Misteri Lereng Wilis,Hukum Alam Tak Terlihat Bagi Pemimpin yang Berbuat Serong - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Misteri Lereng Wilis,Hukum Alam Tak Terlihat Bagi Pemimpin yang Berbuat Serong

Saturday, 11 April 2026


Nganjuk Warta Global Jatim.id

Di ufuk timur Pulau Jawa, menjulang gagah Gunung Wilis. Puncaknya yang sering tersembunyi di balik selimut awan, serta hutan pinusnya yang berdesir misterius, telah lama menjadi latar bagi berbagai kisah yang diceritakan turun-temurun. Namun, daya tarik gunung ini bukan hanya pada keindahan alamnya, melainkan pada aura sakral atau yang dalam bahasa Jawa sering disebut wingit. Konon, menurut kitab kuno Tantu Panggelaran, gunung ini adalah pecahan dari Mahameru yang diturunkan oleh para dewa, menjadikannya tempat yang bukan sekadar tumpukan tanah dan batu, melainkan wadah kekuatan gaib yang menjaga keseimbangan.

Di sepanjang lerengnya yang membentang luas, tersebar berbagai kabupaten dan kota. Tanah ini subur, budayanya kaya, namun juga dipercaya menyimpan aturan tak tertulis. Masyarakat setempat meyakini bahwa Wilis adalah penjaga hati dan nurani. Di dalamnya, ada kerajaan gaib yang berkuasa, ada ular raksasa yang menjadi penjaga keadilan, serta sosok-sosok leluhur yang matanya tak pernah terpejam mengawasi siapa saja yang memegang tampuk kekuasaan di tanah yang bernaung di bawahnya.


Tahun 2025 dan 2026 menjadi masa yang kelam sekaligus menjadi bukti nyata bagi mereka yang percaya pada pesan leluhur. Satu per satu, pemimpin yang duduk di kursi kebesaran terseret dalam jerat hukum. Bagi orang awam, ini hanyalah rangkaian kasus korupsi biasa. Namun bagi mereka yang mengenal karakter Gunung Wilis, peristiwa ini terasa seperti hukum alam yang bekerja, seolah ada tangan tak terlihat yang menarik mereka dari tahta menuju pintu penjara.

Cerita bermula dari ujung wilayah yang masih terikat pada napas Wilis.
Menjelang akhir 2025, Sugiri Sancoko, Bupati Ponorogo wilayah yang terkenal dengan seni Reog-nya dan terletak tepat di kaki Wilis sebelah barat ,terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT). Kasusnya bermuara pada hal yang sangat mendasar dalam kepemimpinan, kekuasaan. Ia diduga menyalahgunakan wewenang dalam mutasi dan pengurusan jabatan, serta proyek-proyek strategis di lingkungan pemerintah daerah. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk memajukan organisasi dan daerah, ternyata dijadikan alat untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Tahun 2026 pun datang membawa harapan baru, namun bagi beberapa pemimpin di lereng Wilis, tahun ini justru membawa petaka. Januari menjadi bulan buruk bagi Maidi, Wali Kota Madiun. Ia diamankan tim penyidik terkait dugaan suap proyek dan pemanfaatan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR yang seharusnya kembali kepada masyarakat. Kasus ini kembali menunjukkan pola yang sama: kekuasaan yang tidak dijaga dengan integritas akan menjadi jebakan.

Belum genap tiga bulan berlalu, pada 10 April 2026 malam, giliran Gatut Sunu Wibowo, Bupati Tulungagung, yang harus berhadapan dengan hukum. Bersama 15 orang lainnya yang terdiri dari pejabat daerah dan pihak swasta, ia dibawa ke Gedung Merah Putih KPK. Rincian kasus yang berkembang menunjukkan keterlibatan lintas sektor, dari perencanaan hingga pelaksanaan anggaran.

