
Nganjuk Warta Global Jatim.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi siswa justru menuai sorotan tajam. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Baron di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari dilaporkan terlambat mendistribusikan makanan pada Rabu (1/4/2026).
Keterlambatan ini berdampak pada sedikitnya empat sekolah penerima MBG, yakni MI Al Khoiriyah, MTs Al Khoiriyah, MI Miftakhurrohmah, dan SDN 5 Katerban. Para siswa yang sedianya menerima makanan lebih awal harus menunggu hingga sekitar pukul 12.00 WIB waktu yang dinilai sudah melewati jam makan ideal bagi anak sekolah.
Selain itu dari keterlambatan ini di duga sudah melewati batas waktu aman konsumsi yang di instruksikan BGN ,Makanan Bergizi Gratis (MBG) batas maksimal 4 jam setelah dimasak atau sesuai label batas waktu yang tertera pada kemasan. Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan makanan tidak boleh dibawa pulang dan harus langsung dikonsumsi untuk mencegah keracunan pangan.
Ironisnya, di saat program ini digadang-gadang untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda, realitas di lapangan justru memperlihatkan lemahnya manajemen distribusi. Banyak siswa terpaksa menahan lapar lebih lama, sementara pihak sekolah hanya bisa menunggu tanpa kepastian.
Adapun menu MBG hari ini terdiri dari nasi, ayam kecap, tahu goreng, mix sayuran, serta buah rambutan. Namun, menu bergizi tersebut seolah kehilangan maknanya ketika datang terlambat.
Lebih memprihatinkan lagi, pihak SPPG Baron memilih bungkam. Saat dikonfirmasi terkait keterlambatan ini, tidak ada respons yang diberikan hingga berita ini diturunkan.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: apakah program MBG sudah benar-benar siap dijalankan secara profesional? Ataukah hanya sebatas program seremonial tanpa kesiapan teknis di lapangan?
Jika tidak segera dievaluasi, kejadian serupa berpotensi terulang dan yang paling dirugikan tetap para siswa(Tomo)


.jpg)