BANYUWANGI, Warta Global Jatim.id– Sebanyak 30 masyarakat umum di Desa Banjarsari, Kabupaten Banyuwangi, resmi mengikuti program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar Tim Dosen Pascasarjana Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Program bertajuk "Literasi Budaya Osing di Ruang Publik: Strategi Penguatan Identitas Kampung Osing Banyuwangi sebagai Kampung Budaya" ini berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Mei 2026, bertempat di Kantor Kelurahan Banjarsari. Kegiatan ini diikuti oleh lintas elemen masyarakat setempat, meliputi perangkat desa, tokoh masyarakat, serta pemuda dan perangkat kelurahan lainnya.
Dr. Yuniseffendri, M.Pd., selaku Ketua Pelaksana PKM sekaligus Dosen Pascasarjana FBS UNESA, dalam sambutannya menegaskan harapan besar terhadap partisipasi aktif masyarakat. "Diharapkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda Osing, khususnya di Desa Banjarsari, untuk meningkatkan kesadaran akan potensi daerahnya serta semangat berjuang meningkatkan kualitas dan perhatian yang lebih maksimal untuk mengangkat budaya Osing yang bernilai budaya tinggi dan bermartabat," ujar Dr. Yuniseffendri di hadapan peserta, Senin (11/5/2026).
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa dengan sinergi yang kuat, pembangunan budaya yang berkelanjutan akan terwujud di bumi Osing. "Sehingga pembangunan budaya berkelanjutan akan terwujud di bumi Osing dan mendapat perhatian khusus di blantika destinasi pariwisata nasional dan internasional," tegasnya.
Kegiatan PKM ini diketuai oleh Dr. Yuniseffendri, M.Pd., dengan Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd. sebagai anggota sekaligus Koordinator Pelaksana. Mereka bergerak bersama tiga dosen Pascasarjana FBS UNESA lainnya, yakni Dr. Agusniar Diansavitri, M.Pd., Dr. Dianita Indrawati, M.Hum., dan Dr. Ririe Rengganis, M.Hum. Kelima akademisi ini memadukan keahlian di bidang bahasa, seni, dan literasi budaya untuk merancang strategi penguatan identitas Kampung Osing melalui optimalisasi ruang publik. Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak bersifat instruktif, melainkan partisipatif. "Kami hadir bukan sebagai penyuluh yang menggurui, tetapi sebagai mitra yang belajar bersama masyarakat. Tugas kami adalah memberdayakan, bukan mengganti tradisi mereka dengan cara pandang kami," ujar Prof. Syamsul.
Subardianto, S.AP., Lurah Banjarsari, menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif UNESA. "Kami sangat berterima kasih kepada tim PKM UNESA yang telah memilih Desa Banjarsari sebagai lokasi pengabdian. Program ini sangat strategis untuk membangun kesadaran warga akan kekayaan budaya Osing yang kita miliki. Kami siap mendukung penuh," ujar Subardianto. Ia juga berharap agar program ini tidak berhenti sampai tiga hari, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan dan monitoring dari UNESA.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, tim PKM UNESA merancang empat strategi utama yang akan diimplementasikan di ruang publik Desa Banjarsari dan kawasan sekitar. Keempat strategi itu meliputi pemasangan mural di dinding-dinding kosong yang menggambarkan sejarah dan ritual Osing (visual storytelling); pemasangan papan informasi trilingual (bahasa Osing, Indonesia, Inggris) di titik-titik strategis; penyediaan kode QR pada artefak budaya dan produk UMKM sehingga pengunjung cukup memindai untuk menonton video penjelasan ritual atau membaca filosofi batik Gajah Oling; serta penciptaan spot foto Instagramable yang edukatif, menarik secara visual tetapi tetap menghormati nilai-nilai sakral budaya. Dr. Ririe Rengganis, M.Hum., salah satu anggota tim, menegaskan bahwa pendekatan ini disebut instagramable with respect. "Kami tidak ingin menjadikan budaya Osing sekadar tontonan. Dengan QR code, wisatawan yang berfoto bisa langsung belajar tentang makna Barong Ider Bumi. Itu esensi literasi budaya di ruang publik," jelasnya.
Salah satu peserta, mengaku mendapatkan wawasan baru. "Saya dulu malu pakai bahasa Osing kalau ada tamu. Tapi setelah diajak diskusi, saya sadar ini identitas yang harus dijaga. Saya siap belajar bikin konten TikTok tentang kuliner Pecel Pitik," ujarnya antusias. Di akhir kegiatan, Dr. Yuniseffendri menegaskan komitmen keberlanjutan program. "Kami tidak akan hadir lalu pergi. Kami siap membantu melatih warga, dan menyerahkan pengelolaan kepada pemuda serta perangkat desa setempat. Karena identitas budaya yang kuat adalah identitas yang dirawat oleh pemiliknya sendiri,"
PKM "Literasi Budaya Osing di Ruang Publik" merupakan program pengabdian dosen Pascasarjana FBS UNESA yang berlangsung pada 11–13 Mei 2026 di Desa Banjarsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Kelurahan Banjarsari serta melibatkan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan generasi muda setempat.red-cholis


.jpg)