Bedol Pusaka Ritual Sakral Pembuka Perjalanan Boyong Hambangun Projo ke-146 Nganjuk - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Bedol Pusaka Ritual Sakral Pembuka Perjalanan Boyong Hambangun Projo ke-146 Nganjuk

Friday, 5 June 2026

NGANJUK, Warta Global Jatim.id

5 Juni 2026 – Suasana hening, khidmat, dan penuh penghormatan menyelimuti Pendopo Paringgitan Kabupaten Nganjuk, Jumat malam. Di tempat ini, rangkaian peringatan 146 tahun pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk resmi dibuka melalui prosesi paling sakral: Bedol Pusaka. Ritual ini menjadi langkah wajib sebelum digelarnya kirab besar-besaran Boyong Hambangun Projo yang akan berlangsung besok, Sabtu 6 Juni 2026.

Lebih dari sekadar memindahkan benda kuno, Bedol Pusaka adalah pengulangan persis apa yang dilakukan Bupati KRT Sosrokoesoemo III pada tahun 1880 silam. Kala itu, beliau mengangkat, menyucikan, dan mengantar "jiwa serta wibawa pemerintahan" beralih dari kota tua Berbek menuju kota baru Nganjuk. Tradisi ini juga menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan masa kini dengan jejak peradaban Islam yang ditanamkan utusan Keraton Yogyakarta di wilayah ini, sekitar tahun 1745–1760.

Dua Pusaka Utama, Dua Makna Besar

Prosesi yang dihadiri Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, jajaran pimpinan daerah, sesepuh adat, serta keturunan trah leluhur ini dibuka dengan pembakaran kemenyan dan doa bersama. Titik puncak acara adalah pengambilan dan penyucian dua benda pusaka utama yang menjadi lambang kekuasaan dan perlindungan:
1. Tombak Kiai Jurang Penatas: Simbol ketegasan, kebijaksanaan, dan penentu arah kebijakan pemerintahan.
2. Songsong/Payung Kiai Tunggul Wulung: Simbol perlindungan, pengayoman, dan kewibawaan seorang pemimpin bagi rakyatnya.

Kedua benda berharga ini dibersihkan menggunakan tata cara adat, kemudian dibalut dengan kain berwarna Sekar Rinonce. Keduanya diletakkan bersama ubarampe sebagai wujud rasa syukur kepada leluhur yang telah membangun Berbek menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat dakwah yang damai.


Usai disucikan, Bupati Nganjuk yang akrab disapa Kang Marhaen menyerahkan pusaka tersebut kepada para pembawa khusus yakni keturunan langsung Kanjeng Jimat dan para Bupati Berbek terdahulu. Diiringi alunan gamelan dan doa, rombongan bergerak perlahan menuju Balai Desa Kacangan. Tempat ini merupakan titik perhentian bersejarah, batas wilayah antara Berbek dan Nganjuk pada masa lalu. Di sini, pusaka akan "beristirahat" semalam penuh, persis seperti yang dilakukan rombongan pemindahan pada tahun 1880, sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Sejarah mencatat, gagasan memindahkan pusat pemerintahan pertama kali disampaikan Raden Tumenggung Sumowiloyo pada tahun 1875. Alasannya, wilayah Berbek mulai terisolasi dan kurang strategis untuk perkembangan. Di bawah kekuasaan kolonial Belanda, pemindahan ini juga bertujuan memudahkan pengangkutan hasil bumi. Namun bagi masyarakat, inti nilai adat tetap dijaga teguh: pusaka wajib dibawa serta agar pemerintahan di tempat baru tetap sah, berkah, dan tidak terputus dari akar asalnya.

Masjid Kanjeng Jimat, makam leluhur, serta tata ruang kota tua Berbek kini menjadi saksi bisu satu hal penting: meski pusat pemerintahan berpindah, akar sejarah dan identitas tidak pernah ditinggalkan. Bedol Pusaka menjadi bukti nyata bahwa Nganjuk masa kini adalah kelanjutan, bukan pemutusan, dari kebesaran Berbek di masa lalu.

Ada perbedaan besar antara peringatan ke-146 ini dengan momen pemindahan dulu. Pada tahun 1880, kemeriahan dan pesta hanya milik pejabat Belanda, sementara warga Berbek hanya menjadi penonton yang melihat kotoran kuda berserakan di jalan. Kini, segalanya berubah total.

Rangkaian acara Bedol Pusaka hingga kirab Boyong Hambangun Projo dikemas menjadi gelar budaya milik seluruh rakyat. Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk prosesi Sabtu tgl 06/6/2026.

"Bedol Pusaka mengajarkan kita satu hal, sebelum melangkah maju, kita wajib menghormati asal-usul. Dulu pusaka dibawa demi kepentingan penguasa, sekarang kita bawa maknanya untuk kemajuan seluruh rakyat Nganjuk. Tidak ada lagi yang hanya jadi penonton, semua adalah pelaku sejarah.hambangun Projo. Semoga Nganjuk makin melesat," tegas Kang Marhaen.

Besok pagi, pusaka akan diambil kembali oleh perangkat desa dan diserahkan ke rombongan resmi di Alun-Alun Berbek. Di sanalah kirab utama dimulai,arak-arakan dari pusat sejarah asal mula Nganjuk menuju Pendopo Kabupaten saat ini, melewati rute sakral yang sarat makna mendalam.

Bedol Pusaka bukan sekadar tradisi kuno, melainkan jembatan hidup yang menyambungkan tahun 1745, 1880, hingga masa kini. Berbek tetap hidup di hati sebagai ibu kandung, sementara Nganjuk tumbuh dan berkembang sebagai buah yang subur.
 
Ribuan warga diprediksi akan berbaris sepanjang jalan untuk menyambut rombongan. Bukan lagi menyaksikan iring-iringan penjajah, melainkan merayakan warisan leluhur yang menjadi milik bersama. Selamat memperingati 146 Tahun Boyong Hambangun Projo! Sejarah budaya dijaga, rakyat pun berbahagia, semoga Nganjuk gemah Ripah loh jinawi Toto tentrem Karto Raharjo,menuju "Nganjuk Melesat"(Tomo)