Jatim.wartaglobal.id
KOTA BATU|28 April 2026. Warga Sabrang Bendo menggelar aksi damai di wilayah Kota Batu, tepatnya mulai dari Balai Desa Giripurno hingga berakhir di lokasi Yayasan Al-Hikmah, pada Senin, 28 April 2026. Aksi ini diadakan sebagai bentuk penegasan atas tuntutan agar yayasan tersebut segera merealisasikan 14 poin kesepakatan pengelolaan sumber mata air yang telah disepakati bersama sebelumnya. Kegiatan ini menjadi puncak kekesalan warga karena proses pelaksanaan kesepakatan dinilai berjalan sangat lambat dan mengancam keberlangsungan pasokan air yang menjadi sumber kehidupan mereka sehari-hari.
Aksi dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dengan berkumpulnya massa di halaman Balai Desa Giripurno. Setelah melakukan doa bersama dan pengarahan, rombongan kemudian bergerak secara tertib menuju Kantor Kecamatan Bumiaji. Di lokasi tersebut, warga menyampaikan aspirasi dan orasi sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik akhir di Yayasan Al-Hikmah. Sepanjang perjalanan, massa membawa spanduk dan poster yang berisi pesan-pesan tentang pentingnya menjaga sumber air serta tuntutan pelaksanaan kesepakatan yang telah disetujui bersama.
Muslikin, selaku koordinator aksi, menyampaikan kekecewaannya tidak hanya kepada pihak yayasan, tetapi juga terhadap sikap wakil rakyat yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Menurutnya, proses tinjauan dan pengukuran fasilitas umum yang berkaitan dengan sumber air dilakukan tanpa melibatkan perwakilan warga. “Ini menunjukkan bahwa aspirasi kami tidak dianggap. Padahal, sumber air ini adalah hak kami yang harus dijaga bersama,” tegasnya di hadapan massa.
Senada dengan itu, Kaji Bagong, tokoh masyarakat setempat, mengaku merasa dikhianati dengan kondisi yang terjadi saat ini. Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan sumber mata air tersebut telah dilakukan secara turun-temurun oleh warga Desa Giripurno dan sekitarnya. Namun, dengan lambatnya realisasi kesepakatan, hak tersebut kini terancam hilang. “Kami tidak menolak adanya pengelolaan yang lebih baik, tapi jangan sampai hak hidup kami dirampas begitu saja,” ucapnya dengan nada penuh haru.
Robiyan, perwakilan dari PPBN Galuh Purba Bumi Perdikan Batu, juga memberikan dukungan penuh terhadap aksi yang dilakukan. Ia menegaskan bahwa masyarakat bukanlah kelompok yang mudah dibodohi atau diabaikan. “Kami sadar akan hak dan kewajiban kami. Oleh karena itu, kami juga menuntut pemerintah daerah untuk turun tangan dan memastikan setiap tuntutan rakyat mendapatkan perhatian serta solusi yang nyata,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Giripurno, Suntoro, mengapresiasi langkah yang diambil warganya. Baginya, kepedulian ini merupakan bukti bahwa masyarakat masih memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap aset alam yang menjadi penopang kehidupan. Di sisi lain, Camat Bumiaji, Thomas Maido, juga menyatakan dukungan penuh. Ia berjanji akan menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pihak terkait untuk memastikan kelestarian sumber air tetap terjaga dan kesepakatan dijalankan sebagaimana mestinya.
Setelah sampai di Yayasan Al-Hikmah, perwakilan massa diterima oleh pihak manajemen yayasan. Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung kurang lebih satu jam, warga menyampaikan secara rinci setiap poin kesepakatan yang belum terealisasi serta dampak negatif yang mulai dirasakan akibat keterlambatan tersebut. Suasana berlangsung kondusif dan penuh dialog, meskipun tekanan dari massa yang menunggu di luar tetap terasa.
Menanggapi hal tersebut, Zahri, selaku Kepala Yayasan Al-Hikmah, menyampaikan bahwa proses pelaksanaan kesepakatan memang sedang dijalankan secara bertahap. Namun, ketika diminta menjelaskan secara rinci tahapan apa saja yang telah selesai dilakukan dan jadwal pelaksanaan selanjutnya, ia tidak memberikan penjelasan yang konkret. Jawaban ini justru menambah ketidakpuasan warga yang hadir, karena dianggap masih berupa janji kosong tanpa bukti nyata.
Sebagai penutup aksi, perwakilan Forum Peduli Sumber Air Sabrang Bendo menyatakan sikap tegas mereka. Jika dalam waktu dekat 14 poin kesepakatan tersebut tidak segera dipenuhi, maka mereka berjanji akan terus melakukan aksi-aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar. “Kami menginginkan semua pihak bertindak secara transparan dan bertanggung jawab. Sumber air ini adalah milik bersama, maka pengelolaannya pun harus untuk kesejahteraan bersama,” pungkas mereka.
[fer]


.jpg)