Tiga nama, bahkan empat jika menghitung , tiga daerah berbeda,Ponorogo, Madiun, Tulungagung memiliki satu benang merah yang tak terbantahkan,mereka semua bernaung di bawah bayang-bayang Gunung Wilis. Karena wilayah ketiga daerah itu berada di lereng Gunung Wilis,Wilayah Wilis yang tanahnya dipercaya suci, dan siapa pun yang memimpin di atasnya membawa amanat ganda,amanat dari rakyat yang memilihnya, dan amanat dari tanah serta leluhur yang ditinggalinya.

Di sebuah warung kopi kecil di pinggiran jalan yang menanjak menuju lereng gunung, suasana sore itu hening. Seorang musafir tua yang wajahnya penuh keriput, seolah menyimpan jejak perjalanan panjang dan pengalaman bertahun-tahun, duduk termenung sambil menatap puncak Wilis yang perlahan ditutup kabut. Banyak orang datang dan pergi, namun ia tetap di sana, seolah sedang berdialog dengan gunung itu sendiri.

Ketika ditanya oleh pengunjung lain tentang rentetan peristiwa yang menimpa para bupati itu, ia tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopi hitamnya yang sudah mulai dingin, lalu menggeleng pelan. Suaranya berat namun jelas, seolah membawa pesan dari zaman yang jauh lebih tua.

"Gunung Wilis ini bukan sekadar tanah dan batu, Nak," ujarnya memulai. "Ini adalah penjaga hati dan nurani. Konon, di dalamnya ada kerajaan gaib yang aturannya lebih ketat daripada hukum negara mana pun. Ada ular raksasa penjaga keadilan yang tidur jika tanah ini dijaga dengan baik, namun akan bangkit jika ada yang berani mengotori tangan di atas tanah ini. Ada pula putri-putri leluhur dari zaman Mataram Kuno yang matanya tak pernah berkedip mengawasi."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiran pendengarnya.

"Ada pesan yang tertanam sejak ribuan tahun lalu, tertulis bukan di atas kertas, melainkan di dalam hati bumi ini: 'Kekuasaan adalah titipan. Tanah ini hanya akan menampung mereka yang berniat suci. Siapa pun yang berbuat curang, tanah ini akan memuntahkannya.'"

Musafir itu menatap tajam ke arah lawan bicaranya. "Kalau ingin menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana. Jangan berbuat serong, jangan mencuri hak rakyat, jangan menjadikan jabatan sebagai ladang keuntungan pribadi. Jikalau berbuat tidak benar, meski kau pandai menyembunyikan jejak, pandai membuat laporan palsu, atau pandai berbicara di hadapan manusia, kau tidak bisa lari dari pengawasan alam dan leluhur. Tidak akan lama kau bertahan di kursimu. Hukum alam bekerja lebih cepat dan lebih tajam daripada hukum manusia."

Kata-kata itu bergema di tengah suasana warung yang mulai sepi. Bagi masyarakat setempat, kasus-kasus yang menjerat para pemimpin itu bukan sekadar kebetulan statistik atau keberhasilan penegakan hukum semata. Ini adalah peringatan keras. Ini adalah bukti bahwa pesan leluhur masih berlaku. Bahwa tanah di lereng Wilis suci, dan siapa pun yang memimpin di atasnya harus menjaga kemurnian niat serta integritas.

Gunung Wilis tetap berdiri tegak, sunyi namun memancarkan wibawa yang tak terucapkan. Misterinya mungkin tak pernah akan terpecahkan sepenuhnya oleh akal logika manusia, namun pesannya kini telah tertulis jelas dalam peristiwa nyata: Keadilan tidak hanya datang dari pengadilan, sidang, atau putusan hakim. Keadilan juga datang dari hati nurani tanah yang dipijak, dari hukum alam yang tak terlihat, dan dari janji leluhur yang dijaga oleh gunung sakral ini. Bagi para pemimpin di lereng Wilis, pelajaran kali ini sangat mahal: kekuasaan bisa mengangkat seseorang setinggi langit, namun jika tidak dijalankan dengan kejujuran, jatuhnya akan jauh lebih dalam daripada yang bisa dibayangkan.  

 Oleh:Ki RM Sutomo Sastro Kusumo