Warisan Tak Terputus, Menelusuri Akar Sejarah dan Budaya Desa Ngringin . Ditulis Oleh: [RM] - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Warisan Tak Terputus, Menelusuri Akar Sejarah dan Budaya Desa Ngringin . Ditulis Oleh: [RM]

Tuesday, 26 May 2026

Nganjuk Warta Global Jatim.id

Desa Ngringin, yang terletak di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, bukan sekadar wilayah administratif di peta daerah yang dijuluki Kota Angin. Bagi mereka yang memahami jejak sejarah dan napas tradisi, desa ini adalah sebuah museum hidup. Nama desa itu sendiri sudah menyimpan kisah, Ngringin, merujuk pada wilayah yang ditandai oleh keberadaan pohon beringin tua,pohon yang sejak masa lampau selalu menjadi pusat pertemuan, tetenger wilayah, hingga tempat bersemayamnya kekuatan spiritual. Berdasarkan catatan sejarah penamaan wilayah di Jawa, pola penamaan berbasis vegetasi seperti ini umumnya sudah ada jauh sebelum masa kolonial, namun baru dibakukan secara administratif menjadi nama desa yang resmi pada abad ke-19 saat pemerintah Hindia Belanda melakukan pendataan wilayah secara intensif.
 
Lebih dalam lagi, identitas Desa Ngringin tertanam kuat melalui dua pilar kebudayaan yang masih lestari hingga kini, kesenian Tayub dan Wayang Krucil. Keduanya bukan sekadar hiburan semata, melainkan bukti otentik bagaimana evolusi peradaban Jawa berjalan dari masa kepercayaan nenek moyang, era kerajaan Hindu-Buddha, hingga masuknya pengaruh Islam. Kekuatan budaya ini terasa nyata setiap tahunnya saat perayaan Nyadran atau bersih desa. Pada momen sakral itu, warga menggelar pertunjukan wayangan dan tayub, baik di kompleks punden, kediaman pamong desa, maupun di rumah pemangku adat. Tradisi ini menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya tertulis di naskah kuno, tetapi juga dipertunjukkan, dirasakan, dan diwariskan secara turun-temurun.
 
Untuk menguak lapisan sejarah yang lebih dalam, kita dapat merujuk pada pandangan dua tokoh budayawan sekaligus spiritualis asal Nganjuk, Ki Sutomo Sastro Kusumo atau akrab disapa Mbah Tomo, dan Ki Kuswanto KLA atau Gus Kus. Keduanya menelusuri asal-usul desa ini dari pendekatan berbeda namun saling melengkapi, memberikan gambaran utuh tentang siapa, apa, dan bagaimana Desa Ngringin terbentuk menjadi seperti sekarang.
 
Mbah Tomo menelusuri asal-usul dan perkembangan budaya Ngringin melalui kacamata antropologi. Baginya, kebudayaan adalah jejak perjalanan manusia yang hidup di atas tanah ini. Ia menegaskan bahwa kedua kesenian andalan desa ini memiliki akar zaman yang berbeda, mencerminkan dua babak besar sejarah Jawa. Tayub, menurut kajian antropologi, berakar jauh sejak abad ke-13, bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Kediri. Awalnya, tarian ini berfungsi murni sebagai ritual sakral,persembahan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan, agar tanah memberikan hasil panen yang melimpah. Jejak gerakan dan bentuk pertunjukannya bahkan tercatat dalam naskah kuno Kakawin Nagarakretagama sebagai bagian dari perayaan istana di era Majapahit. Baru pada abad ke-19, fungsi Tayub mengalami transformasi besar; dari ritual sakral berubah menjadi tarian pergaulan dan hiburan rakyat, sebagaimana juga tercatat dalam karya sastra agung Serat Centhini.
 
Sementara itu, Wayang Krucil memiliki kisah yang sedikit berbeda namun tak kalah menarik. Menurut pandangan etnografi yang dipaparkan oleh Gus Kus, kesenian ini lahir di masa peralihan besar sejarah Jawa, yaitu antara abad ke-15 hingga ke-16. Jika Tayub adalah warisan masa pra Islam, Wayang Krucil hadir sebagai sarana akulturasi budaya dan media dakwah saat agama Islam mulai menyebar luas. Terbuat dari kayu pipih dua dimensi, wayang ini mengangkat kisah-kisah legendaris Panji yang berpusat pada sejarah kerajaan-kerajaan Jawa Timur seperti Kediri, Jenggala, hingga Majapahit. Pilihan cerita ini bukan kebetulan, melainkan strategi budaya agar pesan agama mudah diterima tanpa menghapus akar budaya leluhur. Bahkan, catatan sejarah dalam Serat Sastramiruda menyebutkan bahwa pada abad ke-17, tokoh seperti Pangeran Pekik di Surabaya turut membakukan bentuk dan kisah Wayang Krucil, meskipun akar visualisasinya sudah tumbuh jauh sebelumnya di tengah masyarakat pedesaan.
 
Pertemuan pandangan antropologis dari Mbah Tomo dan pandangan etnografis dari Gus Kus membuktikan satu kebenaran besar tentang Desa Ngringin,desa ini adalah persimpangan sejarah. Di satu sisi, kita masih bisa merasakan napas masa lalu yang agamis dan sakral melalui Tayub yang berakar di era Hindu-Buddha. Di sisi lain, kita melihat bagaimana masyarakat beradaptasi dan menerima nilai baru melalui Wayang Krucil yang lahir di masa penyebaran Islam.
 
Tradisi bersih desa yang masih digelar hingga kini adalah bukti bahwa masyarakat Ngringin sadar sepenuhnya akan identitasnya. Mereka tidak memilah-milah sejarah, melainkan merangkai semuanya menjadi satu kesatuan utuh. Pohon beringin yang menjadi nama desa, tarian yang memuja kesuburan, hingga pertunjukan kayu yang menceritakan kisah kerajaan, semuanya menyatu dalam satu jiwa besar yang disebut kebudayaan Ngringin. Di tangan para budayawan dan kesadaran warga, jejak waktu itu tidak hilang, melainkan terus dijaga agar tetap menjadi penunjuk jalan bagi generasi mendatang.(***)