Mengupas Keadilan dari Kacamata Filsafat: Mengapa Rasa ‘Tidak Adil’ Sering Kita Rasakan - Warta Global Jatim

Mobile Menu

Entertainment

Responsive Leaderboard Ad Area with adjustable height and width.

Pendaftaran

Klik

More News

logoblog

Mengupas Keadilan dari Kacamata Filsafat: Mengapa Rasa ‘Tidak Adil’ Sering Kita Rasakan

Thursday, 27 November 2025


Mengupas Keadilan dari Kacamata Filsafat: Mengapa Rasa ‘Tidak Adil’ Sering Kita Rasakan


Jakarta –Jatim.Warta global.id  - Konsep keadilan menjadi salah satu topik yang terus diperbincangkan sejak zaman filsuf Yunani kuno hingga era modern saat ini. Di tengah situasi sosial yang semakin kompleks, pemahaman tentang keadilan menurut filsafat kembali menjadi sorotan, terutama ketika banyak masyarakat merasa perlakuan atau kebijakan tertentu tidak mencerminkan rasa keadilan yang seharusnya.

Keadilan dalam filsafat pada dasarnya adalah prinsip moral yang bertujuan memberikan hak, tanggung jawab, dan perlakuan yang setara bagi setiap individu. Namun, para filsuf besar memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai cara mencapai keadilan tersebut.

Menurut Plato, keadilan tercipta ketika setiap orang bekerja sesuai kemampuan dan perannya dalam masyarakat. Ia memandang tatanan sosial sebagai sebuah harmoni, di mana ketidakadilan muncul ketika seseorang mengambil peran yang bukan tempatnya.

Sementara itu, Aristoteles menekankan bahwa keadilan harus didasarkan pada pemberian “apa yang layak” kepada setiap orang, bukan sama rata. Artinya, mereka yang memiliki kontribusi lebih besar berhak mendapat imbalan lebih besar pula. Keadilan baginya harus mempertimbangkan proporsi, bukan sekadar kesetaraan.

Filsuf modern John Rawls menawarkan perspektif baru melalui konsep justice as fairness. Rawls menilai keadilan harus memastikan semua orang memiliki kesempatan yang sama, terutama mereka yang berasal dari kelompok kurang beruntung. Baginya, keadilan adalah ketika sistem sosial memberikan akses setara bagi semua, tanpa diskriminasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep keadilan dapat ditemui melalui berbagai contoh nyata. Program pendidikan gratis bagi anak-anak, pembagian pajak berdasarkan kemampuan ekonomi, hingga aturan fair play dalam olahraga adalah refleksi langsung dari upaya mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

Menariknya, konsep keadilan juga dapat berbeda antar budaya. Beberapa masyarakat memiliki perspektif yang lebih menekankan kepentingan kelompok dibandingkan individu. Perbedaan cara pandang inilah yang sering menimbulkan perdebatan tentang apa yang sebenarnya “adil”.

Para ahli mengingatkan bahwa memahami keadilan tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga kemampuan individu menganalisis situasi di sekitarnya. Mulai dari pembagian tugas di rumah, sekolah, hingga lingkungan kerja, keadilan dapat dilihat dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, meski pandangan tentang keadilan dapat berbeda-beda, tujuan dari semua filosofi tersebut tetap sama: menghadirkan kehidupan yang lebih seimbang, manusiawi, dan penuh rasa fairness bagi semua orang.


Red. 

(Bram)