Nganjuk, Warta Global Jatim.id
1 Juni 2026 – Rangkaian kegiatan blusukan yang digelar komunitas Pemerhati Sejarah Nganjuk dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila mengungkapkan temuan menarik. Dipimpin langsung oleh Ketua Pemerhati Sejarah Nganjuk, Sugiarto yang akrab disapa Kang Ujang, rombongan menelusuri sejumlah situs sejarah di wilayah Kabupaten Nganjuk. Salah satu temuan yang paling mencuri perhatian ditemukan di Desa Banaran Kulon, Kecamatan Bagor, tepatnya di Dusun Sidokerso.
Kedatangan rombongan itu dipandu langsung oleh Kepala Desa Banaran Kulon, Luluk Endah Porwanti. Ibu Luluk kemudian mengarahkan rombongan menuju lokasi yang selama ini dijaga ketat oleh warga setempat. Di sana, tampak berdiri kokoh sebuah batu tegak atau menhir yang diperkirakan berasal dari zaman Megalitikum.
“Setiba di lokasi, kami cukup terkejut melihat kondisi batu yang masih berdiri tegak dan utuh. Ini menjadi salah satu temuan paling menarik dalam perjalanan kami kali ini,” ujar Kang Ujang.
Menurut keterangan budayawan sekaligus anggota tim, Ki Sutomo Sastro Kusumo, menhir tersebut diperkirakan berusia sekitar 600 hingga 1.000 tahun Sebelum Masehi. Bentuknya yang menyerupai tugu atau stupa, menurutnya, dulunya difungsikan oleh nenek moyang sebagai sarana penghubung dengan roh leluhur.
“Selain menhir yang menyerupai tugu, di lokasi yang sama juga ditemukan batu berbentuk mirip altar dan batu kenong. Ini semakin menguatkan dugaan bahwa tempat ini dulunya berfungsi sebagai kawasan peribadatan atau tempat pemujaan masyarakat zaman dahulu,” jelas Ki Sutomo.
Kepala Desa Luluk Endah Porwanti turut membenarkan bahwa batu-batu tersebut telah ada sejak dahulu kala dan menjadi bagian dari kehidupan warga. “Sejak dulu batu ini ada di tempatnya. Saya dan warga juga tidak berani memindahkannya. Menurut kepercayaan dan mitos yang berkembang di sini, tidak ada yang berani mengganggu atau memindahkan batu tersebut,” ungkapnya.
Melihat kondisi situs yang masih terjaga itu, Pemerhati Sejarah Nganjuk mendorong agar peninggalan berharga tersebut mendapatkan perhatian lebih. “Temuan ini harus kita jaga dan rawat dengan baik. Jika memungkinkan, sebaiknya didaftarkan ke dinas terkait agar statusnya jelas dan perlindungannya terjamin secara hukum,” tegas Kang Ujang.
Temuan ini sekaligus memperkaya jejak peninggalan zaman Megalitikum yang tersebar di Jawa Timur. Wilayah ini memang dikenal memiliki banyak situs serupa, terutama di kawasan Tapal Kuda. Sebagai perbandingan, terdapat Situs Duplang di Jember yang menyimpan ratusan batu purba berusia sekitar 1.000 tahun Sebelum Masehi, lengkap dengan dolmen dan batu kenong. Situs serupa juga banyak ditemukan di Bondowoso, yang dikenal sebagai salah satu kawasan peninggalan Megalitikum terbesar di Jawa Timur.
Dengan adanya temuan baru di Nganjuk ini, semakin terbukti bahwa akar budaya dan nilai luhur bangsa telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini sejalan dengan semangat peringatan Hari Lahir Pancasila, di mana nilai saling menghormati, kebersamaan, dan kearifan lokal telah hidup sejak zaman nenek moyang.(Tomo)


.jpg)