Jejak Luhur Berbek Dari Pusat Dakwah Hingga Simbol Perubahan Sejarah Nganjuk
By
REDAKSI PUSAT
-
Friday, 5 June 2026
Masjid Kanjeng Jimat
Kisah perjalanan Berbek dari tahun 1745 hingga perpindahan ibu kota tahun 1880 adalah bukti nyata bahwa daerah ini bukan sekadar wilayah pinggiran, melainkan pondasi utama peradaban, agama, dan pemerintahan bagi Kabupaten Nganjuk. Sejarah yang kami ingin paparkan ini menyimpan pesan mendalam tentang kebijaksanaan, strategi budaya, dan dinamika kekuasaan yang sangat berharga untuk kita renungkan.
K.R.T Sosro Kusumo, Kanjeng Jimat
1. Tahun 1745–1760: Kebijaksanaan Dakwah yang Menjadi Akar Peradaban
Peran utusan bangsawan Keraton Yogyakarta yang datang pada kurun waktu 1745–1760 adalah tonggak paling mulia dalam sejarah Nganjuk. Di saat mayoritas masyarakat masih memegang teguh ajaran Hindu-Buddha, beliau tidak datang dengan cara paksa atau menghapus budaya yang ada.
Salah satu bukti paling cerdas dan luhur adalah pendirian Masjid Kanjeng Jimat (Al-Mubarok). Menggabungkan ukiran dan arsitektur corak Hindu-Jawa, serta memanfaatkan Yoni Kuno menjadi penentu waktu shalat, adalah strategi dakwah kultural yang jenius. Ini mengajarkan kita satu hal penting: Agama dan kebenaran tidak harus menghancurkan budaya lokal, tetapi justru hidup berdampingan, menyatu, dan menyempurnakan nilai-nilai luhur yang sudah ada.
Berbek pada masa itu menjadi pusat penyebaran Islam yang damai dan berkelas. Warisan ini menunjukkan bahwa akar budaya Nganjuk adalah perpaduan harmonis antara kearifan lokal dan nilai-nilai agama, yang menjadikan identitas masyarakatnya kuat, santun, dan menghargai sejarah. Sayangnya, nilai strategi penyatuan budaya ini seringkali terlupakan, padahal ini adalah jiwa asli Berbek.
2. Peran Para Bupati: Dari Gagasan Hingga Realisasi Perpindahan
Kita juga harus menilai peran para pemimpin daerah saat itu dengan objektif
- Raden Tumenggung Sumowiloyo (1875): Beliau adalah sosok yang berpandangan jauh ke depan. Mengajukan usulan pemindahan ibu kota karena alasan geografis dan keterisolasian Berbek menunjukkan bahwa beliau adalah pemimpin yang memikirkan efektivitas pelayanan rakyat dan masa depan kemajuan wilayah. Beliau sadar, meski Berbek bersejarah, kondisi alam sudah tidak lagi mendukung untuk pusat pemerintahan yang berkembang. Keberaniannya mengusulkan perubahan patut diapresiasi sebagai langkah pembangunan.
- KRT Sosrokoesoemo III (1880): Beliau adalah eksekutor sejarah yang melaksanakan amanah pemindahan tersebut. Di bawah kekuasaan kolonial Belanda, melaksanakan perpindahan besar-besaran tentu bukan hal mudah. Beliau memastikan transisi pemerintahan berjalan tertib, meski di baliknya ada kepentingan kolonial seperti yang kita bahas sebelumnya. Beliau adalah sosok yang memisahkan sejarah lama di Berbek dengan babak baru sejarah Nganjuk kota sekarang.
Kedua tokoh ini, meski berperan memindahkan pusat kekuasaan, sesungguhnya tidak menghapus Berbek. Justru karena peristiwa pemindahan itulah, nama Berbek dan sejarahnya terus dikenang hingga hari ini.
3. Makna Mendalam Warisan Berbek: Lebih dari Sekadar "Kota Lama"
Banyak orang mengira Berbek hanya sisa masa lalu setelah ibu kota pindah. Padahal, melihat peninggalan yang ada mulai dari Masjid, Kompleks Makam, hingga tata ruang Alun-Alun dan bekas Pendopo Berbek adalah "Museum Hidup" yang paling berharga bagi Nganjuk.
- Nilai Religi: Masjid dan Makam Kanjeng Jimat adalah bukti kesucian awal penyebaran Islam di sini. Tempat ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu bagaimana Islam diterima dengan damai dan menyatukan masyarakat. Menjadikannya pusat wisata religi adalah langkah sangat tepat, karena di sini tersimpan energi spiritual dan sejarah dakwah yang kuat.
- Nilai Tata Kota: Adanya tata ruang alun-alun dan bekas pendopo membuktikan bahwa Berbek dulunya adalah pusat pemerintahan yang tertata rapi, mengikuti standar tata kota keraton Jawa. Ini adalah aset sejarah arsitektur yang harus dijaga agar generasi mendatang tahu bentuk asli pusat kekuasaan Jawa tempo dulu.
- Tradisi "Boyong Hambangun Projo": Ini adalah warisan paling sakral. Upacara ini bukan sekadar peragaan ulang pindah kedudukan. Ini adalah ikrar kesetiaan masyarakat Nganjuk terhadap akar sejarahnya. Saat mereka melakukan prosesi ini, sesungguhnya mereka sedang berkata: "Walaupun pusat kota pindah ke Nganjuk, kami tidak pernah melupakan Berbek sebagai ibu kandung kami."
4. Mengembalikan Kehormatan Berbek
Dari seluruh rangkaian sejarah 1745 hingga 1880, saya berpendapat bahwa Berbek memiliki kedudukan lebih tinggi daripada sekadar daerah pinggiran. Berbek adalah Ibu Kota Peradaban Nganjuk. Di sanalah benih agama Islam ditanam dengan bijak, di sanalah tata pemerintahan Jawa dibentuk, dan dari sanalah sejarah Nganjuk bermula.
Oleh karena itu, dalam memperingati prosesi Boyong Hambangun Projo ke depannya, penekanannya harus diubah. Jangan hanya menonjolkan kemeriahan pindah ke Nganjuk, tetapi harus lebih banyak menyoroti kemegahan sejarah dan warisan luhur Berbek. Berbek harus diposisikan sebagai tujuan utama wisata sejarah dan religi, tempat di mana warga Nganjuk datang untuk "berziarah ke asal-usulnya".
Sejarah mengajarkan kita: Nganjuk kota sekarang adalah buahnya, tetapi Berbek adalah pohon dan akarnya. Jika akarnya dilupakan atau diabaikan, maka buahnya pun tidak akan tumbuh kuat. Menjaga dan memuliakan Berbek sama artinya dengan menjaga jati diri dan kehormatan seluruh masyarakat Nganjuk.