakat saat ini bukanlah hadiah yang datang dengan mudah. Kemerdekaan lahir melalui pengorbanan besar para pejuang yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi masa depan bangsa, bahkan banyak di antara mereka yang gugur tanpa sempat menikmati hasil perjuangannya.

Menurutnya, Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri perjuangan rakyat Indonesia. Ancaman kembalinya kekuatan kolonial masih membayangi, termasuk di Surabaya yang kemudian menjadi salah satu pusat perlawanan besar terhadap upaya penjajahan kembali.
Dalam situasi tersebut, para kiai dan ulama mengambil peran penting dengan menggerakkan kekuatan umat, membangkitkan semangat santri, serta mendorong keterlibatan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Gus Acnaf menekankan bahwa para ulama tidak hanya memikirkan keselamatan diri dan keluarganya, tetapi juga memikirkan nasib umat, masa depan generasi penerus, serta keutuhan bangsa Indonesia.
Semangat itulah yang kemudian tercermin dalam Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Amanat tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi kader Ansor-Banser bahwa perjuangan generasi sekarang tidak selalu diwujudkan melalui medan perang, melainkan melalui pengabdian, kepedulian sosial, penjagaan moral masyarakat, serta komitmen menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
RESOLUSI JIHAD DAN PERAN ULAMA DALAM PERTEMPURAN SURABAYA
Dalam amanatnya, Gus Acnaf juga mengaitkan semangat Resolusi Jihad dengan perjuangan arek-arek Suroboyo bersama para santri dan elemen masyarakat dalam menghadapi pasukan Sekutu yang datang kembali ke Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Perjuangan tersebut mencapai salah satu puncaknya dalam Pertempuran Surabaya pada November 1945. Semangat perlawanan rakyat, keberanian para pejuang, serta seruan perjuangan yang disuarakan melalui berbagai elemen bangsa menjadi bagian penting dari sejarah kepahlawanan Indonesia.
Nama Bung Tomo pun terus dikenang sebagai salah satu tokoh sentral yang membangkitkan semangat perlawanan rakyat Surabaya.

Bagi Ansor-Banser, sejarah tersebut bukan sekadar kisah masa lalu yang diperingati setiap tahun. Sejarah perjuangan merupakan amanah yang harus diteruskan melalui tindakan nyata, kedisiplinan organisasi, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian membela kepentingan masyarakat.
Gus Acnaf mengajak seluruh kader agar tidak melupakan jasa para pahlawan, para kiai, para santri, dan seluruh pejuang yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemerdekaan bangsa.
Ia juga mengajak peserta apel untuk mendoakan para pendahulu agar mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT atas pengorbanan dan perjuangan mereka.
ANSOR-BANSER DIAJAK AKTIF MENJAGA LINGKUNGAN DAN MORAL MASYARAKAT
Selain mengingatkan pentingnya sejarah perjuangan, Gus Acnaf menyampaikan pesan kepada kader Ansor-Banser Kota Surabaya agar senantiasa meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan masing-masing.
Ia menekankan pentingnya saling memantau, menjaga komunikasi, dan memperhatikan berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Kader Ansor-Banser diharapkan tidak hanya hadir ketika ada kegiatan organisasi, tetapi juga mampu menjalankan fungsi pengabdian sosial secara berkelanjutan.
Menurut pesan yang disampaikan dalam amanat tersebut, upaya menjaga lingkungan juga perlu disertai kepedulian terhadap persoalan moral dan potensi kemaksiatan di tengah masyarakat. Apabila menemukan persoalan, kader diharapkan mengedepankan komunikasi, koordinasi dengan pihak terkait, serta langkah yang sesuai dengan ketentuan hukum.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kekuatan Ansor-Banser tidak semata-mata terletak pada jumlah personel, tetapi juga pada kedisiplinan, persaudaraan, kepedulian, dan kemampuan menjalankan pengabdian secara bertanggung jawab.

Gus Acnaf juga berharap peringatan Hari Santri Nasional pada masa mendatang dapat dimaknai secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat karakter santri dan meningkatkan kontribusi bagi masyarakat, agama, dan negara.
SINERGI TNI-POLRI, PEMERINTAH, BAZNAS, DAN NAHDLATUL ULAMA
Apel Hari Santri Nasional 2026 ini turut memperlihatkan sinergi lintas sektor antara organisasi kepemudaan, aparat keamanan, pemerintah, lembaga sosial, serta keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Unsur yang hadir meliputi:
- Kecamatan Gubeng.
- Polsek Gubeng.
- Koramil Gubeng.
- Dinas Sosial Kota Surabaya.
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya.
- BAZNAS Kota Surabaya.
- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya.
- Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gubeng.
- MWCNU Wonokromo.
- MWCNU Tegalsari.
- Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Ngagelrejo.
- Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya.
- Satkorcab Banser Kota Surabaya.
- Badan otonom NU dan unsur undangan lainnya.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kerja sama dalam menjaga ketertiban, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Sinergi tersebut juga menjadi modal penting untuk memastikan bahwa semangat kebangsaan yang diwariskan para pendahulu tetap hidup dalam kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.
KEDISIPLINAN KADER DALAM SUSUNAN PETUGAS APEL
Pelaksanaan apel melibatkan jajaran pengurus dan personel Ansor-Banser Kota Surabaya dengan susunan petugas sebagai berikut:

