Jejak “Emas Hijau” di Padangan: Kantor Polisi Ini Dulunya Pusat Niaga Tembakau dan Pabrik Kapur
BOJONEGORO —Jatim.Wartaglobal.id - Di balik fungsinya sebagai penjaga keamanan wilayah, bangunan Polsek Padangan ternyata menyimpan sejarah panjang kejayaan ekonomi masa lampau.
Terletak di Kecamatan Padangan, bangunan berarsitektur kolonial ini menjadi saksi bisu geliat jalur niaga tembakau yang pernah menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu simpul perdagangan penting di tepian Bengawan Solo.
Kabupaten Bojonegoro memang dikenal memiliki sejumlah bangunan heritage yang masih terawat. Salah satu yang paling menonjol berada di sekitar terminal Padangan, berdampingan langsung dengan Padangan Heritage, Local History & Museum, kawasan yang kini menjadi pusat pelestarian sejarah lokal.
Dari Kantor Tembakau hingga Pabrik Kapur
Pada masa sebelum kemerdekaan, bangunan yang kini menjadi kantor kepolisian itu merupakan pusat kendali industri perkebunan.
Tempat ini pernah difungsikan sebagai kantor administrasi tembakau—komoditas yang dijuluki “emas hijau”—sekaligus menjadi titik distribusi hasil bumi dari wilayah sekitar.
Bahkan, dalam periode tertentu, bangunan tersebut juga beralih fungsi sebagai pabrik kapur, memperkuat perannya sebagai pusat aktivitas ekonomi.
Letaknya yang strategis menjadikan Padangan sebagai titik temu jalur perdagangan darat dan sungai. Dari kawasan inilah komoditas tembakau Bojonegoro didistribusikan ke berbagai daerah, menandai masa ketika sektor agraris dan perdagangan berkembang pesat.
Arsitektur Kolonial yang Masih Kokoh
Memasuki bangunan ini, nuansa masa lalu terasa kuat. Dinding tebal, pilar-pilar kokoh, jendela besar, serta langit-langit tinggi khas arsitektur Belanda masih terjaga. Lantai terazzo bernuansa cokelat dan hijau zamrud semakin mempertegas karakter historisnya.
Kesan megah itu seakan membawa pengunjung kembali ke era ketika Padangan menjadi salah satu pusat ekonomi penting di wilayah barat Bojonegoro.
Tujuh Sumur Penuh Nilai Filosofis
Di halaman bangunan, terdapat tujuh sumur tua yang tak kalah sarat makna. Selain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, pada era 1980-an air dari sumur-sumur tersebut kerap diambil untuk keperluan ruwatan, tradisi spiritual masyarakat Jawa.
“Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya,” ujar Fahrudin, penjaga museum sekaligus keturunan H. Rasyid, pengusaha tembakau pada masa pra-kemerdekaan.
Seiring waktu, penggunaan air sumur mulai bergeser. Tradisi ruwatan kini lebih banyak menggunakan sumber sendang di sekitar wilayah Padangan, namun keberadaan sumur-sumur itu tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah.
Kini Jadi Penjaga Kamtibmas Sekaligus Monumen Sejarah
Hari ini, bangunan tersebut tidak hanya menjalankan fungsi pelayanan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berdiri sebagai monumen hidup perjalanan ekonomi dan budaya Bojonegoro.
Ia menjadi pengingat bahwa di tanah Padangan, kejayaan agraris, perdagangan tembakau, dan tradisi lokal pernah berpadu dalam satu ruang sejarah yang masih bisa disaksikan hingga sekarang.
Red(**)


.jpg)