Macan Tutul Teror Warga Desa Beruk, Dua Ekor Kambing Dimangsa Aktivitas Malam Mendadak Lumpuh - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Macan Tutul Teror Warga Desa Beruk, Dua Ekor Kambing Dimangsa Aktivitas Malam Mendadak Lumpuh

Wednesday, 18 February 2026
Petugas Polisi dan Warga melakukan ronda malam untuk mengantisipasi serangan Macan Tutul, Rabu (12/2/26).

KARANGANYAR, WARTAGLOBAL.id -- Kecemasan menyelimuti warga Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, setelah dua ekor kambing milik seorang warga ditemukan mati diduga akibat serangan macan tutul. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (10/2/26) sekitar pukul 02.00 WIB itu langsung mengubah rutinitas masyarakat, terutama saat malam hari.

Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti menjelaskan, dua kambing milik Warini (60), warga Dusun Pengkok, ditemukan tewas di dalam kandang. Lokasi kejadian disebut berbatasan langsung dengan kawasan hutan Dandang, sehingga kuat dugaan satwa liar turun dari hutan untuk mencari mangsa.

“Lokasi kejadian berbatasan langsung dengan kawasan hutan Dandang. Kami menduga satwa liar masuk ke kandang untuk mencari mangsa pada malam hari,” ujar AKBP Arman Sahti saat dihubungi, Rabu (18/2/26).

Pengecekan langsung dilakukan jajaran Polres Karanganyar bersama TNI pada Rabu (11/2/26) malam. Hadir pula aparat Polsek Jatiyoso, Koramil Jatiyoso, pemerintah desa, relawan, serta warga. Petugas mendata kerugian, menghimpun keterangan saksi, dan menelusuri dugaan jejak satwa liar di sekitar lokasi.

Sebagai langkah pencegahan, warga diminta memperkuat kandang ternak dan menambah penerangan di sekitarnya. Ronda malam yang sempat terhenti dianjurkan untuk diaktifkan kembali secara bertahap, sementara petugas juga membuat api unggun di sekitar permukiman guna menghalau satwa liar.

“Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak bertindak sendiri. Jika melihat tanda-tanda kemunculan satwa liar, segera laporkan ke aparat desa atau kepolisian,” tegasnya.

Di sisi lain, ketakutan warga masih terasa kuat. Sejak kejadian itu, aktivitas malam dibatasi. Anak-anak tak lagi bermain selepas magrib, dan orang dewasa memilih bertahan di dalam rumah. Ronda malam yang biasanya rutin digelar kini terhenti karena kekhawatiran akan keselamatan.

Salah seorang warga, Sartono, mengungkapkan kondisi dua kambing yang diserang cukup mengenaskan. Satu ekor habis dimangsa di dalam kandang, sementara satu lainnya ditemukan mati dengan bekas gigitan di sejumlah bagian tubuh.

“Warga takut ronda malam karena khawatir justru membahayakan diri. Apalagi belum tahu berapa jumlah macan tutulnya dan di mana keberadaannya,” ujar Sartono, Selasa (17/2/26).

Menurutnya, letak kandang ternak yang rata-rata berdekatan dengan rumah membuat situasi semakin mengkhawatirkan. Dugaan bahwa satwa liar sudah memasuki area permukiman menjadi sumber keresahan utama warga.

“Kalau sudah sampai memangsa kambing di kandang yang dekat rumah, berarti sudah masuk permukiman. Itu yang membuat warga makin khawatir,” katanya.

Sebagai bentuk antisipasi mandiri, warga sepakat memasukkan ternak lebih awal, sekitar pukul 17.00 WIB. Pintu kandang diperkuat dan dikunci rapat, sementara kegiatan di luar rumah pada malam hari dikurangi seminimal mungkin.

Sartono juga mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi sekitar tahun 2010. Saat itu, penanganan melibatkan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang berhasil menangkap satu ekor macan tutul dari kawasan Gunung Lawu.

“Dulu pernah ada yang ditangkap satu ekor. Sekarang belum ada penangkapan karena belum ada bukti visual seperti foto atau rekaman CCTV,” katanya.

Hingga kini, aparat kepolisian bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan intensif guna mengantisipasi kemungkinan kemunculan kembali satwa liar. Warga pun berharap situasi segera aman agar kehidupan malam di kampung mereka dapat kembali normal seperti sediakala. (Joko S)