MENYATU DENGAN ADAB: MENGEMBALIKAN RUH KHIDMAH DI TENGAH BADAI KEPENTINGAN - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

MENYATU DENGAN ADAB: MENGEMBALIKAN RUH KHIDMAH DI TENGAH BADAI KEPENTINGAN

Saturday, 29 August 2026
Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd.
JOMBANG | Warta Global Jatim.id – Nahdlatul Ulama (NU) tidak lahir dari ruang kosong ambisi politik maupun sekadar perebutan panggung kekuasaan. NU ditempa dari sujud panjang para wali, keheningan tirakat para kiai, serta ketulusan niat untuk mengabdi dan melayani umat.

Karena itu, perjalanan panjang jam’iyah ini semestinya senantiasa berpijak pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para muassis: keikhlasan, persaudaraan, tawadhu, musyawarah, dan adab dalam berkhidmah.

Namun, di tengah angin zaman yang semakin kencang, kita kerap menyaksikan betapa rapuhnya kebersamaan ketika kepentingan kelompok dan ego sektoral mulai merembes ke dalam rumah besar Nahdlatul Ulama.

Sekat-sekat kelompok dan faksi terkadang membuat pandangan menjadi semakin sempit. Jabatan yang sejatinya merupakan amanah dan beban tanggung jawab di hadapan Allah SWT, justru dapat dipersepsikan sebagai puncak prestise yang harus diperebutkan.

Ketika ambisi kepemimpinan dikejar dengan cara-cara yang mengabaikan kesantunan—saling menebar keraguan, mematahkan langkah saudara sendiri, atau mengesampingkan etika dan persaudaraan—sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih besar: jangan sampai ruh perjuangan para muassis justru terluka oleh cara kita dalam memperjuangkan kepemimpinan.

Merebut kepemimpinan dengan mencederai adab mungkin saja dapat mengantarkan seseorang menuju kursi kekuasaan. Namun, yang patut direnungkan adalah apa yang akan tertinggal setelah kursi itu diduduki.

Sebab dalam tradisi Nahdlatul Ulama, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari siapa yang memperoleh jabatan, melainkan dari seberapa besar amanah itu mampu menghadirkan kemaslahatan, persatuan, dan keberkahan bagi umat.

Kehormatan sejati seorang nahdliyin tidak pernah semata-mata diukur dari seberapa tinggi jabatan formal yang digenggam. Kehormatan justru tumbuh dari seberapa tunduk hati kepada aturan, seberapa kuat memegang amanah, dan seberapa luas lapang dada dalam merangkul sesama.

Khidmah sejati tidak mengenal sekat kelompok.
Siapa pun yang datang dengan niat tulus berjuang untuk jam’iyah, semestinya ditempatkan sebagai bagian dari satu keluarga besar. Perbedaan pilihan dan pandangan dalam proses organisasi adalah sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan itu jangan sampai berubah menjadi permusuhan, apalagi meruntuhkan persaudaraan.

Persatuan tidak boleh berhenti sebagai jargon. Ia harus hadir dalam sikap, keputusan, dan perilaku setiap kader.
Sebab Nahdlatul Ulama terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya demi kepentingan kelompok dan terlalu mulia untuk dikotori oleh ambisi personal.

Mari kita kembalikan marwah organisasi ini kepada fitrahnya. Mari menempatkan kepemimpinan sebagai amanah, bukan sekadar kekuasaan; sebagai jalan pengabdian, bukan tujuan pribadi; sebagai sarana menyatukan, bukan alat untuk memecah.

Biarlah kepemimpinan lahir dari kepercayaan, kelayakan, kapasitas, dan adab yang baik—bukan dari manuver yang meretakkan persaudaraan.
Pada akhirnya, kepemimpinan akan berganti. Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain.

Tetapi jejak adab, ketulusan, persaudaraan, dan pengabdian akan tetap hidup dalam ingatan umat.
Karena itu, di tengah dinamika organisasi dan derasnya berbagai kepentingan, yang paling penting untuk kita jaga bukanlah siapa yang paling kuat memenangkan pertarungan, melainkan siapa yang paling mampu menjaga persaudaraan dan mengembalikan ruh khidmah kepada jalan yang diridai Allah SWT.

Mari menyatu dengan adab.
Mari kembali kepada khidmah.
Mari menjaga NU sebagai rumah besar bersama.
Oleh: Dr. H. Afrizen, M.Pd.

Pimpinan Redaksi Warta Global Jatim.id: Nur Cholis