NGANJUK, Warta Global Jatim.id
Kunjungan kerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, serta jajaran petinggi TNI dan Polri ke Kabupaten Nganjuk pada Kamis (14/5/2026) menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Di sebuah grup percakapan WhatsApp yang beranggotakan campuran, mulai dari pejabat daerah, tokoh masyarakat, hingga warga biasa dan di dalamnya turut bergabung Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi muncul serangkaian pertanyaan mendasar yang mewakili keresahan banyak petani.
Grup yang selama ini menjadi wadah diskusi terbuka antara warga dan pemerintah daerah itu, tiba-tiba ramai saat ada anggota yang melontarkan tiga pertanyaan utama: “Apakah petani mendapatkan perlindungan dari fluktuasi harga pasar? Bagaimana distribusi keuntungan dari panen tersebut? Dan apakah petani kecil benar-benar mampu mengoleksi hasil panen mereka dengan layak?”
Pertanyaan tersebut langsung disambut tanggapan spontan dari Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi. Tanpa bertele-tele, ia menjawab rinci berdasarkan data dan fakta di lapangan, memaparkan langkah nyata serta hasil yang sudah dirasakan masyarakat.
Berikut rincian jawaban lengkap Kang Marhaen, sapaan akrab Bupati Nganjuk:
1. Pemerintah telah menyalurkan bantuan benih sebanyak 100 ton untuk kebutuhan tanam petani.
2. Dukungan alat pertanian berupa 20 unit hand traktor diserahkan guna mempermudah pengolahan lahan.
3. Produktivitas panen tercatat sangat baik; varietas Grobokan mampu menghasilkan 3,5 ton per hektare, sedangkan kedelai lokal Wilis mencapai 1,7 hingga 2 ton per hektare.
4. Harga beli di tingkat petani sangat menguntungkan: Rp10.100 per kilogram untuk jenis Grobokan, dan sekitar Rp8.500 per kilogram untuk jenis lokal.
5. Harga tersebut dikonfirmasi lebih tinggi dibandingkan harga kedelai impor yang beredar di pasaran.
6. Jaminan penyerapan hasil panen terjamin sepenuhnya; seluruh hasil panen dibeli langsung oleh Kementerian Pertanian, dan nilainya dikembalikan sepenuhnya kepada petani.
7. Dukungan sarana produksi juga mencakup perbaikan dan bantuan fasilitas irigasi agar lahan pertanian terairi dengan baik.
8. Tambahan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) sebanyak 10 unit juga disalurkan untuk efisiensi kerja tani.
9. Luas tanam kedelai juga mengalami perluasan signifikan, dari sebelumnya 2.000 hektare kini dikembangkan menjadi 5.000 hektare.
Jawaban rinci dan berbasis data itu sontak mendapatkan tanggapan positif dari anggota grup. Warga menilai penjelasan tersebut menjawab seluruh kekhawatiran awal, sekaligus membuktikan bahwa kehadiran para pejabat tinggi negara dalam panen raya bukan sekadar seremonial, melainkan diikuti kebijakan nyata yang melindungi dan menyejahterakan petani kecil.
Dengan harga terjamin, hasil panen terserap penuh, serta dukungan sarana produksi, petani di Nganjuk kini tidak hanya terlindung dari gejolak harga pasar, tetapi juga mendapatkan kepastian keuntungan yang layak dari setiap hasil kerja keras mereka di lahan.(Tomo)


.jpg)