Watu Lawang situs sebelum masuk ke mata air suci Sedudo Sumber: Kitab Tantu Panggelaran
Nganjuk Warta Global Jatim.id
Semua kisah ini tercantum dalam Kitab Tantu Panggelaran, naskah kuno berbahasa Jawa Kuno yang menjadi salah satu sumber paling tua dan sakral tentang asal-usul pulau Jawa. Di dalamnya, Gunung Wilis disebut dengan nama kuno Gunung Pawinihan — gunung yang sejak mula-mula sudah disakralkan oleh leluhur.

Ki Sastro Kusumo
Asal-Usul; Pecahan Gunung Mahameru
Dahulu kala, Pulau Jawa belumlah tenang. Tanahnya sering bergoncang, gempa datang silih berganti, seakan-akan pulau itu belum memiliki fondasi yang kokoh. Para dewa pun bersepakat: harus diambil bagian dari Gunung Mahameru, gunung suci yang menjulang di tengah benua India, untuk diletakkan di atas Jawa agar pulau itu menjadi stabil dan berhenti berguncang.
Maka, para dewa mengangkat puncak Mahameru dan membawanya ke arah timur. Dalam perjalanan itu, sebagian dari batuan dan tanah gunung itu jatuh dan bertebaran di berbagai tempat itulah yang menjadi gunung-gunung di Jawa. Salah satu pecahan terbesar jatuh dan berdiri tegak di wilayah perbatasan Nganjuk, Ponorogo, dan Madiun itulah Gunung Pawinihan, yang kini kita kenal sebagai Gunung Wilis.
Sejak saat itu, Jawa menjadi tenang. Dan karena tubuhnya berasal dari Mahameru, gunung ini pun mewarisi kesucian yang sama ia menjadi gunung suci, tempat para dewa dan leluhur turun menampakkan diri.
Kisah Penciptaan Manusia di Pawinihan
Kitab Tantu Panggelaran juga mengisahkan bahwa setelah alam Jawa menjadi stabil, para dewa hendak menciptakan penghuni yang layak untuk menjaga tanah yang suci ini. Di puncak dan lereng Gunung Pawinihan, para dewa melakukan tapa dan pemujaan. Dari tanah yang diambil dari kaki gunung itu, dicampur dengan air dari mata air suci Sedudo, serta napas kehidupan dari para dewa terciptalah manusia pertama di tanah Jawa.
Karena tubuhnya dibentuk dari tanah gunung yang berasal dari Mahameru, maka manusia Jawa pun dikatakan memiliki jiwa yang kuat, teguh pendirian, dan selalu memiliki kerinduan untuk kembali kepada kesucian alam. Dan karena itu pula, Gunung Wilis dianggap sebagai ibu, tempat lahir dan tempat pulang bagi seluruh orang Jawa.
Situs-Situs Suci di Lereng Wilis
Kesakralan Gunung Wilis tidak hanya ada di puncaknya, tetapi merembes ke seluruh lereng dan kaki gunung. Di sekitarnya banyak ditemukan tempat-tempat yang sejak dahulu dihormati sebagai situs keramat di antaranya
- Air Terjun Sedudo ,mata air suci yang diyakini sebagai air penyucian tempat para leluhur mandi dan membersihkan jiwa, hingga kini masih menjadi tempat ziarah di bulan Suro.
- Watu Lawang , dua batu raksasa yang menjadi gerbang menuju kawasan suci Sedudo, pintu yang menghubungkan dunia manusia dan dunia leluhur.
- Makam dan situs-situs kuno yang tersebar di Desa Ngliman dan sekitarnya, tempat para sesepuh dan wali menyepi dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.
Semua tempat ini bukan sekadar batu dan air ia adalah bagian dari tubuh Mahameru yang ada di Jawa, bagian dari kesakralan yang dititipkan kepada kita untuk dijaga, bukan untuk diubah atau dirusak sesuka hati.
Pesan Leluhur untuk Masa Kini
Dari kisah di Kitab Tantu Panggelaran itu, tersirat satu pesan mendalam:
"Gunung Wilis bukan buatan manusia, bukan milik pengembang, bukan milik pejabat. Ia pecahan Mahameru, ibu yang melahirkan tanah Jawa dan manusia di atasnya. Jika ia rusak, maka fondasi kehidupan kita pun ikut berguncang persis seperti Jawa yang belum diletakkan di atas gunung suci itu dahulu."
Menjaga Gunung Wilis, menjaga Watu Lawang, menjaga Sedudo itu bukan sekadar menjaga tempat wisata. Itu adalah menjaga asal-usul kita sendiri, menjaga janji leluhur, dan menjaga kesucian yang dititipkan langit kepada bumi Jawa.(Ki Sastro Kusumo)


.jpg)