Rangkaian Hari Lahir Pancasila, Tim PSN Blusukan ke Situs Bersejarah Nganjuk,Situs Banaran Kulon Diduga Sebagai Peninggalan Tertua
By
REDAKSI PUSAT
-
Monday, 1 June 2026
NGANJUK, Pemerhati Sejarah Nganjuk.com
1 Juni 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni, komunitas Pemerhati Sejarah Nganjuk (PSN) menggelar kegiatan wisata sejarah dan pelestarian budaya bertajuk 'Blusukan Jejak Leluhur'. Dipimpin langsung oleh ketua tim, Sugiarto atau yang akrab disapa Ujang, rombongan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, punden, dan peninggalan budaya yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Nganjuk. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ke-3 tentang Persatuan Indonesia dan sila ke-5 yang menjunjung tinggi kebudayaan.
Rombongan yang didampingi oleh budayawan setempat, Ki Sutomo, memulai perjalanan sejarahnya dari pagi hari dengan mengunjungi delapan lokasi utama yang memiliki nilai sejarah tinggi. Titik kunjungan pertama adalah Museum Marsinah, tempat yang menyimpan berbagai koleksi sejarah dan bukti perjuangan masyarakat Nganjuk. Perjalanan kemudian berlanjut ke Punden Nglinggo, sebuah situs yang menyimpan peninggalan berupa Lingga dengan motif teratai yang memiliki makna filosofis mendalam.
Selanjutnya, rombongan menuju Punden Mojorembun. Di lokasi ini, tim PSN menemukan peninggalan berupa Nandhi, Batu Kenong, dan Yoni, yang menjadi bukti adanya tradisi kepercayaan dan ritual masyarakat masa lalu. Tidak berhenti di situ, rombongan menyambangi Punden Sidokare, di mana terdapat Sumur Jobong dengan motif ukiran ikan yang diduga kuat berasal dari masa Kerajaan Kediri, lengkap dengan temuan Batu Kenong yang menjadi ciri khas peninggalan di wilayah ini.
Perjalanan dilanjutkan ke Monumen Bhayangkara Ngadiboyo yang menjadi saksi sejarah perjuangan dan pengabdian, serta meninjau makam etnis Tionghoa di Alas Jalin, Ngadiboyo. Keberadaan makam ini menjadi bukti harmonisasi dan keragaman budaya yang telah tumbuh subur di Nganjuk sejak berabad-abad silam, mencerminkan persatuan dalam keberagaman sebagaimana semangat Pancasila.
Namun, dari seluruh rangkaian lokasi yang dikunjungi, perhatian seluruh rombongan tertuju pada situs yang terletak di Dusun Sidurekso, Desa Banaran Kulon, Kecamatan Bagor. Di lokasi ini ditemukan peninggalan berupa Menhir, Lapak Arca, dan Batu Kenong, serta struktur bangunan dari susunan bata kuno di kawasan Alas Banaran Kulon.
Menurut Ki Sutomo, budayawan yang turut mendampingi rombongan, temuan di Desa Banaran Kulon ini memiliki arti yang sangat istimewa. "Dari hasil pengamatan dan kajian sementara, situs di Banaran Kulon ini diduga sebagai situs tertua yang pernah dijumpai di wilayah Kabupaten Nganjuk. Keberadaan Menhir dan benda-benda megalitikum lainnya menunjukkan bahwa peradaban yang maju dan tertata sudah ada di sini jauh sebelum pengaruh budaya luar masuk ke tanah Jawa," ungkap Ki Sutomo di lokasi penemuan.
Ia menambahkan, temuan ini melengkapi lembar sejarah Nganjuk yang selama ini dikenal kuat dengan jejak masa kerajaan, namun kini semakin lengkap dengan bukti peradaban prasejarah yang lebih tua. "Daerah ini dulunya bukan hanya tempat persinggahan, melainkan wilayah yang subur, berbudaya tinggi, dan memiliki sistem kepercayaan yang kuat," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim PSN, Sugiarto (Ujang), menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, melainkan upaya pendataan dan pengingatan kembali identitas daerah. "Momen Hari Lahir Pancasila ini sangat pas untuk kita kenali kembali akar budaya kita. Semakin kita tahu sejarah leluhur, semakin kita cinta tanah air dan semakin kuat persatuan kita," ujar Ujang.
Ia berharap, hasil penelusuran ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat agar situs-situs bersejarah, terutama di Banaran Kulon, mendapatkan perhatian lebih untuk dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan sebagai kekayaan budaya milik bersama. "Warisan ini milik semua warga Nganjuk, tugas kita menjaganya agar tetap utuh untuk generasi mendatang," pungkas Ujang.
Kegiatan blusukan ini ditutup dengan diskusi ringan dan doa bersama di salah satu lokasi kunjungan, sebagai simbol komitmen untuk terus menjaga dan mengembangkan nilai-nilai sejarah serta kebudayaan Nganjuk.(Tomo)