- Pembina Apel: Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya.
- Perwira Apel: Kepala Satkorcab Banser Kota Surabaya.
- Komandan Apel: Perwakilan Satuan Khusus Protokoler Banser Kota Surabaya.
- Komandan Pleton 1, 2, dan 3: Perwakilan personel Banser.
- Dirigen: Perwakilan petugas upacara.
- Pembawa Acara: Perwakilan panitia.
- Pembaca Resolusi Jihad: Perwakilan kader Banser.
- Pembaca Ikrar Santri: Pembina apel.
- Pembaca Doa: Perwakilan petugas keagamaan.
Susunan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan apel yang menekankan kedisiplinan, tanggung jawab, koordinasi, dan kesiapan kader dalam menjalankan tugas organisasi.
TABUR BUNGA, TAHLIL, DAN DOA BERSAMA
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan apel Hari Santri Nasional pada malam hari. Agenda berikutnya mencakup prosesi tabur bunga bersama tamu undangan, pembacaan tahlil, penyampaian nasihat mengenai hubungan Hari Santri Nasional dengan Hari Pahlawan, serta doa bersama.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan pembagian doorprize sesuai rangkaian acara yang disiapkan panitia.
Prosesi tabur bunga menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, pembacaan tahlil dan doa bersama menjadi ikhtiar spiritual untuk mendoakan para pahlawan, ulama, santri, serta seluruh pendahulu yang telah berjasa bagi agama dan bangsa.
Melalui rangkaian tersebut, peserta diajak untuk memadukan penghormatan terhadap sejarah dengan penguatan nilai-nilai keagamaan dan semangat pengabdian.
MAKAM BUNG TOMO, PENGINGAT SEJARAH PERJUANGAN AREK-AREK SUROBOYO
Pemilihan kawasan Makam Pahlawan Bung Tomo sebagai lokasi apel memiliki makna historis yang kuat. Bung Tomo dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam membangkitkan semangat perlawanan rakyat Surabaya pada peristiwa 10 November 1945.
Pertempuran tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan kembali.
Bagi generasi muda, khususnya kader Ansor-Banser, semangat perjuangan tersebut harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang sesuai dengan tantangan zaman.
Jika para pendahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui pengorbanan fisik dan perlawanan terhadap penjajah, generasi sekarang dituntut untuk berjuang melalui pendidikan, penguatan karakter, kepedulian sosial, penegakan hukum, serta upaya menjaga persatuan dan kedamaian masyarakat.
Peringatan Hari Santri Nasional juga mengingatkan kembali peran ulama dan santri dalam sejarah kebangsaan, termasuk kontribusi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dalam membangkitkan semangat mempertahankan kemerdekaan.
MENUJU MUNAJAT KUBRO 10 NOVEMBER 2026
Dalam informasi lanjutan yang disampaikan panitia, keluarga besar Nahdlatul Ulama juga direncanakan mengikuti kegiatan Munajat Kubro pada 10 November 2026, bertempat di Masjid Baitul Muttaqin, Bratang, Ngagelrejo, Kota Surabaya.
Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan spiritualitas, serta memperkuat kebersamaan warga Nahdliyin dalam memperingati Hari Pahlawan Nasional.
Rencana kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keagamaan dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.
MERAWAT PERJUANGAN, MELANJUTKAN KHIDMAH
Apel dan doa bersama di kawasan Makam Pahlawan Bung Tomo bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk meneguhkan kembali komitmen meneruskan perjuangan para pendahulu melalui pengabdian nyata kepada masyarakat, agama, dan negara.
Pesan yang disampaikan Gus Acnaf menjadi pengingat bahwa kader Ansor-Banser harus mampu menjaga keseimbangan antara nilai keislaman, semangat kebangsaan, kedisiplinan organisasi, dan kepedulian sosial.
Sinergi Ansor-Banser dengan TNI-Polri, instansi pemerintahan, BAZNAS, serta seluruh elemen Nahdlatul Ulama diharapkan terus terjalin dalam menjaga kondusivitas wilayah, memperkuat solidaritas, dan mempertahankan keutuhan NKRI.
Semangat Hari Santri Nasional hendaknya tidak berhenti setelah apel selesai. Semangat tersebut harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, membantu masyarakat, serta melanjutkan perjuangan para ulama dan pahlawan dengan cara yang bermartabat.
“Merajut Juang Santri, Mewarisi Jiwa Pahlawan dari Makam Bung Tomo untuk Negeri!”
SALAM SATU KOMANDO!
Satu Barisan, Satu Komando, Menjaga Ulama, Membentengi Bangsa.
WARTA GLOBAL JATIM.ID
JAWA TIMUR – MEDIA CEPAT, AKURAT & TERPERCAYA
NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI
Pimpinan Redaksi Warta Global Jatim


.jpg)