
HIMKI Jepara Perkuat Daya Saing Ekspor, Ratusan Perusahaan Furniture Ikuti Strategi Pencegahan Jamur, Rabu (2/9/26).
JEPARA, WARTAGLOBAL.id --
Komitmen industri furniture Jepara dalam menjaga kualitas produk dan memperkuat daya saing pasar global kembali ditunjukkan melalui kegiatan "Sosialisasi dan Sharing Session Mold Prevention for Furniture Industry" yang digelar HIMKI Jepara bersama YCM Mold Prevention Authority di Maribu, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 perwakilan perusahaan anggota Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi salah satu tantangan utama industri furniture, yakni risiko kerusakan produk akibat jamur selama proses penyimpanan, distribusi, hingga ekspor.
Pengurus HIMKI Bidang Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga, Lukman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya organisasi untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan pelaku usaha furniture dalam menjaga mutu produk agar tetap kompetitif di pasar nasional maupun internasional.
"Peserta kegiatan ini seluruhnya anggota HIMKI. Harapan kami, para pelaku industri mendapatkan wawasan baru mengenai jenis-jenis jamur, penyebab kemunculannya, hingga strategi pencegahan dan penanganannya. Ini penting untuk menjaga kualitas produk dan mengurangi potensi kerugian usaha," ujarnya.
Menurut Lukman, persoalan jamur bukan sekadar masalah teknis produksi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan, reputasi perusahaan, dan keberlanjutan bisnis. Produk yang terkontaminasi jamur berisiko menimbulkan komplain, penolakan pasar, bahkan kerugian finansial yang tidak kecil.
Karena itu, HIMKI terus mendorong hadirnya berbagai inovasi dan solusi yang dapat membantu anggotanya menghadapi tantangan industri secara lebih profesional dan berstandar global.
Sementara itu, Hans Emanuel, Area Manager YCM Jawa Tengah dan Jawa Timur, memperkenalkan teknologi pencegahan jamur yang telah digunakan di berbagai sektor industri, mulai dari sepatu, tas, pakaian, hingga furniture.
Menurut Hans, produk unggulan YCM berupa stiker anti jamur yang ditempatkan di dalam kemasan produk dan bekerja dengan melepaskan minyak esensial (essential oil) untuk menghambat pertumbuhan jamur.

"Risiko terbesar biasanya terjadi saat proses penyimpanan dan pengiriman, terutama dalam kontainer atau jalur laut yang memiliki tingkat kelembapan tinggi dan fluktuatif. Kondisi tersebut sangat rentan memicu pertumbuhan jamur pada produk," jelas Hans.
Ia menambahkan, pascapandemi COVID-19, banyak industri mengalami kerugian akibat barang yang tersimpan terlalu lama di gudang dengan sirkulasi udara yang kurang baik. Kondisi tersebut membuka kesadaran baru bahwa perlindungan terhadap jamur menjadi kebutuhan penting dalam rantai pasok industri modern.
Bagi industri furniture, khususnya yang berbahan kayu, ancaman jamur telah lama menjadi tantangan karena sifat material yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan.
"Kami melihat industri furniture memiliki kebutuhan besar terhadap solusi pencegahan jamur. Karena itu kami ingin membantu pelaku usaha menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen, baik di pasar domestik maupun ekspor," katanya.
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari peserta karena tidak hanya memberikan pemahaman teknis mengenai pengendalian jamur, tetapi juga membuka wawasan tentang pentingnya manajemen kualitas produk sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing industri.
Melalui kolaborasi HIMKI dan YCM, industri furniture Jepara menunjukkan keseriusannya dalam beradaptasi dengan tuntutan pasar global. Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa Jepara tidak hanya unggul dalam seni dan kualitas mebel, tetapi juga terus berinovasi untuk menjaga standar mutu produk yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Dengan penguatan kualitas produk sejak proses produksi hingga distribusi, industri furniture Jepara diharapkan semakin kokoh sebagai salah satu pilar ekspor nasional dan kebanggaan Indonesia di pasar dunia. (Petrus)


.jpg)