Warta Global Jatim.id — Di tengah padatnya agenda kunjungan kerja internasional, Presiden Prabowo Subianto menyempatkan diri menunjukkan perhatian personal kepada salah satu orang terdekatnya di lingkaran kabinet, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Momen tersebut mencuat ke publik setelah sebuah video yang diunggah oleh Agung Surahman viral di berbagai platform media sosial. Rekaman itu menampilkan suasana hangat dan penuh kekeluargaan di sebuah ruangan di Paris, saat tim kerja kepresidenan memberikan kejutan ulang tahun kepada sosok yang akrab disapa “Mayor Teddy”.
Dalam video tersebut, tampak suasana santai di tengah rangkaian agenda kenegaraan yang padat. Kehadiran Presiden Prabowo dalam momen tersebut memperlihatkan sisi humanis kepemimpinan, sekaligus kedekatan personal dengan para pembantunya di kabinet.
Namun demikian, alih-alih hanya menuai simpati, momen ini justru memicu beragam respons dari publik di media sosial. Sejumlah warganet menilai perayaan tersebut sebagai hal yang wajar dan manusiawi, sementara lainnya mengkritik, menilai adanya kesan berlebihan dalam menampilkan sisi personal pejabat publik di ruang digital.
Salah satu komentar datang dari akun gusdewantara di platform Threads yang menyoroti gaya komunikasi publik di sekitar lingkaran istana.
“Sumpah gue nggak ada masalah sama Presiden gue. Tapi gue eneg banget sama sekitarnya. Sampai ada gimmick-gimmick begini, sejak ada Teddy ini berasa ada drama kerajaan di negeri ini. Kapan ya era ini berakhir. ENEG banget, sampai dirayakan pula,” tulisnya.
Di sisi lain, akun ismail_hamka justru menyoroti kedekatan dan perhatian Presiden terhadap Seskab Teddy, terutama karena momen ulang tahun tersebut kerap dirayakan di tengah agenda luar negeri.
“Se-effort ini loh Prabowo biar bisa ngerayain ultah di Paris. Padahal paginya baru dari Rusia. Btw sudah dua tahun ini selalu dirayakan di luar negeri, tahun kemarin di Yordania, tahun ini di Paris,” tulisnya.
Fenomena ini mencerminkan dinamika persepsi publik terhadap gaya komunikasi dan simbol-simbol kedekatan dalam lingkar kekuasaan. Di satu sisi, publik mengapresiasi sisi humanis pemimpin, namun di sisi lain juga menuntut sensitivitas terhadap citra dan prioritas pejabat publik di tengah berbagai isu nasional.


.jpg)