GANEFRI, INTELEKTUAL ORGANIK UNTUK UMAT DAN BANGSA - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

GANEFRI, INTELEKTUAL ORGANIK UNTUK UMAT DAN BANGSA

Monday, 7 September 2026
Prof. Dr. H. Ganefri, Ph.D
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang dan Waketum PP PERTI

PADANG — Ada fase ketika seorang akademisi tidak lagi cukup dinilai dari banyaknya karya ilmiah, jabatan akademik, maupun institusi yang pernah dipimpinnya. Pada tingkat tertentu, ukuran seorang intelektual justru terletak pada sejauh mana ilmu, pengalaman, jaringan, dan otoritas yang dimilikinya kembali bekerja untuk masyarakat.

Dalam perspektif Antonio Gramsci, figur seperti ini dapat dibaca melalui konsep intelektual organik—intelektual yang tidak berdiri jauh dari denyut kehidupan masyarakat, tetapi hadir memahami persoalan, membangun institusi, mengorganisasi kekuatan sosial, dan menjadikan pengetahuan sebagai energi perubahan.

Dalam konteks tersebut, perjalanan Prof. Dr. H. Ganefri, Ph.D. menarik untuk dicermati. Rekam jejaknya mempertemukan empat ruang pengabdian: kampus, organisasi profesi, jam’iyyah keagamaan, dan kebangsaan.

Ganefri bukan figur yang muncul secara tiba-tiba. Ia pernah memimpin Universitas Negeri Padang (UNP) selama dua periode, 2016–2024. Pengalaman tersebut kemudian diperluas ketika ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) periode 2022–2024.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Ganefri juga kembali dipercaya memimpin Tanfidziyah PWNU Sumatera Barat masa khidmat 2024–2029.
Pertemuan pengalaman akademik dan jam’iyyah tersebut menjadi modal penting bagi NU.

Organisasi sebesar NU membutuhkan figur yang mampu menjembatani pesantren dan perguruan tinggi, tradisi dan inovasi, kiai dan ilmuwan, serta nilai keagamaan dengan profesionalitas tata kelola modern.

Kepercayaan di Tingkat Nasional
Momentum Muktamar Ke-35 NU di Jombang semakin memperlihatkan ruang pengabdian Ganefri di tingkat nasional. Ia mendapat kepercayaan menjadi bagian Tim Formatur PBNU masa khidmat 2026–2031, mewakili Sumatra dalam komposisi wilayah Barat.

Kepercayaan tersebut tidak semata-mata dapat dibaca sebagai representasi geografis Sumatera Barat. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk kepercayaan terhadap gagasan, kompetensi, pengalaman, dan kapasitas kepemimpinan.

Bagi Ranah Minang, keterlibatan tersebut menjadi momentum penting. Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam tradisi ulama, surau, pendidikan Islam, tarekat, dan gerakan pembaruan. Warisan tersebut tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kontribusi aktual bagi bangsa.

Dari Intelektual Kampus Menjadi Intelektual Umat
Konsep intelektual organik menemukan relevansinya dalam perjalanan Ganefri.
Seorang profesor tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap disiplin keilmuannya. Ilmu juga mengandung amanah sosial. Kemuliaan ilmu memperoleh makna ketika mampu melahirkan kemaslahatan.

Ganefri telah melewati fase sebagai intelektual kampus. Tantangan berikutnya adalah memperluas perannya sebagai intelektual umat dan bangsa.

Dengan pengalaman memimpin universitas, jejaring pendidikan tinggi nasional, kepemimpinan PWNU Sumatera Barat, serta pengalaman organisasi sosial-keagamaan, terdapat sejumlah ruang strategis yang dapat diperkuat.

Pertama, transformasi pendidikan NU, mulai dari pesantren, madrasah, sekolah hingga perguruan tinggi.
Kedua, penguatan sumber daya manusia Nahdliyin di tengah perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, perubahan dunia kerja, dan kompetisi global.
Ketiga, penguatan tata kelola kelembagaan melalui manajemen berbasis data, transparansi, kaderisasi, jejaring, dan evaluasi.
Keempat, memperkuat jembatan antara Ranah Minang dan tingkat nasional, termasuk memperkenalkan kekayaan tradisi Islam Minangkabau dengan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam ruang kebangsaan.

Bukan Sekadar Jabatan, tetapi Memperluas Khidmat
Harapan dari Ranah Minang agar Prof. Ganefri memperoleh ruang pengabdian strategis dalam PBNU 2026–2031 hendaknya ditempatkan secara proporsional.

Ini bukan semata politik representasi daerah, apalagi sekadar pembagian jabatan organisasi.
Khidmat memang tidak identik dengan jabatan. Namun jabatan yang dipercayakan kepada orang yang memiliki kapasitas dapat menjadi instrumen untuk memperluas khidmat.

NU membutuhkan ulama yang menjaga sanad keilmuan dan kiai yang menjaga ruh pesantren. Namun NU juga membutuhkan ekonom, teknolog, profesional, akademisi, dan pemimpin institusi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Aswaja menjadi kekuatan transformasi sosial.

Sebab tantangan umat hari ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan halal dan haram. Ada kemiskinan, pendidikan, kecerdasan buatan, ketimpangan ekonomi, lingkungan, disrupsi informasi, kualitas demokrasi, hingga kompetisi global.
Di sinilah kehadiran intelektual organik menjadi penting.

Dari Ranah Minang untuk Indonesia
Ranah Minang memiliki tradisi melahirkan intelektual yang tidak selesai pada dirinya sendiri. Ulama mendirikan surau, kaum terpelajar membangun sekolah, intelektual memasuki ruang pergerakan, dan para pemikir ikut membangun republik.

Tradisi itu mengajarkan satu hal: ilmu harus berujung pada khidmat.
Prof. Ganefri berada pada mata rantai tantangan yang sama dalam konteks zaman yang berbeda. Setelah memimpin universitas, membangun jejaring rektor PTN Indonesia, dan memimpin PWNU Sumatera Barat, ruang pengabdiannya memang dapat diperluas melampaui batas kampus dan daerah.

Menjadi bagian dari Tim Formatur PBNU 2026–2031 merupakan sebuah kepercayaan. Namun lebih dari itu, ia adalah pintu tanggung jawab.
Ranah Minang tentu berharap kader terbaiknya dapat hadir di tingkat nasional. Tetapi kebanggaan itu baru memiliki arti apabila kehadiran tersebut menghasilkan manfaat bagi jam’iyyah, umat, dan bangsa.

Sebab ukuran terakhir seorang intelektual bukan seberapa tinggi gelarnya, seberapa panjang daftar jabatannya, atau seberapa dekat ia dengan pusat kekuasaan.

Ukuran akhirnya adalah seberapa jauh ilmu dan amanah yang dipercayakan kepadanya berubah menjadi kemaslahatan.
Itulah intelektual organik: berakar pada umat, bekerja dengan ilmu, bergerak melalui organisasi, dan mengabdikan kapasitasnya untuk bangsa.
Maka harapan dari Ranah Minang kepada Prof. Ganefri sesungguhnya sederhana tetapi besar:
Dari kampus ia telah membuktikan kepemimpinan.

Di Ranah ia telah membangun jam’iyyah.
Di tingkat nasional ia telah membangun jejaring.
Kini saatnya kapasitas itu diperluas menjadi khidmat untuk NU, umat, dan Indonesia.
06092026

NUR CHOLIS, C.JI., C.LWI 
Warta Global Jawatimur