Nyadran Ngringin,Menyibak Sejarah, Memulihkan Marwah Budaya di Balik Gemuruh Tradisi - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Nyadran Ngringin,Menyibak Sejarah, Memulihkan Marwah Budaya di Balik Gemuruh Tradisi

Monday, 25 May 2026


NGANJUK Warta Global Jatim.id

Senin, 25 Mei 2026 menjadi saksi kembali hidupnya napas leluhur di Desa Ngringin, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Tradisi tahunan Nyadran atau Bersih Desa digelar kembali, bukan sekadar seremoni rutinitas, melainkan sebuah panggung sejarah yang menampilkan dua ikon seni langka: Tayub dan Wayang Krucil. Namun, di balik kemeriahan dan doa syukur ini, tersimpan kisah panjang tentang jatuh bangunnya sebuah budaya, serta upaya keras masyarakat untuk mengembalikan kesakralan yang sempat luntur dimakan zaman.

Desa Ngringin sendiri menyimpan kekayaan spiritual yang tersebar di tiga titik punden di masing-masing dusun. Tempat-tempat ini dipercaya sebagai akar sejarah, saksi bisu awal mula desa ini dibuka dan dihuni. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Punden Mbah Dalang yang letaknya strategis di belakang Balai Desa. Seperti diungkapkan oleh salah satu sesepuh desa yang enggan disebutkan namanya, penamaan tersebut sudah berlangsung turun-temurun.

"Dari dulu punden ini ya Mbah Dalang. Semua penduduk sini dari generasi ke generasi menyebut seperti itu," ujarnya.
 
Secara etimologi, kata "Dalang" memang merujuk pada orang yang memainkan wayang. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar profesi. Istilah ini melekat pada sosok yang dihormati, pemimpin, atau tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan kehidupan sosial masyarakat kala itu. Sangat mungkin bahwa punden ini adalah petilasan sesepuh yang tidak hanya pandai mendalang, tetapi juga menjadi pengarah nilai-nilai kehidupan bagi warga Ngringin.

Dalam rangkaian Nyadran, seni Tayub selalu menjadi daya tarik utama. Namun, jika kita menengok ke belakang hingga pertengahan abad ke-20, seni tari pergaulan ini pernah mengalami masa kelam. Kesakralannya sebagai media ungkap rasa syukur dan hiburan rakyat sempat tercoreng.
 
Pada masa itu, pertunjukan Tayub kerap diwarnai penyimpangan nilai. Muncul istilah populer yang dikenal sebagai 3C: Cium, Ciu (alkohol/minuman keras), dan Cewek. Konsumsi minuman keras yang memabukkan serta perilaku tidak sopan terhadap penari atau waranggana menjadi pemandangan yang sayangnya dianggap lumrah. Kondisi ini perlahan menggeser fungsi asli Tayub, mengubahnya dari seni budaya yang luhur menjadi ajang yang memicu stigma negatif di mata masyarakat luas.
 
Namun, sejarah membuktikan bahwa budaya yang kuat akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit. Sejak tahun 1970-an hingga saat ini, gelombang revitalisasi budaya menyapu berbagai wilayah di Jawa Timur, termasuk Nganjuk, Bojonegoro, Tuban, hingga Blora. Di Desa Ngringin pun hal serupa terjadi. Struktur pertunjukan diperbaiki, busana penari dibuat lebih tertutup dan anggun, serta aturan main pementasan diperketat. Revitalisasi ini berhasil mengembalikan marwah Tayub sebagai seni yang terhormat, santun, dan kembali menjadi wadah pengikat tali silaturahmi serta semangat gotong royong warga.

Selain Tayub, keistimewaan Nyadran di Ngringin terletak pada pilihan kesenian pendampingnya, yaitu Wayang Krucil. Pertunjukan ini memiliki ikatan sejarah yang erat dengan penamaan Punden Mbah Dalang. Wayang Krucil adalah seni tradisional asli Jawa Timur yang usianya sangat tua, berakar kuat sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
 
Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan layar kain (kelir) dan lampu blencong, Wayang Krucil dimainkan tanpa layar, menampilkan boneka dari kayu pipih. Menurut catatan sejarah dalam Serat Sastramiruda, wayang kayu ini pertama kali diciptakan di Surabaya oleh Pangeran Pekik pada tahun 1571 Saka atau sekitar 1648 Masehi. Sumber lain menyebutkan bentuk dasarnya sudah ada jauh sebelumnya dan disempurnakan oleh Raja Brawijaya V, meniru gaya lukisan Wayang Beber.
 
Nama "Krucil" diambil dari bentuk wayangnya yang berukuran kecil, kurus, dan ringkas. Karena bahannya dari kayu pipih, saat dimainkan, gerakan tangan dan badannya akan saling berbenturan, menghasilkan bunyi khas klitik-klitik, sehingga ada juga yang menyebutnya Wayang Klithik.
 
Yang membuat pertunjukan ini sangat relevan dengan sejarah desa adalah isi ceritanya. Jika wayang kulit umumnya mengangkat kisah epik Mahabharata atau Ramayana, Wayang Krucil justru fokus pada Cerita Panji serta sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, mulai dari Jenggala, Kediri, Singasari, hingga Majapahit. Kisah romansa Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji menjadi tulang punggung narasi yang dibawakan.
 
Dahulu, seni ini sangat populer dan rutin tampil saat Bersih Desa di Kediri, Blora, hingga Malang. Namun kini, keberadaannya semakin langka dan hanya tersimpan rapi di museum atau digelar oleh komunitas budaya yang peduli.

Penyelenggaraan Nyadran di Desa Ngringin tahun ini bukan sekadar melestarikan tradisi, melainkan sebuah pernyataan sikap. Dengan menggabungkan Tayub yang telah direvitalisasi dan Wayang Krucil sebagai warisan masa Majapahit, masyarakat Ngringin seolah ingin berkata bahwa mereka sadar dari mana mereka berasal.
 
Mereka tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membersihkan noda sejarah yang pernah ada. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya itu hidup, bisa sakit, namun selalu bisa disembuhkan dan dikembalikan ke jalan yang benar. Semoga semangat di Punden Gempol, Punden Ngringin, hingga Punden Sumberejo terus menjadi penjaga nilai luhur bagi generasi mendatang.(Tomo)