Kemanusiaan di Balik Layar Prostitusi,Melampaui Penghakiman, Menuju Pemahaman - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Kemanusiaan di Balik Layar Prostitusi,Melampaui Penghakiman, Menuju Pemahaman

Sunday, 22 February 2026

 
ilustrasi kupu kupu malam 
Nganjuk Warta Global Jatim.id
Prostitusi adalah sebuah topik yang sarat dengan kompleksitas, sering kali menjadi medan perdebatan yang memanas di ranah moral, sosial, maupun hukum. Namun, jika kita mencoba menempatkan diri dalam sudut pandang "kemanusiaan terhadap sesama", kita diajak untuk melangkah jauh melewati sekadar pelabelan atau penghakiman yang cepat. Kita diajak untuk melihat individu-individu yang terlibat di dalamnya bukan sebagai sebuah identitas tunggal yang terkotak-kotak, melainkan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hak, memegang martabat, dan memiliki sisi kerentanan yang sama seperti kita semua.
 
Di balik layar yang sering kali diselimuti tabu, terdapat sisi kemanusiaan yang mendesak untuk didengar. Salah satunya adalah kemanusiaan dalam konteks kerentanan. Bagi banyak orang, terjun ke dunia prostitusi bukanlah mimpi atau pilihan pertama yang diinginkan. Sering kali, itu adalah jalan terakhir yang diambil akibat desakan situasi ekonomi yang membelenggu, kekerasan dalam rumah tangga yang menyakitkan, kurangnya akses pendidikan yang memadai, atau bahkan menjadi korban kejamnya perdagangan manusia. Perspektif kemanusiaan mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat perbuatan yang dilakukan, melainkan bertanya: "Mengapa mereka sampai di sini?" Kita melihat mereka sebagai korban keadaan yang membutuhkan perlindungan dan jalan keluar, bukan sebagai pelaku kriminal yang pantas dikucilkan dari pergaulan.
 
Selain itu, stigma yang melekat tebal pada pekerja seks sering kali menjadi rantai yang mengikat mereka lebih erat. Stigmatisasi ekstrem membuat mereka sulit keluar dari lingkaran tersebut, dan bahkan membuat mereka rentan menjadi korban kekerasan tanpa adanya perlindungan hukum yang memadai. Di sinilah kemanusiaan hadir dalam bentuk penghormatan martabat. Memberikan martabat berarti memperlakukan mereka dengan rasa hormat sebagai sesama manusia, terlepas dari apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup. Itu berarti tidak merendahkan mereka atau menganggap mereka sebagai "manusia kelas dua" yang tidak berhak atas kebaikan.
 
Aspek kesehatan dan keamanan juga menjadi sorotan penting dalam pendekatan kemanusiaan ini. Banyak pekerja seks hidup dengan risiko tinggi terkena penyakit menular seksual, menghadapi kekerasan fisik, dan menjadi sasaran pemerasan. Pendekatan kemanusiaan tidak berhenti pada sekadar melakukan razia yang justru membuat mereka semakin tersembunyi dan rentan. Sebaliknya, pendekatan ini menekankan pada pengurangan dampak buruk ,seperti memberikan akses ke layanan kesehatan yang layak, edukasi tentang keamanan, dan perlindungan yang nyata ,karena nyawa dan kesejahteraan mereka adalah hal yang berharga.
 
Bagi mereka yang ingin berhenti, sering kali jalan keluar terasa tertutup rapat. Banyak yang terperangkap karena utang pada mucikari, rasa takut yang menghantui, atau tidak memiliki keterampilan lain untuk bertahan hidup. Kemanusiaan diwujudkan bukan dengan penindasan tanpa solusi, melainkan dengan menyediakan program rehabilitasi, pelatihan keterampilan yang bermanfaat, bantuan psikologis untuk menyembuhkan luka batin, dan kesempatan ekonomi alternatif yang memanusiakan. Ini adalah tentang memberikan mereka kesempatan kedua untuk membangun hidup yang lebih baik.
 
Terakhir, sangat krusial bagi kita untuk mampu membedakan antara "pilihan" dan "paksaan". Ada garis tipis namun penting antara mereka yang terjebak dalam perdagangan manusia ,di mana pemaksaan terjadi secara total dan mereka yang, dalam situasi terbatas yang sulit, memilih itu sebagai pekerjaan. Kemanusiaan menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap para mucikari dan pelaku perdagangan manusia, sambil tetap memberikan bantuan sosial dan pendampingan yang tulus bagi para korban.
 
Pada akhirnya, rasa kemanusiaan di balik isu prostitusi ini mengajak kita untuk membuka hati dan berempati. Ini berarti mengalihkan fokus dari penghakiman moral yang sering kali justru memperburuk situasi mereka, menuju upaya perlindungan bagi korban, pemulihan martabat yang hilang, dan penyediaan jalan keluar yang nyata. Karena pada dasarnya, di balik setiap label dan perdebatan, ada manusia yang berhak untuk dihargai, dilindungi, dan diberikan harapan.Opini ,ditulis oleh Ki RM.Sutomo Sastro Kusumo(Mbah Tomo)